Hai kaum adam…pernah coba cari tau nggak kenapa mostly perempuan itu kalau belanja lama? udah lama trus muter-muter? bikin cowo bete setiap nemenin cewe-nya belanja.

Selain memang udah dari sananya, mereka tuh ogah rugi. Perempuan tuh nggak malu buat nanya dari satu toko ke toko lainnya mengenai harga dan detail barang yang akan dibeli supaya bisa dapetin yang terbaik dan murah. Karena ‘sakitnya tuh disini’ kalau abang-abang penjualnya tenyata ngeboongin dan kita taunya belakangan. *tarik napas

Lama nggak update blog, sekalinya nulis langsung curcol, hahaha. ah,

Sebenarnya saya bukan tipe perempuan yang saya ceritakan diatas, eh, nggak juga deng, mungkin 30-40% saja, saya paling lama belanja kalau lagi milih-milih model yang sreg. Kalau masalah harga, saya mah cincay. Saya mengerti penjual juga butuh untung buat nafkahin anak bini-nya, jadi saya nggak tega kalau nawar sampai gila-gilaan. Untuk barang-barang yang saya kurang paham harga pasarannya, saya lebih memilih belanja di tempat yang pasti-pasti aja, misalnya di supermarket, atau gerai resminya, lantaran saya malas tawar menawar.

Point-nya adalah saya abis kecolongan, huhuhu

Habis dibohongi sama abang penjual, dan selisihnya lumayan besar, sekitar 500k, kemudian saya kesal. Sekarang sih udah nggak terlalu kesal. Empat hari yang lalu kesal-nya masih menjadi-jadi. Begitu lihat barangnya bertengger di rumah, saya langsung kesal sendiri, sebenernya sih barangnya bagus sesuai dengan model yang saya inginkan, tapi begitu keingetan harganya, saya jadi kesal lagi. Saya sampai jedotin kepala ke kasur berkali-kali (kalau ke tembok sakit euy). Suami saya sampai speachless. Padahal saya juga sudah usaha mengalihkannya ke nonton video kawinan-nya Raisa – Hamish di Youtube, tapi masih kesal juga kalau keingetan.

setelah sampai rumah lihat barangnya jadi kesal lagi. Foto: matthewscrazyblog.blogspot.co.id

Saking kesal-nya sampai mengutuk diri sendiri kenapa saya beli di toko pinggir jalan, kenapa gak beli di Carrefour aja, di tempat yang pasti-pasti aja, sok-sok-an sih. Maksud hati pingin merakyat, jadinya malah kecolongan, malah dibegoin sama abang-abangnya, huhuhu. Abang suami juga bukannya mendinginkan suasana malah cengengesan, sambil bilang “gpp, udah kebeli juga, kan abang udah bilang beli online aja”, you’re not helping baaaaang. Saya berdalih untuk barang tertentu online oke, tapi untuk barang ini kalau beli online nggak bisa lihat barangnya secara langsung dan nggak bisa dicoba.

Baca juga  Nggak seperti biasanya, ada yang berbeda dari liburan ke Yogya kali ini [ Cari Homestay via AirBnb vs Jatuh Cinta sama Gudeg]
Sekarang saya jadi mengerti kenapa mostly cewe tuh kalau belanja rempong, karena kalau mereka dapetin apa yang mereka mau dengan harga yang affordable, itu adalah prestasi, PRESTASI. Hidup cewe-cewe!!!!!!

Eh, nggak juga deng, kalau cewe-cewe yang suka beli barang branded, kepikiran banding-bandingin harga gak sih?? Apa mereka nggak merasa sayang beli tas branded, ngabisin duit berjut-jut? padahal yang bagus dan jauh lebih murah juga ada, tidak mengurangi fungsi juga *tetiba terlintas di kepala
Jadi melenceng dari topik nih.

Kesalahan saya adalah….

  • Saya kurang emak-emak, harusnya saya sadar lebih awal kalau mereka mark-up harga bisa setengahnya sendiri, hiks. Jadi harusnya saya menawar lebih kejam. Sekarang kok saya jadi kejam gini sih, ckck. Nggak lah ya…
  • Saya kurang teliti, harusnya pas tau merek dan serinya, saya searching online, biar tau harga pasarannya.
  • Harusnya saya lebih tegas, ketimbang kasihan melihat muka penjualnya yang memelas, harusnya saya stict pada budget awal untuk membeli barang itu, dan pura-pura meninggalkan toko perlahan-lahan, toh kalau penjualnya mengalah, saya akan dipanggil lagi ke tokonya, hehe. (tipikal pembeli yang nggak mau mengalah, which is pada kesempatan tertentu ini baik, dan patut dipertahankan). Kalau nggak dipanggil, ya cari lagi.
  • Kalau kalian orangnya macam saya yang ogah ribed dan males tawar menawar, suka kasian kalau liat muka penjualnya, apalagi sampai mikirin keluarga penjualnya kalau nggak dapat untung, hehe, mungkin bisa memilih tempat yang pasti-pasti aja, macam carrefour yang apa saja barang ada dari kebutuhan rumah tangga sampai elektronik.

Kalau malas menawar mending beli di supermarket atau gerai resminya. foto : kompas

Oke cukup kesal nya. Daripada bermuram durja, saya memilih untuk move on.
  1. Memaksimalkan fungsinya.
    Daripada fokus pada harganya, lebih baik fokus pada fungsinya. Ingat lagi niat awal waktu ingin membeli barang ini. Gunakan sebaiknya, seharusnya, dan semaksimal mungkin. Misal HP, kalau niat awalnya pingin beli HP karena kameranya bagus, maka hasilkanlah foto-foto bagus dari hp itu, atau misal stroller, kan jelas fungsinya untuk angkut bayi, membantu bukan? 🙂
  2. Bekerja lebih keras.
    Kesampingkan perasaan rugi-merugi. Jadikan alasan untuk bekerja lebih giat. Mungkin memang nggak ada hubungan sama benda yang sudah dibeli, tapi karena dirugikan dalam hal materi, jadi nggak ada salahnya kalau itu memacu kita untuk berkerja keras, putar otak untuk menghasilkan uang yang lebih.
  3. Refleksi
    Ini sih lebih kepada kepercayaan masing-masing orang saja. Kadang saya suka mencari sebab, kenapa ini bisa begini, kenapa itu bisa begitu secara logis dan tidak logis.

    Capek-capek kerja, nyari duit, eh abisnya malah karena kebodohan diri sendiri yang kurang teliti sehingga dikasih harga segitu, percaya aja, nawar juga kurang jago. Pas tau harganya jauh lebih murah, jadinya malah makan ati, nyesek. Capek-capek nyamperin toko-toko pinggir jalan, dikiranya bisa dapetin barang yang dipingin dengan harga miring, taunya malah kecolongan jauh lebih mahal dari di toko resmi atau bahkan Carrefour. hiks.
    Belajar dari pengalaman saya yang dibohongi abang penjual ini memang cukup menohok, ruginya dari sisi materi. Saya suka mikir, mungkin saya kurang amal ya. Jadi, saya diingatkan Allah dengan cara seperti ini. hmmmm. Baiknya, untuk kedepannya nggak boleh lupa amal, bahkan harusnya dilebihin, rejeki mah nggak kemana. Semoga aja selisih harga yang cukup banyak itu dipakai buat nafkahin anak bininya, biar barokah.

    Kembali hati saya masih nggak karuan… apalagi yang bisa saya lakukan kalau nggak doa, kesannya ngedeketin Allah kalau lagi susah aja, nggak juga sih, karena kepada siapa lagi kita harus mengadu? minta Allah bantu kita buat ikhlas, biar hati legowo, nrimo.

  4. Fokus ke hal lain
    Dari pada mengingat hal-hal yang nggak perlu diingat, lebih baik mengerjakan hal yang bermanfaat atau setidaknya yang bisa menyenangkan hati kalian. Kalau saya, memilih fokus ke anak. Balik lagi ngurusin anak, main sama anak, mandiin anak sambil nyanyi, ajak anak main sepeda, pokoknya nyenengin anak lah, nanti dengan sendirinya hati kita ikut senang juga. Bagi saya, yang bisa bikin segalanya terasa lebih baik adalah anak. Kalau kalian, mungkin menyibukan diri dengan bekerja atau yang suka nulis bisa menulis, atau jalan-jalan, atau shopping (tapi jangan sampai ketipu lagi ya, hihi), atau nonton bioskop barangkali, apapun.

Fokus ke hal lain yang yang bisa menyenangkan hati.

 

Masalah dibohongi, saya langsung teringat dengan peristiwa tipu-menipu terbesar baru-baru ini, yaitu First Travel. Mungkin apa yang saya alami tidak seberapa dibandingkan kerugian yang dialami para jemaah First Travel yang gagal umroh dan bersiap untuk menerima kenyataan bahwa uang mereka tidak akan dikembalikan. Piye rasane?? sakit, tapi nggak ada obatnya di apotek.

Saya turut bersimpati dengan apa yang mereka alami, nggak bisa berkata banyak, bahkan tips diatas belum tentu bisa mengobati hati mereka yang dikelilingi dengan marah dan kecewa karena tidak bisa ibadah ke tanah suci.

Punya niat baik untuk beribadah ke tanah suci tapi malah didzolimi.
Sabar cuma kata, meskipun pada akhirnya sabar juga yang mampu menolong, tapi marah pun rasanya berhak. Untuk bisa mencapai tahap nrimo tentu tidak mudah. Semoga Allah bantu cari jalan keluar dari segala masalah dan segala penyakit hati.