Kampung halaman suami memang di Magelang, tapi karena setiap mudik kami lebih sering naik kereta Gambir-Stasiun Tugu, jadi sebelum ke Magelang biasanya kami singgah dulu sehari semalam di Yogyakarta, sekalian liburan, cihuuyyy!!

Ajaibnya, meskipun udah bolak-balik ke Yogya tapi nggak bosan-bosan buat mengunjungi kota Gudeg itu lagi dan lagi. Rasanya adaaa ajaaah yang bisa dieksplor di Yogya, mulai dari objek wisatanya, pantai-pantai di gunung kidul, kulinernya, tempat-tempat makan fancy-nya, sampai hotelnya.

Biasanya kami memilih menginap di hotel ketimbang di rumah saudara kami di Bantul, biar lebih leluasa aja mau kemana-mana dan mau ngapa-ngapain. Kesannya boros amat ya nyobain hotel di Yogya satu-satu, habis selain hotelnya unik-unik dan suka ada promo di situs-situs perjalanan, kapan lagi bisa ada kesempatan tidur di hotel. Masa di Jakarta?? Terlalu banyak perasaan bersalah karena buang-buang uang, kan ada rumah sendiri. hehe

Kalau pergi liburan ke kota lain kan mau nggak mau memang harus ngebudgetin buat penginapan. Jadi perasaan bersalah karena borosnya lebih sedikit, hehehe..

Berbeda dengan liburan ke Yogya sebelum-sebelumnya, kali ini saya, suami dan debay nggak menginap di hotel, kami ingin merasakan sensasi menginap di homestay / rumah warga lokal yang memang menyediakan ruang untuk turis lokal maupun internasional. Kami mencoba mencari homestay di aplikasi AirBnb.

Cari homestay via AirBnb

Ada yang pernah dengar AirBnB?? AirBnB adalah sebuah online marketplace untuk mencari homestay di banyak negara di dunia dengan biaya tertentu. Nggak kalah dengan hotel, kebanyakan homestay yang tersedia di AirBnB kelihatan cukup nyaman, unik dan berkarakter. Berkarakter tu maksudnya ada ke-khas-an, nggak hanya seperti rumah-rumah KPR, tapi dibikin semenarik mungkin untuk menarik pengunjung dan host-nya (tuan rumah) pun tampaknya ingin memberikan pengalaman berkesan bagi traveler ketika menginap di kediamannya.

Kalau zaman dulu (belum dulu-dulu amat sih, zaman saya masih jadi mahasiswa, tahun 2010an, ada juga namanya Couchsurfing), hampir mirip dengan AirBnb. Bedanya, mungkin AirBnb adalah Couchsurfing yang telah disempunakan. AirBnb kesannya lebih serius gituuu, ya nggak sih??? kayak Traveloka atau Gojek. Kalau Couchsurfing semacam sosial media kayak Facebook, tapi target Couchsurfing lebih kepada traveler dan mereka yang mencari pengalaman untuk menambah pertemanan dengan menjadi guide atau host.

Anyway, jadi via AirBnb pertama-tama saya mencari homestay di sekitaran Yogya, enaknya sih yang dekat ke Tugu biar dekat pusat, tapi Yogya mah kemana-mana juga deket, nggak seberapa jauh dan macet kayak Jakarta. Banyak homestay yang kelihatannya asik di sekitar Maliobroro, Kraton dan Mantrijeron. Rasanya pingin saya inapi satu-satu, hehe tapi rata-rata udah penuh soalnya pas long weekend.

Lalu kami memilih satu yang kelihatan cukup nyaman di daerah Kraton, akses ke lokasi pun cukup mudah, nama homestaynya : Water castle :Home @ifa’s kitten, nama host-nya mbak Ifa. Kereta kami sampai pukul 2 pagi, langsung pesan grabcar dan sesampainya di homestay langsung tidur. Makasi ya mbak Ifa udah bukain aku pintu pagi-pagi buta.

Baca juga  Menikmati Keagungan Tuhan di Pantai Batu Bengkung yang Memesona

Kamarnya percis seperti yang ditampilkan di AirBnb. Dipan dan ambalannya memanfaatkan kayu palet yang dirakit, sofa di ruang tamu juga dibuat dari kayu palet, jadi ambience kayu-kayu DIY-nya dapet banget.

AirBnb Yogya : Water castle]Home @ifa’s kitten

Ruang tamunya cukup luas dan nyaman. Rasanya kalau nggak ada agenda jalan-jalan, pinginnya berleha-leha terus disana sambil internetan. Wifinya cepet. Cakeeepp!!

Depan ruang tamu ada halaman kecil yang nyaman dan instagramable banget. Si Rayan demen banget main batu-batu putihnya.

Rayan lagi main di mini gardennya.

Ada 2 kamar mandi dan alhamdulilah kamar mandinya bersih-bersih, nggak kalah kayak kamar mandi hotel, hanya saja tidak disediakan toiletries yang lengkap seperti di hotel, jadi jangan lupa bawa peralatan mandi dari rumah ya. Tapi kalau lupa bawa pun nggak perlu khawatir karena di dekat homestay ada swalayan yang menyedikan beragam kebutuhan. Ada ATM juga, tapi cuma ada ATM BNI.

Pagi-pagi saya langsung menyeduh teh jasmine yang disediakan di dapur, lalu mbak Ifa memasakan kami breakfast telur dan roti panggang. Breakfastnya ala-ala barat gitu, kata mbak Ifa dia nggak pernah menyediakan nasi untuk pengunjungnya karena mostly mereka bule, bahkan pengunjung lokal sejauh ini bisa dihitung pakai jari. Dan, biasanya mereka self service. Jadi, mbak Ifa hanya menyediakan bahan makanan, lalu mereka masak sendiri, bahkan ada yang belanja bahan-bahan makanan diluar lalu dimasak sendiri.

Telur dan roti panggang.

Mbak Ifa orangnya baik banget, dia sempet sharing rasanya jadi host, dan tingkah para pengunjungnya yang macem-macem, kayaknya hampir mirip kayak jadi ibu kos ya, hehehe. Yah namanya juga berasal dari berbagai negara ya mbak, kan perilakunya beda-beda.

Tertarik cari homestay via AirBnb?? berikut tipsnya :

Tips buat kalian yang mau pesan kamar viar AirBnb

  1. Baca Review
    Saya termasuk tipe orang yang melibatkan pendapat orang lain ketika mengambil keputusan, apalagi ini pertama kalinya saya menggunakan AirBnb. Jadi sebelum memesan kamar saya baca kolom review yang dituliskan oleh mereka yang sebelumnya pernah menginap di tempat itu.Selain review tentang homestay dan fasilitasnya, penting juga mengetahui review tentang host-nya, apakah host-nya tinggal disitu juga?? (jadi mudah di hubungi), apakah pada prosesnya ada kendala dalam menghubungi host? bahkan apakah host-nya itu friendly dan helpful mungkin bisa berpengaruh dalam keputusan kita memilih homestay. Memang sih kadang review orang juga ada yang nggak bener atau asal atau dibagus-bagusin tapi dari banyaknya review mungkin juga ada beberapa yang jujur, namanya juga pendapat orang kan beda-beda. Nggak ada salahnya liat-liat review mereka.
  2. Baca detail informasi dan ketentuan
    Penting juga buat baca detail tentang homestay, jangan mentang-mentang murah lalu kita tergiur, pastikan dulu apakah itu shared room seperti dormitory atau private room?, lokasinya dimana apakah dekat dengan tujuan kita?, ada dapurnya nggak? dan lain-lain.
  3. Bersiap dengan pengalaman yang berbeda
    Yap, tentu kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, saya nggak mau menyebutkan apakah itu pengalaman positif atau negatif, karena itu semua relatif. Bagi kamu yang sering menginap dihotel mungkin akan merasakan perbedaan dari sisi fasilitas. Harga berbicara disini, hehehe. Contohnya saja pengalaman pertama saya mencari homestay menggunakan AirBnb.

    Saya memang mencari harga yang lebih murah ketimbang hotel, kalau biasanya saya kira-kira mendapatkan harga Rp 500.000 untuk hotel, kini untuk homestay saya mendapatkan harga 60% lebih murah. Tidak mesti lebih murah sih, ada yang harganya hampir sama, ada pula yang lebih mahal daripada hotel pada umumnya, tergantung fasilitas yang ditawarkan, juga banyaknya kamar dan banyak faktor lain.

    Untuk harga yang saya dapatkan, saya mendapatkan sebuah kamar yang cute, kasur springbed yang nyaman, shared bathroom, shared living room, wifi, dan breakfast buatan mbak Ifa. ๐Ÿ˜€ Bedanya dengan hotel adalah kamar mandi dalam, TV dan AC. Di homestay mbak Ifa sama sekali tidak disediakan TV, baik di kamar maupun di ruang tamu. Positifnya, sejenak melupakan TV, namanya juga liburan sekali-sekali jauh dari TV, jadi beralih ke buku, ngenet atau ngobrol sama yang punya rumah atau sesama pengunjung, bahkan di ruang tamu saya masih sempat buka laptop untuk membalas email-email.Kalau ada yang bilang warga lokal kebanyakan milih tinggal di Hotel ketimbang di Homestay ada benernya juga sih, mbak Ifa juga menegaskan kalau sejak rumahnya dimasukan ke AirBnb warga lokal yang menginap kira-kira baru 5 kali, selebihnya bule.

    Terlepas dari sombong atau dugaan macem-macem, mungkin ini penjelasannya : namanya juga liburan pasti kan suasananya mau yang berbeda dari rumah, pinginnya segala macam fasilitas udah tersedia, sementara homestay kan hampir sama seperti rumah, apalagi ada homestay yang apa-apa sendiri alias self service gitu.

    Segela keputusan kembali lagi ke anda ya. Baik hotel maupun homestay ada plus minusnya. Kalau saya sih, self service tak terlalu bermasalah, bahkan buat sebagian orang self service membuatnya merasa lebih leluasa. Tapi kalau dipikir-pikir dilayani bak raja seperti di hotel juga nggak nolak sih, hehe sarapan udah tersedia, bervariasi pula, nggak perlu masak hehe.

Pokoknya setelah menginap di homestay-nya mbak Ifa kesannya sederhana tapi berkesan, rumahnya manis banget.
http://abnb.me/EVmg/aqhyZxF7vC
https://www.airbnb.com/users/show/83014473#reviews

with mbak Ifa

Gudeg Yu Djum

Suami saya orang blasteran Yogya-Magelang tentu suka gudeg, sedangkan saya tidak, sampai saya mengicipi gudeg Yu Djum. That’s why kunjungan ke Yogya kali ini berbeda dari yang sebelumnya, here’s the story about me and gudeg.

Ketika menanyakan soal kuliner Yogya ke mbak Ifa, ia menyarankan kami kuliner gudeg di deket homestay. Rupanya kawasan kuliner gudeg wijilan yogya lokasinya sangat dekat dengan homestay kami.

Meskipun Yogya kota gudeg tapi kami nggak pernah benar-benar makan gudeg di Yogya. Selain karena saya nggak suka gudeg, abang suami juga nurut-nurut aja kalau saya milih makanan lain. Favorit kami Sop Ayam Pak Min, meskipun di Jakarta ada tapi beda rasanya sama Sop Pak Min yang di Yogya, beberapa kali makan di Raminten, angkringan dan makanan lainnya selain gudeg.

Alasan saya nggak suka gudeg sih karena benyek-benyek, trus warnanya gelap gitu, trus gudeg itu kan katanya dari nangka, nangka itu kan buah, kok buah dijadiin lauk. Aneh! Kalau buah nangka mah saya doyan, tapi begitu liat nangka yang dijadiin gudeg saya langsung illfil.

Tapi hari itu saya mengiyakan saran mbak Ifa buat makan gudeg. Benak saya, oke meskipun makan di tempat makan yang menu makanan utamanya gudeg, tapi saya bisa minta makanan lainnya selain gudeg, kan ada telor, tahu tempe, ayam, juga suka ada menu opornya. Dari sekian banyaknya gudeg di sepanjang jalan Wijilan, akhirnya kami memilih Gudeg Yu Djum.

Gudeg Yu Djum Wijilan, Yogyakarta

Saya memesan nasi tahu tempe telur, sedangkan suami pesennya gudeg. Tapi gara-gara salah kaprah sama menu makanannya akhirnya di menu yang saya pesan ada gudegnya juga. Ternyata menu ‘nasi tahu tempe telur’ itu udah otomatis ada gudegnya, ooooo. Tadinya saya hanya melahap tahu tempe telurnya saja, gudegnya saya pinggirin, tapi ada rasa penasaran juga sama Gudeg akhirnya saya coba icip-icip gudegnya. Lidah saya mencoba untuk toleransi dengan rasa gudeg. Dan, jreng..jrengg ternyata enaaaak, waduh saya udah su’uzon nih sama gudeg. Suap demi suapan akhirnya gudeg ludes dari piring dan berpindah ke perut saya.

Begitulah asal muasal saya suka gudeg. Saya nggak tau apa hanya Gudeg Yu Djum saja yang cocok dilidah saya, apa gudeg lainnya juga. Let’s seee ya. Karena masih kebayang enaknya gudeg, sebelum kembali ke Jakarta kami sempat-sempatkan buat memasan Gudeg Yu Djum via Gojek buat bekal di kereta dan di rumah. hehe. Setelah sampai di Jakarta, satu hari itu kami seharian pagi-siang-sore makannya Gudeg Yu Djum, hahahaha.

Gudeg Yu Djum Wijilan, Yogyakarta

Akhir kata. Selamat liburaaan. Masih ada satu long weekend lagi di bulan ini ๐Ÿ˜€ Kayaknya sih saya long weekend yang tgl 24 April bakal stay di Jakarta aja deh. ๐Ÿ˜€ Kalau kalian???