Ya Allah, Ya Rabb
Apa yang terjadi dengan negeriku akhir-akhir ini??
Ini sangat mengelisahkan, tapi saya binggung bagaimana harus melukiskan kegelisahan ini???

Baiklah…

Saya awali dengan kekhawatiran seorang ibu terhadap anaknya.
Saya pandangi anak saya yang masih balita.
Saya peluk dia, seraya batin ini berkata dan mendoakan semoga kelak kamu menjadi anak yang kuat, bijaksana, baik akal budi dan segala doa ibu yang terbaik untuk anaknya.

Ada rasa khawatir yang amat sangat.
Bukan soal tubuhnya, saya yakin ia tumbuh menjadi anak yang sehat.
Bukan soal IQ, saya yakin tumbuh kembangnya baik, dan hidup bukan melulu soal IQ, ada yang lebih penting dari IQ.
Bukan juga karena menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana persaingan semakin ketat, saya yakin bersamaan dengan semakin banyaknya persaingan, peluang pun semakin terbuka lebar.

Kekhawatiran saya lebih ke arah kemanusiaan dan keberagaman yang kian meluntur.
Saya khawatir dengan Indonesia yang semakin mengkotak-kotakan. Mengkotakan seseorang berdasarkan agama, ras, etnis, warna kulit, dll. Saya takut dengan keadaan Indonesia yang tidak mau menerima perbedaan.

Ibu pertiwi pun pasti menangis melihat anaknya terpecah-pecah begini.
Katanya Indonesia berbeda-beda tapi satu? Katanya united in diversity? Tapi kenapa fakir toleransi?
Sebernernya ini topik yang sensitif, saya hati-hati sekali setiap kali membahas topik ini karena saya nggak mau cari perkara dan ingin berkawan dengan siapa saja. Hanya saja, saya mulai gerah, dan saya tidak mampu menampung lebih banyak lagi kegelisahan ini, akhirnya saya putuskan untuk menuangkannya pelan-pelan.

I’m not into politics that much, but I can see and I can feel it. Ada ketegangan diantara anak-anak ibu pertiwi. Hal ini kian memanas sejak awal-awal pilkada silam.
Saling caci maki, saling unfriend, saling merasa benar sendiri, dan lanjutkan sendiri.

Bunga Tanda Cinta. Foto : avalonproject.org

Nak, ibu prihatin nak.
Ibu ingin mendidik kamu sebaik-baiknya. Ibu ingin kamu mendapatkan pendidikan yang baik, ibu ingin kamu tumbuh penuh cinta kasih dan dijauhi dari penyakit hati (iri, dengki), juga penuh toleransi. Tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan berbudi pekerti, mencintai keberagaman.

Ibu ingin kamu mendapati Islam yang lembut dan penuh cinta kasih, Islam yang membawa kedamaian. Bukan Islam yang keras, anarkis, untoleran dan menjelekan satu sama lain.

Kita hidup di Indonesia, dimana keberagaman tercipta. Kebhinekaan terjaga. Berbeda-beda tetap satu. Bukan memecahbelah.

Kalau mencintai Islam ditandai dengan memusuhi Ahok, sepertinya ada yang salah. Kalau mencintai Islam ditandai dengan ketidakberpihakan kepada Ahok, sepertinya ada yang tidak enak dihati. Kalau kekalahan Ahok adalah kemenangan muslim, itu apalagi, tidak seperti itu harusnya.
Kalau pun saya tidak memilih Ahok, itu bukan karena ia non muslim / cina / apapun itu. Bukan karena agama, suku atau ras-nya.
Akhirnya saya mulai sebut nama juga, mulai ke inti dari kegelisahan saya.
Sorry to say, nyatanya isu SARA lah yang memecahbelah kita.

Baca juga  Berbuat Baik Itu Investasi

Waktu Ahok kalah jadi gubernur, malam hari saya menangis. Saya nggak mengerti kenapa saya segitu bapernya. Suami saya mendapati saya menangis, saya bilang saja, mata saya pedih soalnya dari tadi online. Padahal diri ini penuh kekhawatiran. Jujur, saya langsung kepikiran masa depan anak saya. (Kalau suami saya baca ini, berarti ia tau alasannya kenapa saya menangis malam itu)

Kenapa???? Ini bukan masalah bela Ahok, ini masalah menjaga kebhinekaan, menjaga persatuan dan keberagaman. Maafkan kami ibu pertiwi, maafkan kami.

– Postingan Ligwina Hananto : Anak Gus Dur dikatain masuk neraka karena bela kafir. Selamat datang Indonesia baru.
– Postingan #NO2ISIS : Selamat buat warga Jakarta yang memiliki Gubernur baru. Kita harus siap kalah. Legowo ya. Ternyata jual SARA masih berlaku di Jakarta
– Tirto.co.id : Syafii Maarif :Sikap intoleran sudah sangat mengkhawatirkan.

Hancur hati saya berkeping-keping.
Kedepannya akan semakin sulit mengajarkan keberagaman kepada anak cucu kita. Sedih rasanya.

Masih ingat dengan peristiwa 212, dimana jutaan umat muslim memadati monas dan sekitarnya?? Itu pemandangan yang indah loh, subhanallah, saya tidak pungkiri itu, tapi sangat disayangkan kalau bersatunya umat muslim itu di premiskan dengan kekalahannya Ahok. Jangan lah begitu.

Bagi saya kekalahan Ahok bukanlah kemenangan umat muslim, justru kekalahan kebhinekaan. #RIPkeberagaman
Saya sangat lega bisa mengatakan ini, bisa menuangkan kegelisahan saya.

Saya cinta Islam, cinta Al-Quran. Tujuan umat muslim hidup apa lagi kalau bukan mengamalkan kebaikan ajaran dari Al-Quran.
Tapi rasanya kurang baik aja kalau kita memusuhi bahkan mengkafirkan orang karena ia berbeda. Kita kan harus mencintai sesama umat manusia, binatang, alam, pokoknya mencintai dan menghormati sebanyak-banyaknya.

Kalau boleh flashback dikit…
Ahok memang sangat apes ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya. Banyak orang yang memahami, mungkin maksudnya ‘menjual agama demi memperoleh keuntungan’. Tapi banyak juga yang tidak mentolerir karena sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Ahok dianggap sudah merepresentasi bentuk penistaan agama dan diartikan oleh sebagian orang tidak secara menyeluruh.

Nasi sudah menjadi bubur, saya meyakini Al-Quran, Ahok memang salah berucap. Tapi kan dia sudah minta maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam, kita pasti sama-sama bisa melihat iktikat baiknya. Dan pasti kita juga sama-sama paham, kalau agama memang sering kali dijadikan cara buat memperoleh keuntungan sesaat bukan?? Misalnya aja “beli ini bisa masuk surga”, atau “kalau Anda muslim harus pilih ini”.

Dalam menilai sesuatu, kita kan juga perlu lihat konteks dan latar belakangnya, nggak asal telen. Di kuliah aja kita diajarin Metode Analisis Wacana Kritis, itu tandanya sebuah ‘teks’ yang kita lihat, dengar dan baca jangan diartikan secara mentah-mentah dong.

Kesian loh para founding father kita udah capek-capek mikir Pancasila sebagai pemersatu, ini malah dihancurin pakai isu SARA. Jangan lahh.

Baca juga  Kampanye Kebaikan dan Iklan yang menginspirasi

Dari kecil, saya tumbuh dengan rasa toleransi yang cukup tinggi.
Saya hidup ditengah keberagaman.
Memaklumi dan mengalah bukan berarti kalah, kadang saya hanya tak ingin memberi ego celah.

Keluarga kami Islam yang nggak macem-macem, Ibu angkat saya keturunan cina, mbak saya kristen, kakak tiri saya anak pengajian, teman-teman saya berasal dari suku, etnis dan agama. Bahkan teman dekat saya keturunan cina dan beragama katholik, lalu kenapa?
Saya boleh berbangga karena saya kuliah di salah satu universitas paling damai dan paling Indonesia yang saya ketahui, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), kampus kami bahkan disebut kampus Indonesia Mini.
Oleh karenanya, saya merasa punya rasa toleransi saya cukup tinggi, walau kadang ada beberapa hal yang tidak sepaham/beda keyakinan, tapi saya sangat menghormati mereka.

Karena saya tumbuh di lingkungan yang beragam, jadi kalau saya menemui orang yang nggak ada rasa toleransinya tuh suka geregetan, kenapa siiih???? kalau ketemu orang yang beda sedikit musuhi/di blacklist, beda paham sedikit di kerasi, kenapa sih nggak bisa respect sedikit, nggak bisa toleransi sedikit apa???

Ini tuh Indonesia, beragam tapi satu.

Dengan dipenjarakannya Ahok selama 2 tahun, saya jadi sedih. Dia tuh udah minta maaf loh atas kesalahannya dia berucap, segitu keraskah hati kita???? hati umat muslim Indonesia???

Kalau Ahok dipenjara gara-gara menghina agama Islam padahal sudah meminta maaf dan berani datang ke pengadilan, berarti Habib Riziq juga harus dipenjara lah, banyak yang melaporkan dia mulai dari dugaan melecehkan agama lain, pancasila, dan mehina profesi, nggak minta maaf pula. Emang muslim yang baik begitu???

Coba kalian nilai, bagaimana sifat orang yang bisa melontarkan kalimat ini dari mulutnya “Menurut Saya Menghina Agama Lain Selain Islam Sah-Sah Saja.” kata Habib Rizieq. (sumber : http://macroberita.blogspot.co.id) Whaaaaattt?? orang macam apa ini? maunya enak sendiri. Ini nih benih-benih SARA, benih-benih perpecahan. Kalimat ini tuh macam, “Kalian boleh menghina Ibu orang lain, asal jangan Ibu saya”. Astafirullah.
Kita umat muslim sedari kecil memang meyakini bahwa Islam adalah agama yang di ridhai Allah, tapi kebenaran yang kita yakini, jangan dijadikan alasan untuk kita tidak menghormatin kebenaran yang diyakini orang lain.

Kalau mau dihormati ya hormati orang lain.
Kalau nggak mau dijahatin, ya jangan jahatin orang lain.
Kalau mau disayang, ya sayangilah orang lain.
Itu rumus hidup paling paling sederhana kok.

Kalau sudah seperti itu kan kasihan Ibu Pertiwi melihat anak-anaknya terpecah belah, kasihan para founding father dan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan kita. Kalah sama isu SARA.

Seorang guru pernah berkata, “Toleransi itu ada ketika lingkungan dengan mayoritas tertentu mau dipimpin oleh yang minoritas”, kalau kita belum apa-apa aja udah suuzon dijajah sama yang minoritas, suuzon takut dipengaruhi, emang sedangkal itu ya keimanan kita??? Gara-gara milih gubenurnya Kristen, nanti ikut masuk Kristen, sedangkal itu??

Baca juga  Membaca Potensi Diri Melalui Sidik Jari

Pokoknya gubernurnya harus sama etnisnya, sama sukunya, sama agamanya, performance-nya tidak diperhitungkan, baktinya pada negeri tidak diperhitungkan, hasil pekerjaannya selama ini yang baik tidak dipertimbangkan, sedangkal itu kah? Se-kalah itu kah kita sama isu SARA??

– Postingan Jeremy Sianipar replying to @missciccone : welcome to Indonesia ka, dimana pemilihan gubenur (pemerintahan) disamakan dengan pemilihan surga atau neraka (agama). Sangat kecewa.
– Postingan Uus : Pak @basuki_btp aku sayang sama bapak. Surat Terakhir dalam kitabku adalah An-Nas. Umat Manusia. Bukan segolongan umat. Stay Strong Pak.
– Postingan IG : @ainunchomsun : Ini juga bukan soal cinta buta pada Ahok semata, tapi kekhawatiran yang nyata dampak atas putusan pengadilan dalam bermasyarakat yang plural ini.

Dulu saya kuliah di Universitas Kristen, sering mendengarkan lagu nasrani kalau teman saya putar dari kamar sebelah, atau dari balairung kampus. Saya bahkan punya lagu nasrani favorit berjudul Esok Kan Ku Jelang yang dinyayikan oleh GMB, lalu apa lantas saya berubah jadi nasrani??? keimanan saya tidak sedangkal itu.

Justru saat mendengar lagu itu saya membayangkan nikmat Allah S.W.T yang sangat berlimpah kepada umatnya. Setiap kali saya mendengar lagu ini, badan saya merinding, ada rasa damai, rasa aman karena Allah selalu menyertai, rasanya saya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Sekali lagi, muslim Indonesia bukan menang karena Ahok kalah. Justru kekalahan bagi keberagaman. #RIPkeberagaman #RIPToleransi #RIPkebhinekaan

Sekali lagi, ini bukan masalah saya mendukung siapa, ini masalah masa depan Indonesia, masa depan anak cucu kita. Apa mau generasi selanjutnya hidup dengan sikap apatis, intoleran, dan rasis??? sedih hati ibu, nak.

Saya nggak mau jadi orang yang skeptis, toh pada akhirnya kita harus move on dengan pemimpin yang baru. Saya tetap menaruh harapan dengan pemimpin yang sekarang, semoga bisa membawa perdamaian dan membangun Jakarta jadi lebih baik lagi.

Semoga anak-anak kita tidak dicekoki ajaran aneh-aneh di sekolah, ajaran yang mengkotak-kotakan, ajaran yang tidak mengindahkan keberagaman.

Dulu waktu masih sekolah, ini yang diajari guru kepada murid-murid. Keberagaman. Foto : markijar.com

 

Semoga suatu saat saya bisa melihat di tv, FPI (front pembela islam) dan ormas-ormasnya bersama masyarakat luas dengan bermacam-macam suku, agama dan ras merayakan hari Pancasila bersama di Monas. Merayakan keberagaman. Celebrate diversity.

Semoga umur saya panjang, karena saya ingin melihat wajah-wajah masyarakat Indonesia yang mencintai keberagaman lagi, yang jauh dari permusuhan.

Sekian.

Salam damai untukmu saudara-saudaraku.
I stand for diversity.

Untuk anakku
Kelak jadilah pribadi yang bijaksana, tetaplah berkawan dengan siapapun.
Mau agamanya Islam, kristen, Katholik, Hindu, Budha, mata sipit, mata belo, hidung macung, hidung pesek, kulit terang, kulit gelap, rambut kriting, rambut lurus, botak, berjilbab, orang Jawa, Papua, Bali, Sunda, siapapun itu.
Tetaplah berbuat baik dan menghormati satu sama lain.