Dalam sebuah perjalanan, hunting penginapan sekarang ini begitu menyenangkan. Dari mulai membanding-bandingkan harga, membandingkan hotel yang lokasinya yang dekat dengan pusat hiburan sampai mencari referensi penginapan yang unik.

Liburan kilat ke Bandung akhir Desember 2017 lalu, saya memilih menginap di Triple Seven Hotel. Kenapa memilih hotel?? karena sehari sebelumnya kami singgah di penginapan di Jogja via AirBnb, jadi biar adil saja, hehehe. Cari experience yang berbeda.

Tiba di Bandung pukul 10 pagi. Untungnya kami bisa early check-in, jadi jam 12.00 sudah boleh menempati ruang, seharusnya baru bisa check-in pukul 14.00. Early check-in ini bisa dilakukan dengan catatan ada pengunjung yang check-out pada hari itu lebih awal, misal jam 8.00. Nah, jadi kan petugasnya juga bisa membersihkan lebih awal dan kamarnya juga ready lebih awal. Untuk melakukan early check-in sebaiknya telfon terlebih dahulu, karena nggak semua hotel bisa.

Setelah habis pegal-pegalan di kereta kami langsung tidur-tiduran sampai sore. Mau jalan-jalan tapi masih capek.

Lokasi

Triple Seven Hotel terletak di daerah Cicendo, tepatnya di Jalan Pesantren Wetan No.20 Pandu-Pajajaran Bandung.

Lokasinya agak masuk ke perumahan, tapi begitu keluar dari perumahan akan menemukan tempat makan dan supermarket, dekat pula dengan Istana Plaza Bandung. Merasa ingin membuktikan juga sekalian cari makan malam, akhirnya sehabis magrib kami berjalan dari hotel ke Istana Plaza yang hanya menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit.

Triple Seven Hotel

Waktu mencari hotel, sengaja saya mencari yang kekinian, hihihi atau lebih tepatnya yang unik dan tematik, tanpa melupakan kenyamanan. Sepertinya ini sedang dan akan menjadi kebiasaan masyarakat kota-kota besar zaman sekarang, di mana dalam memilih hotel tidak hanya untuk beristirahat, tapi juga sebagai bagian dari experience dalam liburan itu sendiri. Prinsip value for money.

Salah satu pilihannya, yaitu Triple Seven Hotel. Kalau sebelumnya, saya pernah menginap di Yats Colony yang menyuguhkan kesan Retro Klasik Artistik (menurut saya), kalau Triple Seven Hotel lebih ke Retro Indutrialis. Seperti yang kita ketahui bahwa konsep Industrialis ini lebih mengaplikasikan material yang sengaja di ekspos, juga memberikan kesan unfinished. Sedangkan konsep Retro terlihat pada propertinya yang menghadirkan kesan tempo dulu.

Baca juga  Cari Teman Serumah Biar Harga Sewa Lebih Ramah

Saat memasuki lobby, mata saya langsung ditujukan pada penggunaan bata ekspos pada dinding ruang tunggu dan belakang meja resepsionis, juga tangga yang menggunakan meterial besi. Menarik. Diperkuat dengan penggunaan lampu gantung kuning yang menghadirkan kesan hangat. Karena saat itu sedang momen natal dan tahun baru, jadi dekorasi ruang tunggunya natal banget.

Selain lobby, bagian resto juga nggak kalah berkesan. Dari luar, juga pada tangga menuju resto Back Alley yang terletak di lantai 2, kita akan disambut dengan tanaman-tanaman pada dinding serta menggantung memberikan kesan asri bersanding dengan material pipa-pipa besi dan kayu.

Selain itu, di temboknya juga diwarnai dengan mural hewan hutan, seperti rusa dan beruang seakan membawa kita ke hutan.

Fasilitas Kamar

Kami memesan kamar tipe Vintage.
Sebenarnya saya berharap mendapatkan kamar yang ada mural mobil VW di dindingnya supaya Rayan senang dan punya materi untuk bercerita, seperti yang tertera pada gambar di website travel online tempat kami membooking hotel. Tapi kami mendapatkan kamar yang mengaplikasikan wallpaper kayu, nggak apa-apa lah toh sama-sama nyaman.

Image : tripleseven-hotel.com

 

Untuk pemilihan kamar bisa dilihat disini. Selain Vintage, ada pula Pop Art Queen, Retro Queen, dan Retro single.

Untuk fasilitasnya sih standard ya, terdapat AC, Wifi, TV yang menggunakan TV kabel dan Pemanas air untuk bikin kopi teh. Terdapat pula jendela namun saat dibuka hanya memperlihatkan tembok dari bangunan sebelah. Meskipun jendela ini tidak membawa kita melihat pemanadangan indah, akan tapi oke lah sebagai pemanis ruangan dan tempat masuknya angin biar ada aliran udaranya. Mungkin untuk kamar-kamar yang letaknya di lantai atas terdapat pemandangan yang lebih bagus.

Baca juga  Sulitnya Untuk Tidak Menulis Tentang Marlina

Kamar mandinya sedikit bergaya Scandinavian, dimana banyak menggunakan warna-warna cerah atau putih. Sedangkan kesan Retro Industrialis dihadirkan pada pintu kamar mandinya, as you can see.

Sayangnya Triple Seven Hotel tidak menyediakan breakfast, padahal namanya Triple Seven Hotel Bed & Breakfast. Piye toh! Awalnya, kami pikir kami membooking kamar tanpa breakfast, tetapi setelah menanyakan ulang pada resepsionisnya, ternyata Triple Seven Hotel memang tidak menyediakan breakfast kepada seluruh pengunjungnya. Kami disarankan untuk mencari sarapan di sekitar hotel karena restorannya baru buka pukul 11.00.

Dengan tidak adanya breakfast, kemungkinan pengunjung yang menginap akan melewatkan bagian resto/ cafe-nya. Ini sangat disayangkan, padahal interior cafe sangat menarik dan mengundang orang untuk foto-foto, instagramable banget lah. Kami pun kalau bukan karena menunggu check-in, mungkin tidak akan mampir ke cafe-nya yang terdapat di lantai 2.

Cafe Back Alley sendiri terbuka untuk umum. Pas sekali untuk kalian yang ingin santai-santai sambil cari suasana baru dan ilham.

Over all, menginap di Triple Seven Hotel cukup berkesan. Rate-nya juga cukup bersahabat, mulai dari 300 ribu-an. Untuk penginapan bergaya Retro Industrialis ini saya berikan nilai 7.5/10.

Detail Hotel : tripleseven-hotel.com

Hatur nuhun Bandung.