Filosofi Teras : Selalu Ada Alasan untuk Tidak Cepat Terbawa Emosi Negatif

Akhirnya saya menyelesaikan buku Filosofi Teras. Dari 2-3 minggu lalu baca buku ini, tapi nggak selesai-selesai. Soalnya bacanya sambil ngurus anak, ngurus rumah, ngurus kerjaan dan lain-lain. Namun cara membaca kali ini cukup konsisten karena meskipun nggak selesai-selesai, tapi setidaknya setiap hari saya meluangkan waktu untuk membaca dan saya menikmatinya.

Saya sangat senang menemukan buku ini, meskipun saat pertama kali membukanya agak njelimet karena tulisannya mepet-mepet, jarak antara sepasi samping kanan-kiri dan atas-bawah agak dekat. Tapi dari pertama membaca kata pengantar sudah membuat saya penasaran, dan ke-njilmetan-nya tak mengurungkan niat saya untuk menyelesaikan buku ini.

Kesan-kesan

Sepertinya buku Filosofi Teras akan menjadi buku yang nantinya akan saya baca berulang-ulang secara acak. Saya rasa filsafat Stoisisme/filosofi teras/ stoa cocok dengan nilai hidup saya, sesuai dengan motto saya ‘Kebahagian sejati berasal dari dalam diri’. Hanya saja saja tidak tau kalau ada yang membahas detail mengenai topik ini dari akarnya, tidak sekedar tips-tips berpikir positif atau mengendalikan diri. Juga ternyata selama ini saya sudah berusaha mempraktikannya (kadang berhasil, kadang kelepasan, hehe, nggak sedikit yang gagal karena kemakan penyakit hati). Betul kata penulis buku ini, Henry Manampiring, bahwa saat membaca buku ini saya seperti menemukan validasi untuk sesuatu yang sudah saya praktikan selama ini.

View this post on Instagram

A post shared by Dahlian Ayu Novanti (@ayunovanti) on

Buku setebal 312 halaman ini menegaskan hal-hal yang dapat kita kendalikan dan di luar kendali. Perlukah kita cemas pada hal-hal yang diluar kendali kita, seperti reaksi/komentar orang/ menyesali peristiwa yang sudah terjadi. Padahal kita tidak bisa mengatur reaksi orang lain / mengulang peristiwa. Hal yang dapat dilatih dan diatur adalah diri kita sendiri. Mengendalikan hal-hal dalam diri. Ketika membaca buku ini kita akan menemukan jawaban-jawaban make sense. Kenapa kok gini, kenapa kok gitu?

Contohnya saja quote ini

“Rajin bekerja dan bekarya tidak dilihat sebagai sekedar jerih payah untuk bertahan hidup atau memupuk kekayaan, tetapi sudah bagian jati diri manusia. Di dalam stoisisme tidak ada ancaman dosa kemalasan, hanya kita diingatkan bahwa dengan malas bekerja, kita sudah mengingkari alam dan nature kita sebagai manusla”.

(Filosofi Teras, hal. 79)

Stoisisme mempunyai argumen mengapa berbohong itu keliru, bukan sekedar label dosa atau tidak, kembali ke prinsip hidup selaras dengan alam. Segala hal yang benar (truth) otomatis adalah bagian dari alam (nature), dan sebaliknya kebohongan adalah sesuatu yang tidak benar dan artinya bukan bagian dari alam. Bukan dengan ancaman neraka di akhirat, tetapi dengan argumen logis bahwa yang merugi kita sendiri. Dengan meninggalkan keselarasan dengan alam, kita mempersulit diri kita memperoleh kebahagiaan, damai, dan tentram.

(Filosofi Teras, hal. 176)

Mungkin saja kita hilang alasan untuk berpikir positif dan hilang nalar. Juga, mungkin saja di suatu waktu kita merasa berhak untuk marah-marah, sementara selalu ada jalan lain untuk bisa mengendalikan persepsi dan emosi kita. Kita selalu punya pilihan.

Membaca buku ini mengingatkan bahwa banyak hal dalam hidup ini yang di luar kendali kita. Namun dalam keadaan buruk sekalipun, ketika nasib buruk datang tiba-tiba sekalipun, kita masih tetap memiliki kuasa untuk menentukan langkah, persepsi, dan emosi selanjutnya.

Dia yang jago menetralkan peristiwa

Filosofi Teras mengingatkan saya pada karakter Phoebe Buffay, diperankan oleh Lisa Kudrow, di serial Friends.

Pasti sangat menyenangkan bisa menjadi orang se-optimis Phoebe. Padahal dia memiliki latarbelakang paling miris diantara karakter lain dalam serial Friends. Ayah kandungnya pergi meninggalkannya, ibu kandungnya bunuh diri, ayah tirinya masuk penjara, ia bahkan pernah hidup sendirian di jalanan. Namun ini semua tidak membuatnya menjadi pribadi yang penuh drama. Sosoknya ceria, impulsif dan absurb. Akan tetapi, justru ini yang bikin seru karena tetap membumi dan manusiawi.

Mungkin Phoebe telah berlatih Filosofi Teras sepanjang hidupnya. Disebutkan bahwa keterbatasan bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang tangguh. Phoebe benar-benar seorang pengendali persepsi, opini dan emosi diri yang lihai. Ia jago menetralkan peristiwa, seolah-olah hanya ia yang berhak memberikan makna.

Ketika kakaknya meminta Phoebe menjadi ibu pengganti karena istrinya tidak dapat hamil, Phoebe pun menyetujuinya. Entah karena ia seorang yang spontan dan impulsif atau karena ia tidak menganggap ini masalah yang besar dan ia menjadi yang turut berbahagia karenanya. Sementara bagi teman-temannya atau bisa jadi bagi kebanyakan orang, hal ini merupakan masalah yang penyelesaiannya tidak se-simple itu.

Baginya, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Masalah kecil ataupun besar tidak membuat Phoebe panik. Dan kita butuh sahabat seperti Phoebe.

Atauuuu kita sendiri bisa berlatih fokus mengendalikan hal-hal dalam diri dan memerdekakan pikiran kita seperti nilai-nilai yang diterapkan dari filosofi Stoisisme / filosofi Teras.

Ngomel Itu Capek

Dalam buku Filosofi Teras, sang penulis mewawancarai kak Llia/ @salsabeela, seorang founder 3 perusahaan konten dan media, yang mendeskripsikan dirinya di twitter sebagai ‘A Stoic’. Saya cukup terpukau dengan Mbk Llia karena tidak cepat terpancing emosi atau tergolong ‘mentally stable’, bahkan sebelum ia mengetahui kalau yang telah ia lakukan ini ada sebutannya. Ia telah mempraktikkan stoisisme dalam hidupnya, ia seorang stoic.

Ia juga memberikan contoh ketika ART-nya mensetrika bajunya sampai bolong, ia hanya merespon dengan mengatakan ‘nggak apa-apa, buang saja’. Sementara ART-nya sudah meminta maaf dengan penuh kecemasan dan kalimat panjang lebar. Orang-orang banyak yang bertanya-tanya, kenapa ia bisa menjadi pribadi yang nggak gampang terbawa emosi. Dan kalimat selanjutnya ini cukup memperkaya pemahaman saya. Kak Llia mengatakan, “Gue nggak merasa ada kebutuhan untuk ngomel. Yang penting apakah ia belajar dari kesalahannya dan lain kali dia akan lebih berhati-hati”.

Tepat banget sih menurut saya, saya kadang juga merasa nggak ada kebutuhan untuk ngomel, kayak capek-capein diri. Meskipun saya nggak bisa marah, tapi kadang masih menyisakan perasaan kesal. Ini sih yang harus dilatih biar lebih ‘let it go’. Saya juga lebih sering berlindung pada pemikiran : menjaga perasaan orang, orang jaman sekarang mudah terbawa emosi. Kita kan nggak tau mental orang tersebut seperti apa, ada yang cuma ditegur dikit bawaanya baper, trus jadi angin-anginan. Kalau saya sih terbuka dengan segala teguran yang membangun. Berusaha profesional, no hard feeling.

Saya sendiri pun ragu mau mengklaim diri telah berlatih filosofi stoisisme dari sebelum membaca buku ini, takut takabur, takut salah mengartikan.
Sebelum membaca buku ini, hal-hal yang menahan saya dari emosi negatif adalah pemikiran saya se-simple “Kalau nggak mau dijahatin, ya jangan ngejahatin”. Ketika emosi negatif/ penyakit hati (iri, dengki, takabur, marah) itu datang, lebih sering saya alihkan ke hal lain atau sholat dan minta Allah buat menjauhkan saya dari penyakit hati ini.

Mempraktikan Filosofi Teras

Setelah membaca buku ini, saya menemukan rumus S-T-A-R (Stop, Think & Assess, Respond). Intinya ini bisa dilatih ketika kita mulai dihinggapi emosi negatif. Yang pertama adalah Stop / behenti sejenak, mungkin disini kita harus tarik napas – buang napas. Kemudian pelan-pelan Think & Assess, berfikir dan menilai/ menganalisa tentang perasaan ini dan fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Terakhir, ketika situasi sudah lebih tenang, barulah kita merespon /memutuskan tindakan apa selanjutnya.

Ada satu hal lagi yang saya sadari mengenai praktik stoisisme. Benar kata Henry Mamampiring, meskipun masih kerap dihampiri penyakit hati, tapi kita bisa menyadari lebih awal sehingga cepat pulih dan memperbaikinya. Bener deh energinya jadi nggak terbuang sia-sia. Lebih legowo.

Saya sendiri merasa cukup sensitif orangnya, bukan sensitif yang marah-marah, melainkan cukup sensitif/ peka membaca sikap orang. Saya heran sama orang yang cepet baper, aduh saya tuh males banget kalau harus meladeni kebaperan orang. Udah lewaaaat masanya, banyak yang harus dipikirin daripada ngurusin baper-membaper. Mending ngurusin anak deh. Maksudnya kan kita bukan ABG lagi, udah lewat jamannya drama-dramaan, jadi ya kalau ada masalah diselesaikan aja, sharing kek ,daripada sindir-sindiran, singgung sana-sini, diem-dieman. Aduh, cape deh. Bahkan kalau ternyata permasalahannya terlalu sepele untuk diselesaikan (karena yang diperlukan hanya mengubah persepsi sendiri), yaudah let it go aja, dan kembali baik lagi. Gitu aja kok repot.

Quote

Selain kisah dan wisdom-wisdom dari filsuf stoic, seperti Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi yang hidup di tahun 160-180M, banyak quote yang saya suka dari buku ini. Dari banyaknya yang saya garis bawahi, berikut diantaranya yang cukup meresap :

Bahkan saat kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. (Hal. 50)

Kita dihibur bahwa semua hal yang tidak enak itu tidak bisa menghambat kita mencapai kebahagiaan sejati dan karakter yang baik karena dalam keadaan sulitpun kita masih memiliki hal-hal didalam kendali kita (pikiran, persepsi dan pertimbangan kita). (Hal. 73)

Menurut stoisisme, peristiwa-peristiwa tersebut adalah netral (tidak baik, tidak buruk). Namun persepsi, anggapan dan pertimbanganlah yang membuat semua itu menjadi “buruk”. (Hal. 89)

Emosi (negatif) bukan lagi sesuatu yang harus “diperangi”, tetapi bisa “diselidiki dan dikendalikan” dari sumbernya. karenanya ada ungkapan, emosi (negatif) adalah nalar yang tersesat. (Hal. 93)

Pilihan makna itu sepenuhnya ada di tangan kita. (Hal. 94)

Jika mau, sesungguhnya kita mampu memeriksa sebuah peristiwa dan kemudian memutuskan makna apa yang ingin kita berikan. (Hal. 95)

Sesungguhnya rasa damai dan tentram selalu bisa kita ciptakan tanpa harus menunggu hidup memperlakukan kita dengan baik. (Hal. 109)

Salah satu praktik stoisisme -kemampuan untuk tidak hanya menerima , tetapi bahkan menikmati “the present” (masa sekarang). (Hal.122)

Kamu salah jika kamu melakukan kebaikan pada orang dan berharap dibalas, dan tidak melihat perbuatan baik itu sendiri sudah menjadi upahmu. Dan ketika membantu sesama, kita melakukan apa yang sudah dirancang untuk kita. Kita melakukan fungsi kita. (Marcus Aurelius, Meditation). (Hal. 155)

Menghina ada di bawah kendali orang lain , merasa terhina ada di bawah kendali kita. (Hal. 156)

Sesuangguhnya balas dendam terbaik adalah dengan tidak berubah menjadi seperti sang pelaku. (Hal. 158)

Baper itu sumber segala masalah. karena baper dimulai dari persepsi kita sendiri atas sebuah peristiwa (impression) yang sering kali tidak dianalisis dahulu, dan karenanya bisa keliru. Kalaupun benar, tetap saja tidak berguna (karena kita baper mengenai sesuatu di luar kendali kita. Dikotomi kendali lagi). (Hal. 165)

Bagaimana caranya supaya kita tidak mudah baperan?dengan menyadari bahwa kita sendirilah yang bertanggung jawab jika kita merasa tersinggung, marah, tertolak dan bukan orang lain. Selain itu, kerendahan hati untuk menyadari bahwa kita sendiri tidak sempurna dan sering melakukan kesalahan juga menjadi penyeimbang. (Hal. 175)

Kamu akan mengerti bahwa damai pikiran seseorang tidak bergantung pada dewi keberuntungan, karena bahkan saat murka pun ia memenuhi kebutuhan kita dengan cukup. (Hal. 207)

Yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. (Sayyidina Ali bin Thalib, hal. 249)

Akhir kata, saya senang banget bisa menemukan buku ini. Pas banget buat dibaca di bulan puasa atau kapanpun, dimana memperbanyak kita dalam berbuat kebajikan dan pengendalian diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Terlebih sekarang ini kita sedang dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Membaca bisa menjadi salah satu cara mengusir kebosanan.

Sehat-sehat selalu semua. Semangat!!!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *