Hore Rayan mudik!!! Akhirnya, masa-masa sakit itu berlalu juga, belum berlalu sepenuhnya sih, si abang masih batuk-batuk, sedangkan Rayan udah sembuh, makanya kami berani memutuskan buat tetap pada rencana yang sudah dibuat, yaitu ke Magelang. Menjadi satu-satunya orang sehat membuat tugas saya berlipat ganda, merawat anak dan suami yang sakit itu bukan perkara mudah, meskipun fisik saya sehat tapi saya butuh asupan energi untuk batin.

Kala itu, saya udah kangen banget sama udara Magelang, sama udara yang udah berkontribusi menyehatkan Rayan saat baru lahir. Udara yang sejuk pada siang hari dan dingin pada malam hari. Jauh dari polusi. 😀

Beda dengan Magelang kota, kampung halaman kami letaknya di Desa Selomirah, Magelang, di bawah kaki Gunung Andong (tau dong gunung Andong?? yang belakangan sering masuk TV itu loh!). Jadi untuk mencapai rumah kami dari Magelang kota harus menempuh waktu sekitar 45 menit – 1 jam, melewati sawah-sawah yang menyegarkan mata. Moment favorit setiap kembali adalah pemandangan gunung Andong yang dapat saya nikmati setiap saat. 🙂 Sejuknya mata ini….

Desa Selomirah, Magelang. Gunung Andong

Desa Selomirah, Magelang. Gunung Andong

Perjalanan kami di mulai dari Jakarta.hehehe yaiyalah. Mudik kali ini sudah kami rencanain dari jauh-jauh hari, dari Rayan baru lahir kayaknya deh, soalnya dalam rangka si mbok cilik-nya Rayan ( begitu istilah orang-orang sana menyebut tante-nya Rayan) atau adik ipar saya yang mau wisuda.

Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap menuju stasiun gambir. Yup, kami memilih naik kereta karena cukup nyaman buat bayi. Sebelumnya tak lupa saya mempelajari tips berpergian dengan kereta bersama bayi, jadi segalanya sudah saya persiapkan demi kenyamanan Rayan. Kami juga memilih perjalanan pagi agar gak ngantuk mengawasi Rayan, kalau malam bisa- bisa saya dan suami ikutan tidur.

Di kereta, Rayan nggak rewel, malahan banyak becanda dan senyum sama tante-tante yang duduk di belakang kami. Si Rayan emang sumeh ( sumeh : istilah dalam bahasa Jawa untuk orang yang murah senyum ). Tapi, setelah sampai Yogya bertemu sama uti dan kakungnya, si Rayan diem dulu, sejenak memperhatikan muka-muka baru yang ada disekelilingnya, butuh waktu buat Rayan kembali sumeh, sekitar 30 menitan baru mulai sumeh sama uti dan kakungnya.

Baca juga  Belajar Parenting : Sebuah Proses Trial and Error Hingga Harus Tega Dalam Mengasuh Anak

Akhirnya, saya dan abang mengambil kesimpulan kalau Rayan lebih cepet sumeh ke cewe-cewe muda, hehehe beneran deh, sama tante di kereta aja dia langsung sumeh, sama temen dan sepupu saya juga gitu, eh giliran sama uti dan kakungnya malah butuh waktu. Semoga kamu gedenya gak jadi cowok ganjen ya nak!!

Dari stasiun Tugu Yogyakarta, kami langsung cus ke Magelang. Keesokan harinya, kami langsung ke Salatiga buat menghadiri acara wisuda Arum, ipar saya. Sayangnya, wisudanya gak di kampus UKSW, melainkan di gereja Bethel dekat Pasar Sapi, padahal saya udah kangen sama mantan kampus, yup, saya dan Arum dulu sama-sama kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.

Suasana Wisuda UKSW Salatiga

Suasana Wisuda UKSW Salatiga

Photoshot Wisuda Arum

Photoshot Wisuda Arum

Keesokan harinya, belum juga pulih benar dari batuk dan pileknya, Rayan kembali demam, paling sih karena kecapekan dua hari berturut-turut jalan-jalan terus, Jakarta-Yogya-Magelang-Salatiga. Gak lama, uti dan si mbok ciliknya pun kena sakit demam dan batuk, saya juga ketularan batuk pileknya Rayan. Jadinya, kami serumah sakit semua.

Bagi saya, ini salah satu moment yang berkesan selama perjalanan saya menjadi ibu. Kala itu, badan lemas, kepala cenat-cenut, rasanya pingin sekali istirahat, tapi peran seorang ibu menuntut saya untuk nggak boleh sakit, terlebih orang-orang di rumah ini pun juga lagi pada sakit semua. Setelah hamil, kemudian menyusui, saya tidak disarankan untuk mengkonsumsi obat batuk dan pilek karena akan berpengaruh ke susu yang akan diminum Rayan. Jadinya, saya membiarkan sakit pulih dengan sendirinya, paling untuk batuk saya minum air hangat saja. Saya tahan demi Rayan, untungnya walaupun gak minum obat, saya lebih dulu sembuh ketimbang yang lainnya, ckckck daya tahan tubuh saya emang tidak diragukan lagi.

Dedek Rayan sakit tp tetep lucuuk

Dedek Rayan sakit tp tetep lucuuk

 

Baca juga  Olahraga sekaligus Rekreasi di The Wave Pondok Indah Water Park, Kolam Renang Pondok Indah

Selang beberapa hari, abang pulang dari Jakarta bawa penyakit. Zzzzzzz. Batuk belum sembuh dari kapan tau, ditambah demam. Disini rasa kasihan saya sudah pudar, digantikan dengan rasa kesal, habis punya penyakit gak sembuh-sembuh, nggak berusaha ingetin diri buat minum obat. Alasannya kalau minum obat bisa ngantuk, padahal harus kerja, tapi alasan itu gak bisa saya tolerir lagi soalnya abang yang pertama kali nularin batuk ke Rayan, lalu Rayan nularin ke saya dan utinya. Kan saya jadi kerjabakti sendiri buat ngerawat orang-orang sakit ini, huhuhu..

Karena demam abang gak kunjung sembuh, keesokannya abang dibawa ke rumah sakit, dan ternyata dia kena DB. Alamaakk..kelar dah!!

Berkunjung jengukin Bapak di Rs

Berkunjung jengukin Bapak di Rs

Akhirnya abang dirawat selama 5 hari. (Ini mah jadinya bukan mudik liburan, tapi sakit-sakitan, huhuhu). Saya dan Rayan hanya boleh sesekali menjenguk karena bayi gak boleh sering-sering di bawa ke RS. Okelah, ego saya sempat memuncak karena kesal, kok abang pulang cuma buat dirawat di RS, tambah deket tapi jauh, huhuhu. Tapi saya binggung, mau marah sama siapa, mesti gimana lagi, ya udah terlanjut sakit, mau nyalahin sakitnya?? Barangkali, saya terlalu capek memikul semua seorang diri, untungnya kakungnya nggak sakit jadi sesekali suka ajak main Rayan.  🙂

Rayan mandi di Baskom

Rayan mandi di Baskom

Beralih dari sakit, sehari sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan untuk piknik sejenak di Hutan Pinus Mangli dekat rumah. Judulnya piknik praktis karena nggak pake repot dan gak pake lama. Kami cuma bawa beberapa jenis cemilan, minuman dan tiker, Rayan juga saya bawakan makannya sendiri dan jeruk karena Rayan suka sekali sama jeruk.

Baca juga  5 Fakta yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Mendaki Gunung Andong

Saya juga gak perlu repot- repot bawa perlengkapan Rayan seperti kalau berpergian jauh karena perjalanan dari rumah ke hutan pinus hanya membutuhkan waktu kira-kira 10 menit. Jadi kalau ada apa-apa tinggal pulang saja. Waktu itu di Hutan Pinus Mangli suasananya sepi, hanya ada beberapa orang di tempat seluas itu. Beda dengan weekend yang cukup ramai dengan orang- orang yang berkemah, baik rombongan sekolah maupun kampus. Saya sih merasanya lebih aman aja kalau ada orang-orang berkemah, ketimbang sepi gini. Nggak lama karena mau turun hujan, dan semakin sepi akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Piknik kami hanya sekitar 1 jam-an, hehehe cuma mau mengobati kerinduan sama pesona hutan Pinus. 🙂

Kalau ada hutan yang seperti ini di dekat rumah di Jakarta, mungkin akan jadi tempat favorit saya melepas penat.

622a5ec0-0f9b-4d55-b144-57dcaeec8757

Rayan dan Ibu - Hutan Pinus Mangli

Rayan dan Ibu – Hutan Pinus Mangli

Malamnya terakhir di Magelang saya manfaatkan dengan makan Kupat Tahu, makanan Khas Magelang. Sayangnya, warung makan kupat tahu langganan kami lagi tutup, jadi pilih warung kupat tahu lainnya. Walaupun gak seberapa enak tapi yaudah lah.

Rencana lainnya mudik, selain wisudaan, yaitu menghadiri acara perkawinan om saya, om Pram, di Solo. Saya seneng banget akhirnya om Pram ketemu sama soulmate-nya. Selamat ya om Pram, semoga menjadi keluarga yang samawa. Seneng juga karena nenek saya atau biasa saya sebut Ibu, sudah menyelesaikan tugas menikahkan semua anaknya. 🙂

Sorenya, kami kembali ke Jakarta, kali ini coba naik pesawat *Alhamdulilah Rayan gak rewel, hehehe. Begitu deh cerita mudik kami yang kebanyakan sakitnya, huhuhu tapi tetap happy kalau ada di dekat orang tersayang. 🙂

Haiii..Salam sayang dari ketinggian beribu-ribu kaki :D - Rayan"s first flight.

Haiii..Salam sayang dari ketinggian beribu-ribu kaki 😀 – Rayan”s first flight.