Saya masih ingat terakhir kali rasanya panik ketika Rayan deman disertai munculnya bintik-bintik merah di badan. Kalau nggak salah saat itu Rayan belum genap berusia setahun. Awalnya saya nggak terlalu khawatir karena pikir hanya digigit nyamuk, cukup diberi minyak telon saja. Ada tetangga mengatakan kalau anak demam itu mitosnya : mau tambah pinter atau mau tambah besar.

Tapi keesokan harinya bintik-bintik merah di tubuh Rayan semakin banyak dan menyebar, langsung saja kami bawa Rayan ke dokter. Dari dokter anak, Rayan dirujuk untuk diperiksa lebih lanjut ke dokter kulit karena diagnosanya bukan DB (Demam Berdarah), bukan juga demam biasa, lalu apa??

Kekhawatiran saya semakin menjadi-jadi sampai menangis, apalagi saat itu saya harus menunggu beberapa hari dan bolak-balik ke rumah sakit, menyesuaikan dengan jadwal dokter. Dokter menjelaskan kemungkinan indikasi alergi terhadap makanan tertentu, selain itu bisa juga karena penggunaan minyak telon dan baby oil secara bersamaan. Akhirnya dokter memberikan obat berupa salep racikan dan sabun khusus alergi. Selang seminggu, alhamdulilah bintik-bintik tersebut sudah hilang dan Rayan kembali pulih.

Belajar dari pengalaman tersebut, seharusnya saya jangan panik duluan ketika menghadapi anak sakit. Teliti dengan gejalanya dan cari informasi tentang penanganannya. Apalagi sekarang ini ada bantuan teknologi yang membuat kita bisa memperoleh informasi seputar apapun dengan mudah di dunia maya, tapi juga harus lihat sumber yang terpecaya ya, buibu. Ada baiknya juga menanyakan tentang gejala dan penyakit anak kepada dokter yang terpecaya daripada mendengar mitos-mitos yang bisa jadi menyesatkan.

Khawatir sih wajar, semua orangtua pasti pernah mengalami, namun jangan sampai kepanikan melahap kita, membuat kita binggung akan langkah apa yang selanjutnya harus dilakukan. Pastikan anak mendapatkan penanganannya yang tepat dan cepat.

Halodoc Bloggers Gathering with The Urban Mama

Beberapa waktu lalu, tepatnya 11 Februari 2018, beruntungnya saya dapat menghadiri event Health Talkshow yang diselenggarakan Urban Mama bersama Halodoc yang membahas “Mitos dan Fakta Seputar Panyakit Pada Anak”, pas banget nih temanya, menjawab segala keresahan buibu. Bertempat di Paradigma Cafe Cikini, hadir pula narasumber, yaitu dr. Herlina, Sp.A, dokter Spesialis Anak yang merupakan salah satu tim medis Halodoc, Felicia Kawilarang, VP Marketing Communication Halodoc, Chacha Thaib, dan Writer & Social Media Influencer.

dr. Herlina, Sp.A

dr. Herlina, Sp.A, menjelaskan tentang mitos dan fakta seputar penyakit anak

Selain tentang mitos dan fakta seputar penyakit anak, kita juga dibekali dengan penanganan pertama ketika anak sakit. Di acara ini, peserta juga dapat leluasa bertanya dan sharing langsung tentang pengalamannya ketika menghadapi anak sakit, juga tentang kebenaran mitos-mitos yang berkembang hingga kini.

Rupanya kekhawatiran ini juga dirasakan orangtua lainnya, bukan hanya saya sendiri (mentang-mentang ibu baru, hehe), Chacha Thaib pun membagikan pengalamannya ketika anaknya sakit, “Sebagai ibu muda, kerap kali saya panik ketika anak sakit. Apalagi balita sedang rentan-rentannya terhadap penyakit. Sering aku mengandalkan ajaran dari para orang tua untuk tindakan pertamanya. Selain itu sebelum berkonsultasi dengan dokter, aku biasanya bertanya dulu kepada teman atau kerabat yang lebih berpengalaman”.

Saya juga begitu, kadang saya menenanyakan terlebih dulu kepada orang tua atau orang terdekat sebelum berkonsultasi dengan dokter. Kadang ada benarnya juga dan walau bagaimana pun orang tua kita pernah lebih dulu mengalamai kekhawatiran yang sekarang ini kita rasakan. Hanya saja dengan mitos-mitos yang beredar, penting juga untuk cross check kebenarannya kepada ahli medis agar penanganannya tepat.

Baca juga  Review Film yang Nggak Spoiler ala Kisekii

Mitos dan Fakta

Adapun penjelasan dr. Herlina, Sp.A mengenai hal-hal dasar yang patut diketahui buibu tentang mitos dan fakta seputar penyakit anak, seperti :

Kejang Demam – Kopi

Demam hingga kejang pada anak dibawah usia 4 tahun biasanya terjadi ketika suhu demam terlampau tinggi. Ada pun faktor lainnya seperti indikasi penyakit lain atau sejumlah virus dan memungkinkan terjadi setelah imunisasi. Sejumlah orang mengatakan bahwa kopi dapat mengatasi kejang. Padahal secara medis tidak disarankan untuk memberikan kopi pada anak karena belum sempurnanya metabolisme tubuh anak. Selain itu, ereksi kafein pada anak memakan waktu lebih lama yang menyebabkan efeknya bekerja lebih lama di tubuh.

Kejang Demam - Kopi

Panas Tinggi – Kompres air dingin

Jika anak terkena panas tinggi, seringkali orang tua mengkompresnya dengan air dingin dan memberikan selimut tebal. Hal ini dipercaya dapat membuatnya berkeringat dan panas pun turun. Padahal harusnya anak dikompres dengan air hangat karena mengkompres dengan air dingin dapat mencegah terbukanya pori-pori dan menghambat perpindahan suhu tubuh. Selain mengkompres dengan air hangat, memberikan obat penurun panas juga disarankan jika perlu.

Panas Tinggi - Kompres air dingin

Mimisan – Menengadahkan kepala

Sering mimisan biasanya disangkutpautkan dengan kelelahan. Mimisan yang terjadi pada anak berusia 3-10 tahun disebabkan karena lapisan pembuluh darah yang lebih rapuh dan mudah pecah dibandingkan orang dewasa.

dr. Herlina juga menjelaskan bahwa mimisan tidak selalu karena kelelahan. Bisa juga karena bagian dalam hidung kering, apalagi kalau iklimnya sedang dingin, Atau tanpa sadar mengorek hidung dengan kuku yang menyebabkan mimisan. Selain itu, bisa juga karena trauma (dikorek-korek tadi), alergi hingga infeksi.

Mimisan - Menengadahkan kepala

Penting untuk buibu mengetahui penyebab awal sehingga penanganannya tepat. Cara kuno yang biasanya dikatakan orang tua untuk mengatasi mimisan adalah dengan menengadahkan kepala ke atas. Padahal cara tersebut dinilai dapat menyebabkan darah yang keluar dari hidung masuk ke saluran pencernaan ataupun pernafasan. Cara yang tepat dan disarankan oleh para ahli adalah menekan hidung beberapa saat dengan posisi duduk atau tegak.

Terlambat Jalan – Berbicara

Belajar jalan merupakan milestone perkembangan anak yang ditunggu orang tua. Beberapa orang percaya ada kaitannya antara berbicara dan berjalan. Jika anak duluan berbicara, maka jalannya terlambat, begitu pula sebaliknya. Saya sih mikirnya, teori ini cuma jadi alasan untuk menyenangkan hati orang tua saja, hehe.

Terlambat Jalan - Berbicara

Adapun fakta terlambat berjalan disebabkan oleh kemampuan motorik dan keseimbangan yang kurang baik. Dan bahwa tidak ada kaitannya antara berjalan atau berbicara duluan.
Buibu dapat mensimulasi anak dengan mengajaknya bergerak supaya melatih otot-ototnya. Bagaimana caranya membuat anak bergerak? bisa memancingnya dengan membuatnya meraih mainan favotitnya atau menyediakan fasilitas untuk rambatan.

Baca juga  Workshop #IbuBerbagiBijak : Perempuan Indonesia Harus Melek Literasi Keuangan dan Berdaya

Gondongan – Blau

Saya termasuk yang kemankan sama mitos kalau gondongan diobati dengan Blau, itu loh serbuk yang warnanya biru-biru trus dioleskan ke bagian yang bengkak. Mitos ini sangat dipercaya oleh masyarakat. Padahal penggunaan blau pada gondongan belum terbukti kebenarannya. Gondongan sendiri disebabkan oleh virus dan pengobatannya berdasarkan gejala tertentu. Penanganan lainnya yaitu dengan dikompres air hangat untuk meredakan rasa sakit akibat bengkak dan istirahat yang cukup.

Gondongan - Blau

Gimana buibu? pencerahan banget kan penjelasannya. Alih-alih berdoa minta penyakit anak ditransfer ke kita (ibunya), mending mindsetnya diubah bahwa kita pun sebagai ibu harus sehat biar bisa mengurus anak dan suami. Buibu juga nggak perlu khawatir yang berlebihan karena di zaman millenial ini segala informasi bisa mudah diperoleh. Namun penting untuk mencari informasi seputar kesehatan dari sumber-sumber yang terpercaya, seperti halodoc.com.

Bapak dan Rayan

Halodoc

Halodoc adalah aplikasi kesehatan layaknya kotak P3K berjalan yang selalu digenggaman dengan memberikan kemudahan dalam menjaga dan memeriksa kesehatan seluruh anggota keluarga. “Dengan berkembangnya mitos dan fakta yang ada di sekitar, kerap membuat ibu mengambil jalan pintas. padahal langkah yang dilakukan belum tentu sesuai anjuran dokter, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin memperparah penyakit sang buah hati. Oleh karenanya, Halodoc berinsiatif untuk mengedukasi para ibu mengenai penanganan medis yang tepat untuk sejumlah penyakit umum pada anak.” jelas Felicia Kawilarang, VP Marketing Communication Halodoc.

Selain membaca artikel-artikel seputar kesehatan di website halodoc.com, buibu juga bisa lebih memanfaatkan fitur-fiturnya dengan menginstall aplikasi halodoc terlebih dahulu di smartphone melalui Google Play ataupun App store. Fitur-fitur apa sajakah itu?

Hubungi Dokter

Melalui Aplikasi Halodoc, masyarakat dapat berkonsultasi langsung dengan dokter melalui video call. Memiliki tim medis, diantaranya ada dokter umum, spesialis anak, internis hingga spesialis mata, yang online 24 jam. “Peran dokter atau ahli medis dibutuhkan dalam memberikan kenyamanan kepada ibu, baik saat penanganan maupun konsultasi. Berkonsultasi dengan ahli medis merupakan tindakan pertama yang tepat sehingga ibu tahu apa yang perlu dilakukan sebelum terlambat karenan penangan yang salah. Dengan saran ahli medis serta tindakan yang benar saat menangani anak ketika sakit, anak dapat pulih dalam kondisi yang cepat”, jelas dr. Herlina, Sp.A

Jika penyakitnya butuh penanganan lebih lanjut, disarankan agar bertemu dan berkonsultasi langsung ke dokter.

HaloDoc : Hubungi Dokter

Halodoc memfasilitasi masyarakat berkonsultasi via video call. Ini memungkinkan untuk kita bisa memilih dokter sesuai dengan keluhan yang dialami.

Pharmacy delivery

Pharmacy delivery atau apotek layanan antar obat 24 jam. Weowe banget kan!! Solusi banget bagi yang sedang membutuhkan jasa layanan antar dengan cepat dan aman, apalagi layanan ini bekerjasama dengan 1000 apotek resmi terdekat.

Baca juga  Murder On The Orient Express | No Spoiler

Tidak hanya itu, pembelian melalui Official Store Halodoc hemat akan mendapatkan diskon hingga 50%. Lumayan kan.

HaloDoc Pharmacy Delivery

Labs

Fitur labs membantu memberikan layanan pengecekan kesehatan yang bekerjasama dengan Prodia. Jika memungkinkan, Phlebotomist (petugas lab) akan datang ke rumah atau kantor dan melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah ataupun urine.

Seriusan nih?? ini sih membantu sekali, coba dari dulu ada Halodoc ya, ibu saya nggak perlu bolak-balik ke lab dengan keadaan sakit. Hmmm. Untuk saat ini fiture labs dapat dimanfaatkan oleh pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan.

HaloDoc Lab

Selain terbantu dengan fitur-fiturnya, saya juga suka dengan baca artikel-artikel seputar kesehatan, anak, wanita, makanan sehat hingga lifestyle.

HaloDoc Blog

Halodoc articles

 

Untuk detailnya, bisa mengakses di website https://www.halodoc.com/
Sosial Media
FB: HalodocID
Twitter : @HalodocID
Instagram : @halodoc
Jangan lupa download juga aplikasinya agar mendapatkan manfaat yang lebih 😃

#katadokterhalodoc cukup menjawab sudah segala kegelisahan para ibu seputar kesehatan kaaan. Dengan adanya Halodoc di zaman milenial ini sangat membantu sekali, daripada dengar mitos yang belum tentu kebenarannya, lebih baik tanya Halodoc. 🙂 Fitur-fiturnya memberikan kemudahan ketika menghadapi anak atau anggota keluarga kita yang sakit untuk mendapatkan penanganan pertama secara tepat. Sangat membantu meredam kepanikan ya, buibu.

Saya sendiri punya pertanyaan tentang mitos yang berkembang ketika hamil, harusnya ini saya tanyakan di talkshow kemarin ya, lupa, haha. Orang-orang percaya bahwa ketika ibu hamil suka dandan dan beberes / resik maka anaknya laki-laki, kalau males dandan dan males ngapa-ngapain anaknya perempuan. Apa ada hubungannya? 😀

Kalau buibu sendiri ada cerita lucu nggak tentang mitos dan kesehatan? Monggo di-sharing ya 🙂