I can’t stop myself for not writing about this movie. Walaupun agak telat nontonnya karena gk bisa ke bioskop, dedek bayi gak bisa jauh-jauh dari botolnya, hhahaha. Jadi saya nunggu download-annya saja 😀

Inside Out salah satu film Disney Pixar yang saya tunggu-tunggu dari tahun kemarin karena penasaran, kok ada ya film yang nyeritain perasaan, kan diawang-awang banget. Tapi rupanya Pete Docter, penulis dan director film ini, berhasil menggambarkan kisah 5 perasaan dasar seseorang dalam sebuah film animasi yang menghibur, dan jauh dari kesan abstrak yang berat dicerna.

Sinopsis Inside Out

Bercerita tentang 5 perasaan dasar yang ada di dalam otak Riley (Kaitlyn Dias), seorang anak perempuan berumur 11 tahun. Ada Joy (Amy Poehler)- rasa bahagia, Sadness (Phylis Smith)- rasa sedih, Anger (Lewis Black)- rasa Marah, Disgust (Mindy Kaling)- rasa benci dan Fear (Bill Hader) membawa rasa takut.

Perasaan Riley didominasi oleh Joy, kegembiaraan, which is good. Memori kegembiraan yang cukup mendominasi tersebut membentuk memori inti yang ujung-ujungnya membentuk kepribadian Riley, yang disebut Island of personality – pulau kepribadian.

Semuanya terasa menyenangkan, keluarga yang bahagia, sahabat yang setia, dan kota yang menyenangkan.  Sampai suatu hari Riley dan keluarga harus pindah ke San Francisco. Riley berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, namun ada saja hal-hal kurang menyenangkan yang membuat dirinya jauh dari rasa bahagia. Terebih saat Sadness tiba-tiba menyentuh core memory / memori inti dan mengubah memorinya yang tadinya bahagia menjadi sedih. Alih-alih ingin menyelamatkan memori inti-nya Riley agar tetap didominasi rasa bahagia, gak sengaja Joy dan Sadness tersedot ke memori jangka panjang Riley dan butuh waktu untuk mereka kembali ke otak Riley (headquarters).

Baca juga  Sulitnya Untuk Tidak Menulis Tentang Marlina

Joy dan Sadness berusaha untuk kembali ke headquarters melewati labirin pikiran jangka panjang Riley. Sementara itu, di headquarter tersisa Anger, Disgust dan Fear yang mengontrol tindakan Riley. Tanpa adanya Joy dan Sadness, Riley hanya bisa merasakan Anger, Disgust dan Fear. Pelan-pelan Island of personality Riley yang dibangun dari rasa gembira runtuh. Klimaksnya adalah saat Riley memutuskan untuk kabur dari rumah. Pokoknya perasaan Riley kacau balau, begitu pula yang terjadi di headquarter.

Melihat Island of personality Riley runtuh satu per satu, Joy tetap optimis untuk kembali ke headquarter dan memperbaiki segala keadaan, namun untuk kembali ke headquarters banyak sekali hambatannya. Apakah Joy dan Sadness bisa kembali tepat waktu sebelum semua Island of personality Riley musnah??

Inside Out

Review

Kalau semua personality Riley hilang, berarti dia jadi krisis Identitas dong ya..Berarti supaya gak krisis identitas, we have to fight to keep our dominant character alive.

Anyway, sesuatu  berhubungan dengan pikiran, sifat, perasaan/ emosi yang goal-nya membentuk personality kita selalu menarik perhatian, bukan begitu? Buktinya, seringkali kita mencocokan sifat kita dan orang lain berdasarkan zodiac, atau seringkali kita mendapati diri kita sendiri yang lagi iseng-iseng ikut test ‘Kenali kepribadianmu’ di facebook atau yang sekarang lagi tren ada test kepribadian MBTI

Nah, terbukti kan, kalau mengenal pribadi kita ataupun seseorang itu sesuatu yang yang kita gemari. Tepat banget kalau Disney mengangkat sebuah kisah mengenai pikiran dan sifat seseorang yang juga nyerempet sisi psikologis ke dalam sebuah film Animasi. Saluteee, Bravoo!!!

Di film ini juga masuk banget sisi intrapersonal-nya, bagaimana kita bersikap ketika berkomunikasi dengan orang lain. Secara pribadi, saya ngebayangin diri saya dengan segala yang terjadi di otak saya ketika merespon sesuatu. Barangkali kalau saya lagi kesal banget sama orang, satu island of personality saya roboh kali ya. Eh, belom roboh deng, masih gempa bumi. Kan saya penuh rasa cinta orangnya. Hmmmmm…

Baca juga  Maze Runner : Perjuangan Para Glader dalam Labirin Raksasa
Pelajaran yang diambil
  • Perasaan itu ada di otak, yang berarti kita bisa banget ngendaliin emosi. Kita memegang penuh atas diri kita, apakah kita memilih untuk happy atau marah dalam merespon sesuatu. Kalau ada orang yang bilang ‘gak bisa mengendalikan emosi’ berarti lagi labil emosinya, hehe… berarti emosi yang sedang mengendalikannya. *Ini konsep meditasi banget*
  • Walaupun begitu, bukan berarti kita harus happy terus. It’s oke to feel sad or angry or fear or anything. It’s normal. It’s makes human, human. ‘Berperasaanlah sesuai pada situasi dan kondisi’ quote macam apa ini!!!! Kalau janjian jam 5 tapi pacar datang baru jam 8, boleh marah, biar pacar juga gak ngulangin kesalahannya, tapi abis itu baik lagi. Kalau abis putus sama pacar boleh sedih, tapi jangan berlarut-larut. Hehehe.
  • Seperti menabung, dalam Inside Out menampilkan perasaan yang dipupuk terus, lalu menjadi dominan (memori inti) akan tumbuh menjadi personality. Karena Riley sering menghabiskan waktu bersama ayah ibu maka ia menjadi pribadi yang cinta keluarga (direpresentasikan dengan Family Island). Mungkin kalau orang yang suka mupuk rasa sedih jadi orang yang mellow, kayak saya. ;p
Nice to know
  • Siapa yang masih ingat teman khayalan masa kecil?? Riley punya teman khayalan namanya Bing Bong dan si Bing Bong ini tersesat di memori jangka panjang Riley, berharap untuk diingat kembali. Kalau saya sama sekali gak ingat, atau barangkali gak punya. Mungkin teman khayalan saya juga lagi tersesat di memori jangka panjang otak saya, lalu dia berusaha keras agar saya bisa ingat lagi. *mulai ngayal*
  • Ternyata semakin kita tumbuh besar, perasaan makin macam-macam. Terlihat di akhir film ini bahwa rasa sedih dan senang menyatu, gak heran kalau kita pernah merasakan sedih dan senang secara bersamaan. Ada tombol Puberty pula, hehehe
Baca juga  Nostalgia Lagu-lagu Cinta Lea Salonga

Akhir kata untuk film ini pontennya 4/5. Kereen dan Cerdas. Gak heran kalau film ini dapat rating 98 % dari Rotten Tomatoes.