Memasuki bulan ke 6, kehamilan saya mulai bisa dilihat oleh orang-orang, dengan bangga saya memamerkan kepada orang-orang betapa bertambah gendutnya perut saya.

Bersamaan dengan bertambah gendutnya perut, ini kali pertamanya juga saya mendapatkan privilege ibu hamil. Moment yang tidak akan akan saya lupakan.

  1. Kursi Prioritas

Saya termasuk orang yang jarang sekali naik kendaraan umum apalagi setelah berkeluarga, karena saya memiliki suami yang dengan sigap mengantarkan saya kemana saja. Tetapi karena waktu itu ia sedang dikantor dan saya harus pergi ke tempat mama akhirnya saya harus pergi dengan kendaraan umum. Saya pilih naik transjakarta saja, karena lebih dijamin keamanannya dan ber-AC pula.

Sewaktu masuk bus transjakarta, saya tidak melihat ada kursi kosong. Karena merasa kuat, saya memutuskan untuk berdiri saja sampai transit di koridor dukuh atas. Saya juga gak enakan minta-minta kursi ke orang dan mengaku saya sedang hamil, walau kenyataannya memang begitu. Mungkin juga perut saya gak kelihatan gendut kali ya, jadi orang-orang gak nggeh.

Tak lama, seorang perempuan menyapa saya, “Mbak, lagi hamil ya?”, lalu saya menggangguk dan kemudian ia memberikan kursinya pada saya. Masa ia saya bilang lagi nggak hamil. Tak lupa saya ucapkan terimakasih juga pada mbak berjilbab itu. Untuk beberapa orang mungkin tidak akan rela memerikan tempat duduknya pada orang lain bahkan ibu hamil, seperti kasus-kasus yang pernah terjadi beberapa lalu di commuter line, secara mereka sudah antre capek-capek, menunggu transjakarta yang kesekian agar bisa masuk saat masih sepi dan mendapatkan tempat duduk. Oleh karenanya saya menghargai orang-orang yang rela memberikan kursi bagi ibu hamil, orang tua dan anak-anak di publik transportasi, karena saya juga akan melakukan hal yang sama ketika suatu saat nanti saya dihadapkan pada situasi itu.

Baca juga  Coba Lakukan Hal Ini Saat Galau

Beda lagi kalau pergi sama abang, waktu itu kami sedang tidak naik motor karena harus mengantar ibu, bapak dan adiknya ke stasiun gambir. Melihat kemacetan ibu kota, kami memutuskan untuk nak transjakarta saja, ketimbang naik taksi. Tau sendiri kan betapa penuhnya transjakarta apalagi saat jam pulang kantor, saat masuk ke transjakarta abang langsung teriak “Ibu hamil ni, ibu hamil” sambil melindungi saya dan kerumunan orang.

Tak lama si petugas langsung meminta penumpang lainnya agar memberikan kursi kepada saya. Saya jadi gak enak, tapi enak juga sih, jadi dapet kursi prioritas. Dari jauh saya liat suami saya yang harus berdiri bergelantungan di area laki-laki sambil memberikan kode kalau saya baik-baik saja dan udah dapat tempat yang nyaman. Dia balas tersenyum.

Beberapa kali saya pergi sendiri naik transjakarta dan kini saya tidak lagi antre di tempat biasanya melainkan di tempat orang-orang turun dan menikmati privilege sebagai ibu hamil, hehehe. *enak ya dek, sambil elus perut

  1. WC

Saya pikir privilege ibu hamil cuma di transjakarta saja, ternyata waktu saya sedang antre toilet di Mall Pondok Indah ada seorang ibu-ibu yang mempersilahkan saya lebih dulu untuk masuk toilet. Saya kaget, kok dia sadar ya kalau saya gendut karena hamil, saya sempat menolak tawaran ibu itu dan mengatakan “Nggak, ibu aja duluan”, tapi ia juga bersikukuh memaksa saya untuk mendahuluinya. Daripada semua mata orang di toilet tersebut tertuju pada saya, akhirnya saya mengalah dan mengambil privilege itu, ”Makasih ya bu”.

Batin saya berkata pasti ibu juga pernah merasakan jadi ibu hamil ya, jadi merasakan apa yang saya rasakan kalau sedang di tempat umum dan harus menahan pipis. Ibu pasti juga tau kan kalau ibu hamil itu sering bolak-balik ke kamar mandi untuk pipis karena di saluran kemihnya seperti ada yang menekan-nekan. Hmmm Ibu pasti tau, jadi terimakasih karena sudah mempersilahkan saya untuk mendahului antrean ibu, dan tanpa sengaja memberitahukan orang-orang yang juga sedang mengantre di WC, seberapa istimewanya menjadi Ibu Hamil.

Baca juga  Pementasan Puisi dan Musik untuk Bumi - Persembahan untuk Bali

Walaupun begitu, masih ada orang juga yang menganggap perut saya gak seberapa gendut, “Hamilnya kecil yaaa, kemungkinan cowok nih” atau “Ih gak kelihatan kalau sedang hamil ya, kirain cuma tambah berat badan doang” begitu kata mereka, bahkan sewaktu saya sedang jalan ke supermarket sekumpulan cowok men-suit-suit-in saya. Heran saya, orang ibu hamil kok masih disuit-suit-in juga, gak liat apa perut gue gendut gini, batin saya. Saya pun semakin getol nunjukin perut saya yang makin gendut, hihihi