Beberapa hari lalu, artikel saya yang berjudul ‘Ketika Anak Sulit Disapih’ di-posting di urbanmama. Yeey, senang bisa berbagi pengalaman ke lingkup mama-mama yang lebih luas. Tulisan kali ini masih ada hubungannya dengan tantangan ketika menyapih Rayan.

Garis besarnya, kalau di artikel ‘Ketika Anak Sulit Disapih’ lebih meng-highlight kekhawatiran saya akan pola menyusu Rayan yang terus-terusan, dikit-dikit nyusu. Hal ini membuat saya lelah dan sulit menyapih Rayan, bahkan dokter mengatakan kalau Rayan bayi yang ‘sakau nenen’. Tentu saja ini hanya bercanda, kata ‘sakau’ sendiri lebih sering kita dengar sebagai sebutan untuk orang yang kecanduan mengonsumsi obat-obat terlarang.

‘Sakau nenen’ tersebut, yang maksudnya lebih ke kondisi dimana bayi sulit lepas dari menyusu. Ini ditandai dengan sedikit-sedikit minta menyusu, bahkan saat tidak ada apa-apa pun bayi juga meminta menyusu ke ibunya.

Detail-nya tentang ‘sakau nenen’ baca disini ya
Kalau di artikel ini, saya ingin lebih menceritakan dibalik layar menyapih Rayan. Apa saja hambatannya dan bagaimana saya bisa melaluinya.

Sebelum bisa leha-leha seperti sekarang ini, ada beberapa tantangan yang saya lalui saat menyapih Rayan dan ini cukup menguras energi dan emosi.

Sebenernya saran dokter untuk memberikan jadwal menyusu nggak terlalu serius saya lakukan, karena cukup sulit dengan keadaan Rayan yang selalu berada dekat saya. Sekali-sekali saja saya lakukan kalau ada kesempatan. Jadi, saya memberhentikan Rayan menyusu dengan cara yang cukup ekstrim.

Untungnya suami dan ibu mertua membantu, padahal sebenarnya saya juga masih belum tega menyapih Rayan. Terkadang suka terbawa emosi, kalau Rayan sudah berhenti nyusu nanti siapa lagi yang akan membutuhkan saya? apa akan memutuskan keintiman ibu dan anak?
Dan jawabannya sudah pasti, cepat atau lambat anak memang harus disapih.

Baca juga  Makanan yang dapat memperlancar ASI

The First is always the hardest

Saya masih ingat hari pertama saya menyapih Rayan, tanggal 28 Juni 2017, beberapa hari setelah lebaran. Saat itu kami sedang mudik, jadi lumayan terbantu dengan adanya mertua dan saudara-saudara yang bersedia jagain Rayan ketika ia mulai ‘sakau nenen’.

Saat itu, saya meninggalkan Rayan di rumah bersama Ibu mertua, sementara saya dan suami pergi nonton bioskop ke Magelang kota (nge-date ceritanya, hehe). Ninggalin anak sama keluarga memang lebih tenang ketimbang sama orang lain.

Hanya saja beberapa jam setelahnya, payudara saya mulai sakit dan membengkak.

Sakit dan bengkaknya persis seperti hari pertama ketika Rayan lahir, saat itu suster langsung mengambil Rayan yang sedang ada di ruang bayi untuk nyusu dari payudara saya, biar sakit dan bengkaknya berkurang.

Sepulang dari Magelang, saya cuma bisa berbaring karena mau ngapa-ngapain nggak nyaman. Terbesit jalan keluar satu-satunya untuk mengurangi bengkak dan sakit di payudara, yaitu menyusui Rayan, seperti saat dia lahir. Tapi Ibu mertua melarang, katanya, memang gitu, nanti juga nggak sakit lagi.

HAH!! Mana bisa begitu, trus harus gimanain? kapan sakit dan bengkaknya hilang kalau didiamkan saja tanpa ada solusi, batin saya kesal.

Semalaman saya gelisah, nggak bisa tidur, padahal sudah dilap air dingin dan blue ice yang konon katanya bisa meredakan bengkak. Baju saya sudah basah, karena ASI-nya merembes keluar. Ingin rasanya diam-diam menyusui Rayan biar nggak sakit lagi.
Keesokan harinya karena sudah nggak tahan, akhirnya saya pompa ASI-nya, lumayan keluar banyak, dan sangat berhasil mengurangi rasa sakit dan bengkak.

Namun, cara ini tidak terlalu disarankan buat ibu-ibu yang mau memberhentikan anaknya menyusui, karena dengan memompa ASI, itu membuat payudara kita kembali bekerja untuk memproduksi ASI. Jadi, gimana dong? ya seperti kata ibu mertua saya, didemin aja. Nahlo? kok? memang awalnya sakit, tapi pelan-pelan berkurang.

Baca juga  Coba Lakukan Hal Ini Saat Galau
Hari ke-2, saya masih ragu-ragu, beberapa kali memastikan ke diri sendiri “Serius nih? mulai saat ini dan selamanya saya nggak akan menyusui Rayan lagi?”.

Untung ada ibu mertua dan ipar yang ngajakin Rayan main dan cukup mengalihkan Rayan dari saya, jadi saya hanya perlu fokus pada proses pemulihan diri sendiri.

Malam hari sering kali Rayan ndusel-ndusel payudara saya karena pingin nyusu, tapi nggak saya kasih. Kemudian saya beri brotowali.dan Rayan langusung nggak mau nyusu. Beberapa kali cuma liat-liat payudara saya, lalu saat ditawari dia hanya tersenyum, haha, lucu deh, antara mau dan nggak mau karena rasanya pahit.

Beberapa hari payudara saya masih sakit, tapi hanya saya peras kalau sudah nggak tahan saja.

Tanggal 30 Juni untuk pertama kalinya saya meninggalkan Rayan cukup lama, yaitu ke Yogya selama 3 hari, sementara Rayan di Magelang bersama mertua. Ada rasa khawatir, tapi lebih banyak rindunya. Saat itu saya sudah membawa ‘senjata’ alias pompa ASI, jaga-jaga bilamana saat di Yogya payudara saya terasa sakit.

Masih sedikit sakit dan membengkak sih, tapi masih bisa saya atasi tanpa harus memompa, cukup ditahan dan diajak happy-happy biar lupa.

Antara Magelang dan Jakarta. Sejenak memisahkan diri dari Rayan.

Setelah libur lebaran di Magelang, tiba saatnya saya harus kembali ke Jakarta. Pekerjaan suami juga sudah menunggu.

Tapi saya kembali dilema karena ibu mertua saya menawari agar Rayan di tinggal dulu di Magelang, selama masih dalam proses menyapih. Waduhh!! Piye yo…

Meskipun sebagai ibu baru kadang saya mengidam-idamkan kebebasan, atau me time tanpa diribetin soal anak. Akan tetapi, untuk meninggalkan anak di kampung halaman yang jaraknya jauh, masih nggak terpikirkan. Apalagi saya juga belum memutuskan untuk kembali bekerja. Mungkin buat ibu-ibu bekerja di kantor, waktu akan tidak terasa ketika meninggalkan anak, karena ada pekerjaan yang diurusi. Nah, kalau saya?? .

Baca juga  Infused Water, Tips & Cara Baru Menikmati Segarnya Air Putih
Benar saja, setelah memutuskan untuk ninggalin Rayan di kampung halaman bersama ibu mertua, hari-hari terasa sedikit aneh. Rasanya kebebasan ini terlalu berlebihan, hahaha.

Tapi ada enaknya juga, akhirnya saya memanfaatkan hari bebas saya dengan baca buku-buku yang belum saya sempat baca dan menulis.

Ohya, saat itu payudara saya sudah membaik, masih terasa ngilu sedikit karena masih memproduksi ASI, baju juga sempat basah, tapi sudah tidak saya pompa lagi. Kalau lagi sakit banget saya bawa istirahat dan kompres dengan air dingin.

Setelah seminggu nggak ketemu Rayan, rasanya kangeeeen!!!

Rayan perlahan sudah mulai lupa nyusu, meski kadang suka memandang ke arah ‘susu’ nya dulu, hehe makannya tambah banyak, susu UHT mau walaupun nggak sampai habis.

Sekarang sudah 3 bulan lebih Rayan lepas dari ASI. Segalanya sudah jauh lebih mudah buat saya. Minum susu UHT-nya juara, dalam seminggu bisa habis 1 kardus susu UHT (susu formula tetap belum mau, entah kenapa). Bapaknya harus nge-budget-in buat beli susu tiap bulannya.

Walaupun sudah tidak menyusui, tetapi saya merasa transfer ‘energi’ tidak akan terputus. Rayan tentunya bisa merasakan kasih sayang dari kami yang tak terhingga.

Semoga sharing ini bisa membantu buibu yang baru mau atau sedang menyapih anak ya. Atau barangkali buibu punya cerita sendiri ketika menyapih anak?? Monggo loh di-share.

Selamat Arrayan Edi Sarwono atas gelar Sarjana ASI. Yeeeey.