Saya sangat menyukai kejutan. Siapa yang tau keputusan spontan yang kita buat akan membawa kita tempat yang tidak kita bayangkan atau membawa kita bertemu seseorang dan segala kemungkinan lainnya, bukan begitu?? saya menunggu kejutan-kejutan itu.

Semalam, sepulang kantor, saya diajak teman kantor saya, Nopi, nonton sebuah event bernama ‘Puisi Bumi’.

Si Nopi ini emang update banget sama event-event berbau sosial dan kegiatan-kegiatan di kampus UI, Saluteee!! Ini kali keduanya saya diajak nge-gaul sama doi. Yang pertama, event peluncuran buku puisi di café war, Kemang. Berangkatlah kami bertiga naik bajaj ke Kemang, Saya, Nopi dan Rani (turun dari Bajaj bak Bidadari turun dari kayangan, hihihi). Kalau Nopi memang tertarik sama peluncuran bukunya, sedangkan saya dan Rani pengen lihat salah satu pengisi acaranya hehe ada Payung Teduh euy. Dan Si Nopi membawa saya dan Rani ke Spot VVIP-nya dong, kami puas banget ngeliat Payung Teduh dari kursi paling depan. So close!! Thanks to Nopi. Sejak saat itu, saya dan Rani jadi tambah ngefans sama Payung Teduh, kalau ada show-nya Payung Teduh kita sok-sok jadi anak paling gaul se-Jakarta. Hahaha

Kami dan Vokalis Payung Teduh :)

Kami dan Vokalis Payung Teduh 🙂

@Coffee War Kemang, dapat tempat VVIP nonton Performance Payung Teduh

@Coffee War Kemang, dapat tempat VVIP nonton Performance Payung Teduh

Nah, ini kali keduanya kita nge-gaul, sebenarnya saya gak terlalu mengerti ini event apa dan dalam rangka apa? Yang saya tau ada pertunjukan puisi dan musik untuk bumi seperti judul eventnya “Puisi Bumi”. Selain itu, dari banyaknya pengisi acara ada juga penulis novel, Djenar Maesa Ayu dan artis, Melani Subono yang belakangan kita kenal sebagai aktivis juga. Tapi ayok aja lah, kita c’mon, pengen tau juga acaranya seperti apa. Siapa tau dapat ‘kejuatan-kejutan’ juga.

Baca juga  Moment yang Gagal Diabadikan

Setelah sampai sana, saya baru mencari tau kalau event “Puisi Bumi” ini diadakan dalam rangkan menolak Reklamasi Teluk Benoa di Bali.

Puisi Bumi (Puisi dan Musik untuk Bumi) - For Bali.

Puisi Bumi (Puisi dan Musik untuk Bumi) – For Bali.

Kemungkinan ada sangkut pautnya dengan Perayaan hari Galungan yang jatuh pada tanggal 17 Desember, yaitu hari dimana umat Hindu merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).

Semua yang hadir di “Puisi Bumi” menolak Reklamasi Teluk Benoa / tolak diterbitkannya Perpres No.51 Th.2014 oleh Pak SBY yang berisi tentang mengubah Perairan Teluk Benoa dari kawasan Konservasi menjadi zona budi daya, yang memungkinkan terjadi eksploitasi.

Berikut sedikit beritanya :

Dari Jakarta sampai Solo, Ramai-ramai Tolak Reklamasi Teluk Benoa

SBY Terbitkan Perpres Reklamasi Teluk Benoa, ForBALI Layangkan Protes

Meskipun mendapatkan protes dari masyarakat Bali, Pak SBY tetap mengganti Perpres No.45 th.2011 menjadi Perpres No.51 tahun 2014, yang dapat menyebabkan masyarakat Bali tidak berdaulat atas alam dan keindahan lokal wisdom-nya. Jika Pepres No.51 ini disahkan, makin banyak saja investor dengan kepentingan tertentu yang memanfaatkan Bali. Tunggu..tunggu saya lagi ngebayangin kalau tiba-tiba disneyland dibangun di Bali..hmmmm, jangan deh, Bali kita kan sudah terkenal oleh turis lokal maupun asing dengan keindahan alam dan keindahan masyarakat-nya yang masih menganut nilai-nilai leluhur tradisional.

Walaupun saya belum pernah ke Bali, tapi saya gak kepingin kalau Bali kehilangan nilai-nilai tradisional-nya dan tergantikan dengan pulau bisnis semata. Saya langsung bilang sama Nopi “Kalau gitu, gua harus ke Bali secepatnya Nop”, saya merasa kalau sekarang pun Bali sudah sedikit dikuasai dengan ‘tangan-tangan tak terlihat’ atau kalau kata Adam Smith ‘Invisible hands’ atau sebut saja Kapitalisme. Saya sih berharapnya jangan terlalu tercemari dengan ‘tangan-tangan’ itu lah, kalau boleh sekali saja saya ingin merasakan utuhnya keindahan Bali.

Tolak Reklamasi Teluk Benoa Bali (foto: change.org)

Tolak Reklamasi Teluk Benoa Bali (foto: change.org)

Ok.. balik lagi ke acara, 365 Ecobar Kemang ini bener-bener club ternyata, tempatnya remang-remang dan semakin malan semakin dipenuhi dengan asap rokok. Saya pun mulai khawatir dengan rambut saya yang bakal bau rokok, jaket saya yang baru saja dicuci lalu harus secepat ini kena asap rokok, yahh nyuci lagi dah guaa!!! Walaupun begitu, kami tetap setia menunggu sang Diva tampil, beberapa pengisi acara telah membawakan puisi, prosa dan musik, sekitar pukul 20.00 sang Diva pun tampil juga. 🙂

Baca juga  Balik lagi ke Jakarta : Membiasakan Diri Jadi Ibu Super Sibuk

Ingat lagu Lembayung Bali?? Yang liriknya “ Hingga masih bisa kurangkul kalian, sosok yang mengaliri cawan hidupku…”

Ingat penyayinya?? Yak, betuul, ternyata Saras Dewi menjadi salah satu pengisi acaranya dan bodohnya saya baru ‘ngeh’ pas baru sampai café.

Saya excited banget nunggu Saras Dewi nyayi Lembayung Bali. Pas dia muncul…Jreng…jreng… saya terkejut dengan penampilannya yang unyu-unyu banget, yang bener itu Saras Dewi?? “Nopi, itu Saras Dewi, dia kan harusnya udah tua?? Kenapa masih cakep unyu-unyu gitu??” kata saya ke Nopi, eh si Nopi malah bilang “Iya mbak, nyebelin banget yak (in positive way) kayak gak tambah tua gitu, padahal dia dosen filsafat di UI, S3 pula”.

Dan saya pun terpesona sama mbak satu ini..ckckck How come?? Kok malah keliatan kayak girl band?? Hehehe

Dan akhirnya, setelah lagu berjudul ‘Kupu-kupu Barong’ dinyayikan, Lembayung bali yang fenomenal itu dinyayikan juga diiringi dengan alunan gitar sang Suami (Coki Netral).

Saya gak sempat foto-foto, karena ruangan remang-remang banget, kamera saya juga gak terlalu bagus. Tapi saya berhasil ngerekam Lembayung Bali-nya doong!! Kejutan hari ini ternyata saya bisa ngeliat Saras Dewi si empunya lagu Lembayung Bali nyayi begitu dekat dengan kursi panas saya, yeeey!!

Silahkan diputar..

Akhir kata Selamat Hari Galungan bagi yang merayakan!! Keep doing good things, good people!!

Baliiii……. I’m coming!!!

Selamat Hari Galungan

Selamat Hari Galungan