Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Judul : Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Adhitya Mulya

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2015 (Cetakan kesepuluh)

Jumlah Halaman : 277

ISBN : 979-780-721-5

Review

Beberapa kali bolak balik ke Gramedia, selalu liat buku ini di deretan best seller, penasaran!! Melihat judulnya saja sudah membuat saya yakin kalau buku ini bakal menjadi salah satu buku yang berkesan di pikiran saya. Pasalnya, mengangkat tema ‘Bapak’, membayangkan kegiatan yang menyenangkan bersama bapak / orang tua, merupakan sesuatu yang gak pernah kemakan zaman, bahkan setiap zaman punya kisahnya masing-masing. Sebagai seorang anak yatim, saya pun memiliki kisah saya sendiri dengan papa saya. 🙂

Setelah beberapa minggu penasaran, akhirnya saya akhiri juga penasaran saya dengan membeli buku ini. Ini buku pertama karangan Adhitya Mulya yang saya baca, dengar-dengar ia juga penulis buku Jomblo (Sebuah Komedi Cinta) dan Gege Mengejar Cinta. Setelah coba googling, 2 buku itu cukup sering juga saya liat di gramedia atau tempat rental buku, tapi baru sampe tahap sering liat doang, belum sampe tahap memutuskan untuk baca. Jangan tanya kenapa, itu misteri, saya sendiri gak ngerti, hehehe

Cuma butuh waktu beberapa jam untuk saya menghabiskan Novel ini, langsung dibuat penasaran dan jatuh cinta dari awal, jadi pengen buru-buru tau cerita lanjutan di setiap chapter-nya.

Sabtu bersama bapak bercerita tentang dua laki-laki bernama Satya dan Cakra, setiap hari sabtu mereka memiliki agenda rutin untuk menonton video yang dibuat sang bapak. Setelah di vonis kangker, dan menyadari bahwa ia tidak akan punya waktu lama bersama anak-anaknya, akhirnya sang bapak memiliki ide untuk membuat video berisi nasihat dan sharing mengenai kehidupan, yang akan menemani perjalanan hidup ke-dua anaknya hingga dewasa.

Satya adalah anak pertama dari Pak Gunawan dan Bu Itje, Ia telah menikah dengan Rissa dan dikaruniai 3 orang anak. Memiliki pribadi yang sedikit emosional. Sedangkan adiknya, Cakra, adalah seorang pria mapan yang memiliki posisi bagus di perusahaan, tapi masih dalam tahap mencari jodoh. Tak sedikit teman dan bawahannya yang menjodohkan ia dengan kenalannya, bahkan Bu Itje juga mulai khawatir karena anak bungsunya telah sukses, namun belum menemukan tambatan hatinya.

Suka banget sama gaya bahasa Adhitya Mulya yang ringan tapi bermakna, kadang dibuat serius waktu Satya berantem via email sama Rissa, dibuat senang saat Cakra berinteraksi sama anak buahnya, dibuat malu waktu Satya akur sama Rissa, dibuat sedih waktu Bu Itje oprasi tanpa memberitahu anak-anaknya, dibuat pasrah waktu Cakra gak nemu-nemu jodoh dan tak jarang saya menemukan ‘lawakan’ dalam novel ini yang tak bisa saya hitung berapa jumlahnya. Hehe Mungkin karena sang penulis novel, Adhitya Mulya, dulu basic-nya adalah penulis cerita komedi, jadi unsur komedi tak boleh dilupakan.

Quote:

‘Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat’, ‘Iya sih. Tapi, mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat’. – hal 17

Baca juga  Rasakan Experience dan Konsep Baru Gramedia Bookstore, Central Park Mall

‘Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang’. – hal 35-36

‘Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seorang cukup mawas diri bahwa ia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan’. – hal 80

‘Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak’. – hal 106

‘Laki, atau perempuan yang baik itu, gak bikin pasangannya cemburu. Laki, atau perempuan yang baik itu…bikin orang lain cemburu sama pasangannya’. – hal 227-228

Novel ini sukses menyampaikan pesan-pesannya tanpa terkesan menggurui. Banyak hal yang bisa dipelajari dari novel ini, khusunya mengenai parenting, lalu menjadi sosok istri dan suami yang baik untuk satu sama lain, ibu yang berbakti pada suami dan berkorban untuk anak, bahkan jatuh bangun mencari jodoh. Hehehe

Untuk itu saya berikan ponten 5/5. Sukaaa deh!!