Waktu menerima undangan event peluncuran youtube channel ‘POJOK Shahnaz’, awalnya saya sudah pesimis tidak akan datang, takutnya dokter memberikan pemeriksaan lagi pada mama yang jadwalnya kerapkali belum bisa dipastikan. Semoga saja hari itu tidak bertepatan dengan antar mama ke dokter. (PS : Selang 4 hari setelah menghadiri event Pojok Shahnaz, mama saya meninggal dunia)

Memang sudah hampir sebulan lebih pikiran saya nggak bisa berpaling dari meratapi keadaan mama, berminggu-minggu dari senin hingga jumat saya bolak-balik rumah sakit untuk memeriksakan apa sebenarnya penyakit mama. Dengan keadaan mama yang tak kunjung membaik ditambah mengurus rumah tangga dan anak, membuat saya semakin tidak peduli dengan diri saya dan kepentingan pribadi, banyak hal yang saya kesampingkan. Di satu sisi, saya  merasa bahwa menjadi anak baik dengan sepenuhnya mengurusi mama dan anak saja sudah cukup membuat diri saya bermanfaat buat orang sekeliling saya.  Beberapa job me-review saya hiraukan karena segala tentang mama dan aktivitas rumah tangga cukup menguras energi dan pikiran.

Namun, hal itu tidak membuat perasaan saya menjadi lebih baik, saya memikirkan hobi-hobi saya, yaitu menulis, membaca, nge-ngeblog, dan segala aktivitas yang membuat saya lebih produktif juga berarti. Bukan kah saya juga berhak melakukan sesuatu  yang saya inginkan?

Dan akhirnya saya datang ke ‘POJOK Shahnaz’

Dengan menghadiri event ‘POJOK Shahnaz saya berharap supaya bisa sedikit menyelipkan hobi-hobi saya, ditengah aktivitas rumah tangga dan mengurus mama, agar saya peduli dengan diri saya sendiri, agar dapat mengembalikan semangat menulis yang sempat kendor.

Diluar dari alasan-alasan tersebut, saya sangat terkesan dan beruntung karena dapat menghadiri event ini. Banyak sekali hal menginspirasi dari seorang Shahnaz Haque dan para pembicara lainnya seperti Ainun Chomsum (Praktisi Komunikasi Digital / Founder Akademi Berbagi), Angkie Yudistia (Difabel Social Entrepreneur) dan Imam Prasodjo (Sosiolog).

POJOK Shahnaz

Tentang POJOK Shahnaz

Setelah selama 2 dekade berkarir di dunia pertelevisian, radio dan off-air sebagai pembawa acara, Shahnaz Haque memperoleh banyak sekali pengalaman dan cerita inspiratif dari lingkungannya, “Bertemu dengan banyak perempuan hebat di pelosok Nusantara memberikan saya pengalaman dan energy positif tersendiri. Walaupun perempuan identik dengan sosok yang lemah dan sensitif, namun daya juang dan semangat mereka sangat besar untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sayang rasanya jika apa yang saya dapatkan hanya diteruskan kepada ketiga puteri kami tanpa diketahui oleh perempuan Indonesia lainnya” ujar Shahnaz Haque.

Bertepatan dengan ulang tahun yang ke-44, dengan penuh rasa syukur atas kehidupannya ia mempersembahkan sebuah ruang digital ‘POJOK Shahnaz’ untuk perempuan Indonesia.

Baca juga  Belajar Parenting : Sebuah Proses Trial and Error Hingga Harus Tega Dalam Mengasuh Anak

POJOK Shahnaz bercerita tentang berbagai hal inspiratif terkait dengan dunia perempuan, seperti keluarga, anak, parenting, relationship, kesehatan, kecantikan, resep makanan, juga kehidupan sosial lainnya yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dirinya.

Fakta tentang POJOK Shahnaz

Istri dari musisi Gilang Ramadhan ini bercerita bahwa POJOK Shahnaz merupakan hadiah ulang tahun dari suaminya. Waah..soo sweet yaa!! Sama dong kayak saya, blog saya juga hadiah dari suami, awalnya biar saya punya mainan lain kalau lagi buntu sama kerjaan kantor, trus supaya biar saya kembali menulis lagi. Eh malah keterusan jadi blogger. 😀 Syukuri saja

Selain saya dan Ibu Shahnaz, rupanya banyak perempuan-perempuan Indonesia lainnya yang beruntung karena memiliki suami yang senantiasa mensupport dan terlibat dalam segala langkah istrinya. Meskipun nggak sedikit yang bilang bekerja dengan suami itu banyak hambatannya, bahkan bisa sampai nggak ada ada batas antara ruang kerja dan ranjang saat membicarakan bisnis, tapi hal tersebut tidak mengurungkan niat saya untuk saling melibatkan diri satu sama lain.

Shahnaz Haque dan suami, Gilang Ramadhan

Shahnaz Haque dan suami, Gilang Ramadhan

Ada cerita lain juga dibalik dibuatnya POJOK Shahnaz. Sosok Alm. Ramadhan K.H. (bapak mertua Shahnaz Haque) merupakan orang yang mendorong Shahnaz untuk senantiasa membagikan pengalaman dan ilmunya kepada masyarakat luas. Waktu bapak mertuanya masih hidup, beliau berpesan “Lakukan sesuatu sebelum kamu meninggal. Asas manfaat selama kamu hidup harus kamu bagikan sebagai warisan”.

Saya pribadi sangat terharu mendengar cerita Ibu Shahnaz, betul sekali sharing tentang ‘asas manfaat’ yang harus kita bagikan selama kita hidup dan menjadi warisan anak cucu, bahkan masyarakat luas ketika kita meninggalkan dunia kelak. Mungkin melalui blog ini saya bisa berbagi sedikit tentang pengalaman dan kehidupan saya, tentang nilai-nilai dan norma yang saya yakini semasa saya hidup. Saya suka senyum-senyum sendiri kalau membayangkan beberapa tahun lagi, 15-20 lagi, anak-anak saya akan membaca blog ibunya, hihihi, mereka bakal comment apa ya??

“Tidak ada cerita yang tidak menarik untuk diceritakan. Setiap orang adalah guru yang baik untuk kita”. – Shahnaz Haque

Melalui channel Youtube-nya ‘POJOK Shahnaz’, Shahnaz akan membagikan cerita yang menarik dan inspiratif tentang orang-orang di sekitar kita, bahwa kita dapat belajar dari siapa saja. Seperti salah satunya video tentang Melinda Tanan, seorang yang pernah menderita Anoreksia. Sempat hidup lagi setelah memalui flatliners, membuat Melinda Tanan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan dalam hidupnya. Kini Melinda menjadi perempuan inspiratif dengan talenta melukis yang luar biasa.

Baca juga  Membaca Potensi Diri Melalui Sidik Jari

Perempuan dan Teknologi

Saya berterimakasih, teknologi memberikan akses bagi setiap orang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain, teknologi membuat saya bisa bersilaturahmi dengan teman dan saudara melalui social media. Selain memiliki penyebaran informasi yang cepat dan efisien, internet juga menciptakan peluang bagi perempuan, bagi para ibu.

Namun, nggak sedikit juga perempuan yang belum memiliki akses dengan teknologi dan media, khususnya internet. Hal tersebut menjadi kegelisahan Mbak Ainun Chomsum. Mbak Ainun berharap kedepannya semakin banyak perempuan yang dapat menggunakan teknologi dengan baik, menggunakan teknologi untuk menambah ilmu dan wawasan. Melalui internet setiap orang dapat berbagi cerita, inspirasi dan pengalamannya kepada warga dunia, salah satunya adalah channel youtube ‘POJOK Shahnaz’. Selain mengangkat konten menarik dan inspiratif seputar perempuan, kehadiran pojok Shahnaz adalah bagian dari cara Shahnaz memberdayakan sesama perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut sejalan dengan perkataan terakhir dari Sosiolog, Imam Prasodjo, tentang perempuan berjejaring – Perempuan berjejaring memiliki kekuatan yang sangat besar, yang mempu menggerakan dan mengubah keadaan.

Channel Youtube Pojok Shahnaz

Channel Youtube Pojok Shahnaz

Dampak teknologi khususnya internet memang sangat besar, kini orang-orang dapat melakukan pekerjaannya secara mobile, membuat saya dapat bekerja dimana saja, di rumah misalnya. Namun sebagai seorang ibu, mengenalkan teknologi kepada anak dapat menjadi kekhawatiran tersendiri jika anak tidak didampingi. Hal tersebut juga dirasakan oleh Ainun Chomsum, founder dari Akademi Berbagi ini mengemukakan kekhawatirannya menjadi ibu-ibu di zaman sekarang. Meskipun pekerjaannya berhubungan dengan social media dimana tidak bisa lepas dari teknologi, tapi Ainun juga khawatir jika penggunaan teknologi tidak dipahami dengan benar oleh anaknya.

Terlebih ketika sang anak mengadu pada gurunya bahwa pekerjaan ibu-nya sehari-hari adalah main facebook. Hihihi. Sang guru langsung mengklarifikasi dan menasihati mbak Ainun agar tidak menambah kasus-kasus ‘anak terlantar karena orang tua asik bermain facebook’. Saya jadi ngebayangin raut muka mbak Ainun waktu dinasihati oleh guru sekolah anaknya, sabar ya mbak!! Satu hal yang guru tersebut tidak tau adalah social media merupakan lahan kerja mbak Ainun. Puk, puk, puk. Saya berdoa suatu saat pekerjaan seperti ini bisa dimengerti oleh masyarakat luas. Amiinn.

“Jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, menjadi ibu yang sedang mendidik anaknya itu merupakan proses trial and error dengan resiko yang luar biasa”.-  Ainun Chomsum.

Quote dari mbak Ainum begitu merasuk dalam hati saya, sebelumnya saya pernah menulis dalam ‘Mendidik dan Membesarkan Anak : Sebuah Amanah’, menjadi orang tua itu bukan perkara meneruskan keturunan dan ngasih makan itu anak aja, tapi ada amanah yang lebih besar dari Tuhan, yaitu mendidik anak hingga ia dapat menjadi ‘seseorang’ kelak, menjadi yang bermanfaat dan berbudi. Kita sebagai orang tua memang ingin melakukan apapun demi kebaikan sang anak, namun orang tua juga bukan manusia sempurna, parents make mistakes, too.  Jadi, benar sekali mendidik ada itu merupakan proses trial and error dengan resiko yang luar biasa.

Baca juga  Mad Max : Fury Road : When the World Needs Hope

Bangkit dalam Keterbatasan

Kisah Inspiratif lainnya datang dari Angkie Yudistia, seorang difabel dan social entrepreneur dengan semangat juang yang tinggi. Banyak kisah inspiratif yang saya ambil dari seorang Angkie Yudistira bahwa menjadi berbeda itu kadang tidak mudah, baik buat diri sendiri maupun orang sekitar. Semenjak kehilangan pendengaran karena kesalahan obat, Angkie sempat menjadi tidak percaya diri sehingga ia melewati masa remaja yang kurang menyenangkan. Sang ibu selalu tabah dan mendukung Angkie, namun melihat kondisi Angkie kadang juga membuat sang ibu sedih dan sensitif.

“Tak bisa dipungkiri bahwa punya anak difabel itu membuat orang menjadi sensitif sekali, bawaannya kesal dan pingin marah karena tau bahwa kita berbeda” jelas Angkie. Menurut saya pernyataan tersebut ada benarnya, karena itu juga terjadi pada saya, namun dengan kasus yang berbeda, yaitu merawat orang sakit. Penyakit Tumor Tulang yang diderita mama ditambah dengan kecelakaan kecil patah tulang membuat badan dan hati mama rapuh, sama rapuhnya dengan hati saya. Sebagai orang yang setiap hari merawat dan berada di dekat mama, saya sedih, kadang saya marah dan menjadi sensitif melihat kondisi mama yang berbeda dengan orangtua lainnya. Untuk menjadi lebih sabar dan ikhlas pun ada prosesnya.

Meskipun berbeda, Angkie bangkit melampaui keterbatasannya, ia memilih untuk berdamai dan bersahabat dengan  diri sendiri. Keterbatasannya tak lagi menjadikannya penghalang untuk meraih impiannya, bahkan kini ia mampu merangkul lebih banyak orang-orang difabel seperti dirinya untuk terus berkarya dengan mandiri dan percaya diri. Angkie berharap berkembangnya era digital dan hadirnya POJOK Shahnaz dapat menggandeng teman-teman difabel dengan memberikan informasi dan edukasi untuk terus berkarya, juga merangkul komunitas difabel agar bisa mandiri serta memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat.

 

Hehehe Kesampaian juga foto sama Mak Mira Sahid (Founder Kumpulan Emak Blogger - KEB), Mbak Angkie Yudistia (Difabel Social Entrepreneur) dan Mbak Indah Julianti (KEB)

Hehehe Kesampaian juga foto sama Mak Mira Sahid (Founder Kumpulan Emak Blogger – KEB), Mbak Angkie Yudistira dan Mbak Indah Julianti (KEB)

Something sweet and tiny from Wyl's Kitchen caught my eye :)

Something sweet and tiny from Wyl’s Kitchen caught my eye 🙂