Passion, menurut definisi dalam kamus Merriam Webster, adalah “A strong liking or desire for or devotion to some activity, object, or concept“, atau bisa dijelaskan sebagai “Suatu rasa suka atau kegemaran dalam kadar yang kuat, mengenai suatu kegiatan, obyek, atau konsep”. – female.kompas.com

Ada cara mudah mengetahui sebenarnya passion apa yang kita miliki.. coba bayangkan kegiatan apa yang membuat kalian betah berlama-lama, nggak sadar sampai lupa tidur. Jangan kebalik ya, kebanyakan tidur sampai lupa ngapa-ngapain hehehe. Dan itu kalian lakukan bukan cuma sekali dua kali, tapi sering.

Misalnya menggambar, saking asiknya menggambar sampai lupa tidur. Nah, konon katanya itu yang jadi passion kita. Kalau memang benar itu tolak ukurnya, dengan berat hati, saya sendiri masih binggung dengan passion saya. Huhuhu.. ini kesedihan dari hati yang paling dalam karena saya sudah umur segini tapi masih mencari, padahal seharusnya masa-masa memantapkan passion. Ibarat karir, harusnya tu sudah tahap senior atau setidaknya udah diatas junior yang lagi memantapkan karir, tapi ini malah masih terkesan fresh graduate mulu, nggak naik-naik tingkatnya.

Saya suka nulis, kadang menggebu-gebu kalau lagi ada ide, tapi saya juga bukan tipe yang betah berlama-lama nulis sampai lupa tidur. Sering males, ups. Suka binggung mulai nulisnya dari mana. Hmmmm. Saya jadi ragu nih apa passion saya beneran nulis, hiks. Apalagi yaa… Sempet suka design tapi itu juga nggak membuat saya lupa tidur kecuali kejar deadline dan kudu melek, wkwkwk. Suka jualan, dari SMA suka jualan makanan keliling kelas, pernah coba online shop, jualan ini itu, suka mikir pingin usaha apa ya, tapi itu belum juga cukup membuktikan kalau passion saya adalah jualan. Bosenan juga soalnya, paraaah!!! Kesannya nggak serius, tapi sebenernya males nagih utangnya sih, hehehe

Masih ada lagi, jadi istri dan ibu, soalnya saya banyak mendahulukan tugas saya sebagai istri dan ibu dibanding dengan kegiatan saya yang lain, bahkan menulis *eh ini passion apa kepaksa, hehe. Nggak enak banget ya masa bahasanya ‘kepaksa’,  mungkin lebih tepat ‘udah kodratnya’.

Tapi selain jago jadi istri dan ibu, saya juga pingin ada hal lain yang I’m quite good at, yang keren gitu, yang bisa saya banggakan, hehe (karena passion itu juga tentang sebuah pengakuan) dan saya belum menemukan lagi.
Pinginnya sih nulis, tapi nggak enak hati untuk mencap menulis sebagai passion. Saya mah apa atuh, suka nulis sih tapi banyak absennya. Malu sama mereka-mereka yang lebih rajin nulis.

Daripada ngomongin saya yang belum pasti passion-nya, ada seseorang yang sangat dekat dengan saya, melihatnya setiap hari membuat saya ingin terus mencari passion. Sadar atau tanpa ia sadari, ia telah banyak mencurahkan waktu dan tenaga untuk keahliannya itu. Tak jarang saya merasa dinomorduakan. Ia adalah suami saya. Suami satu-satunya yang selalu saya banggakan itu, hehehehe #apasihvaaan

Saya suka wondering apa semua programmer kayak suami saya ya. Betah di depan komputer lama-lama, ngoding dari pagi sampe pagi, apa kagak puyeng itu palanya bang. Mumet ndasku ndelok laptopmu sing isine simbol-simbol kabeh, bang.
(nb : Ngoding itu aktifitas dari coding ya, kayak kopi jadi ngopi. Bendanya : kopi, aktifitasnya : minum kopi alias ngopi)

Aku masak, abang ngoding.
Aku baca, abang ngoding.
Aku youtube-an, abang ngoding.
Aku excited dengan kegiatan baru, abang ngoding.
Aku nenein Rayan, abang ngoding.
Aku nemenin Rayan main, abang ngoding
Aku nonton tv, abang ngoding.
Aku nulis, abang ngoding
Aku makan, abang makan, lapeer
Aku tidur, abang ngoding, trus ikut tidur juga, hehe

Bahkan waktu yang seharusnya ia pake buat istirahat (malam hari) atau weekend yang seharusnya buat refreshing bersama keluarga malah dia curi-curi buat ngoding, buat ngoding kerjaan kantor.
Apa bagimu ngoding itu refreshing baaang…. heran aku.

Sebenernya nggak terlalu mempermasalahkan juga, ngapain juga hidup 9 tahun bareng trus baru mempermasalahkan ini sekarang. I’m already deal with it, honey. Saya tau dia seorang programmer sejati. Bukan tipe orang yang tiba-tiba banting stir.

Meskipun abang punya cita-cita buat usaha makanan, yang ranahnya jauh dari ngoding, tapi saya rasa abang tidak akan begitu saja meninggalkan ngoding. Apalagi meninggalkan saya, huehuehu..

Meskipun jalan saya untuk menemukan passion belum menemukan titik terang, tapi saya senang karena setidaknya suami saya sudah terjun dan berenang bersama passion-nya. Langkahnya sudah berpuluh kali bahkan ratusan tingkat diatas saya.
Rasa-rasanya ia bisa menuntun saya, baik dalam konteks passion, maupun yang lebih luas.

Melihat suami yang ngoding tak kenal waktu, saya bisa mengatakan kalau itu passion, bukan sekedar pekerjaan.

Ada yang berdahlil kalau pengertian passion itu tidak sesempit melakukan apa yang kita sukai secara terus menerus. Jadi bagaimana sih penjelasannya? Apa yang membedakannya? Batasannya? Malah jadi binggung sendiri hehehe…

Setiap menulis, saya suka mencari sumber-sumber info lainnya untuk mendukung tulisan saya (masih belum lupa cara ngerjain skripsi, kudu nyari teori-teori buat mendukung hipotesis penelitian, hehehe), salah satunya dari situs yomamen.com yang membahas tentang passion. Saya setuju banget kalau “hidup itu harus seimbang”, antara pekerjaan, keluarga, sosial, percintaan, pribadi, ibadah, hobi dll harus seimbang. Meskipun saya nggak jago dalam menyeimbangkan aspek-aspek itu, tapi saya percaya hidup seimbang itu banyak baiknya buat diri.

Dikatakan bahwa ” Menggeluti passion tak berarti mencurahkan 100 persen hidup untuk itu. Passion hanyalah bagian kecil dari sendi kehidupan yang banyak. Tak berarti setiap keputusan dalam hidup harus berkaitan erat dengan passion yang kita miliki. Ada unsur sosial, keluarga, perkawanan, waktu, hobi, kecintaan lain dan beragam hal lain yang menggerakan keputusan kita dari hari ke harinya”.

Jadi, mengetahui passion itu memang akan sangat membantu fokus hidup, jadi tau plus minusnya diri sendiri, juga untuk mengembangkan keahlian. Hanya saja, jangan sampai lupa makan, lupa tidur, lupa keluarga, bersosial bahkan lupa piknik, lupa senang-senang. hmmm

Harusnya, passion membuat kita bekerja lebih happy karena nggak merasa capek.
Passion membuat bekerja jadi terasa nggak bekerja, karena iklas tanpa paksaan.
Passion membuat kita mengurangi memikirkan untung rugi.
Passion membuat teori Karl Marx tentang Kapitalisme jadi kabur karena pekerja/ buruhnya merasa nggak dieksploitasi lagi, merasa nggak dimanfaatkan/ dijadikan komoditas sama pengusa, bekerja bukan karena buat nyari duit lagi, melainkan karena mereka suka dengan pekerjaannya. Apalagi kalau dikasih fasilitas ini itu, dikasi penghargaan dll, pekerja jadi senang dan merasa dihargai deh. Apalagi kalau bisa jadi bos sendiri, hehehe

Daaaan, Passion itu harus membuat hidup seimbang ya… karena ada istri-istri yang dicuekin gegara suaminya nggak bosen di depan komputer muluuuk. huhuhuhehe

Alih-alih merasa dinomorduakan, lebih baik saya mendukung pasangan memperoleh penghargaan tertinggi di passionnya.
I’m glad that I’m a part of that, a part of your world, bang.

Kalau menurut kamu, passion itu seperti apa?

Rasanya punya suami programmer. Sumber : designzzz.com

Baca juga  Berbuat Baik Itu Investasi