Setiap kita pasti pernah mengalami moment dimana kita menyadari bahwa ada bagian di dalam hidup yang perlu dibenahi. Perlu dibenahi, baik untuk kebaikan diri kita sendiri, maupun untuk kebaikan bersama. Semisal orang yang dulunya merokok, karena orang terkasihnya meninggal gara-gara penyakit yang diakibatkan oleh asap rokok, lalu membuatnya berhenti merokok demi kesehatan dirinya juga kebaikan lingkungan sekitarnya. Atau barangkali ada orang yang tadinya hidup susah, namun ia bertekat untuk mengubah keadannya dengan belajar yang rajin supaya jadi orang berhasil.

Dan, salah satu titik balik seorang Vanti adalah saat dedek Rayan lahir. Mungkin hidup saya baik-baik saja, sejauh ini saya sudah menjadi anak baik-baik. Tapi setelah saya renungi rupanya itu saja tidak cukup. Didepan saya telah lahir satu anak manusia calon penerus bangsa. Ia mencontoh segala prilaku orang tua juga lingkungannya. Jadi, sesering apapun saya berfikir bahwa saya adalah manusia biasa/ ibu rata-rata, saya gak boleh rata-rata, saya harus diatas rata-rata. Saya harus jadi ibu yang cerdas demi Rayan.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul ‘Mendidik dan Membesarkan Anak : Sebuah Amanah’ telah saya utarakan sedikit kecemasan saya bahwa memiliki anak bukan cuma perkara meneruskan keturunan, tapi juga mendidiknya hingga besar nanti, dan sekalinya anak lahir, udah gak bisa di-undo lagi, sebagian lebih hidup kita akan menjadi bagian hidup dari si anak. Oleh karenanya lahirnya Rayan menjadi titik balik saya untuk membenahi hidup. Karena dengan adanya dedek Rayan saya menjadi……

Dedek Rayan

1.Disiplin

Salah satu sifat jelek saya adalah suka menunda pekerjaan, makan aja suka gak disiplin. Kata favoritnya ‘Entar’. Tapi setelah ada dedek Rayan saya berusaha untuk meminimalkan kata ‘Entar’. Waktu dedek Rayan lahir, salah satu sanak keluarga mendoakan saya sambil berkata ‘Semoga selalu mendahulukan kepentingan anaknya’. Rupanya kalimat itu cukup membekas di pikiran saja. Jadi, setiap kali kata ‘Entar’ mencoba masuk, lalu kalimat ‘Semoga selalu mendahulukan kepentingan anaknya’ cepat-cepat mengurungkan niat si kata ‘Entar’.

Baca juga  Balik lagi ke Jakarta : Membiasakan Diri Jadi Ibu Super Sibuk

Salah satu contohnya, kalau tengah malem dadek Rayan harus ganti popok, tetapi rasa kantuk gak tertahan saya buru-buru ingat kata ‘Semoga selalu mendahulukan kepentingan anaknya’, atau waktu saya sedang asik-asiknya menulis, kemudian Rayan tetiba bangun dari bobo-nya, ya saya buru-buru menyingkirkan leptop saya. Duty calls.

Saya juga mencoba menanamkan disiplin ke Rayan, seperti jadwal mandi pagi, mandi sore, bangun pagi, tidur malam, bangun malam untuk mimik dan lainnya. Hal ini membantu daya ingat Rayan agar dapat mengikuti ritme aktivitas hariannya (baca dari buku).

Percaya gak percaya, sekarang Rayan rutin bangun pagi jam 4.30, kemudian berjemur pukul 7.30, lalu mimik dan mandi. Setelah mandi ia tidur sampai kira-kira jam 11.00. Pukul 15.30 Rayan mandi lalu tidur. Disela-selanya diisi dengan main, mimik dan tidur kecil-kecilan. Hihihi. Rayan juga mulai ‘ngeh’ sama ritme-nya, kalau dia udah ditaro di bantal lemesnya, dia tau kalau sebentar lagi dia bakal dikasih mimik, jadi nangisnya berhenti. Bantal lemes = dikasi mimik, kayak belajar semiotika ya seputar penanda petanda. 😀 Mendung penanda sebentar lagi turun hujan, eh bener kan? Penanda bukan petanda?

  1. Mengatur waktu.

Kini saya tidak bisa semena-mena terhadap waktu. Saya berusaha untuk tetap menulis, disela-sela Rayan tertidur, sering kali siang atau malam hari. Pagi hari, setelah mandi biasanya Rayan tidur, lalu saya buru-buru mandi, beberes, sesekali masak kalau kepingin. Saya juga menyadari bahwa saya harus menjaga tubuh ini agar tetap fit, maka saya pun perlu tidur cukup, kadang saat Rayan tidur, saya pun ikut tidur. Yah, pintar-pintar mengatur waktu saja, dan sejauh ini aktivitas harian saya mengulang kegiatan diatas. Rasanya hari berjalan cepat.

  1. Menjaga hati.
Baca juga  Working at Home Mom dengan Segudang Aktivitas

Hidup saya juga gak melulu happy seperti yang dibayangkan, memang sih sebagian besar happy, tapi saya kerapkali merasa kesal, sedih, marah, campur aduk lah. Katanya sih namanya Baby Blues Syndrome. Beberapa kali saya biarkan si syndrome ini bertengger di diri saya, abang tuh yang sering kena batunya, hehe. Tapi gak lama saya menyadari kalau saya harus happy supaya dedek Rayan ikut happy, katanya emosi ibu suka menular ke anaknya loh. Selain itu, perasaannya dijaga biar ASI-nya keluar, biar dedek enak minumnya. Dengerin musik yang damai-damai, kayak lagunya Katon Bagaskara – Negeri Di Awan, lagunya Michael Buble atau musiknya Depapepe juga bantu bikin hati damai serasa di pantai.

Tetapi ada masanya juga, pasca kelahiran, saya gak kuat menyimpan emosi seorang diri, saya memutuskan untuk cerita ke kakak atau suami. Pura-pura happy disaat diri sengsara juga gak sehat, salah-salah bisa depresi.

4. Menjaga tubuh agar tetap segar & wangi.

Biasanya bodo amat sama badan, tapi sekarang kudu dijaga dan dirawat. Tentunya saya gak mau dong Rayan mengenali aroma ibunya yang gak sedap. Jadi saya harus mandi tjantic biar segar dan wangi setiap saat. Kalaupun gak mandi karena airnya dingin banget (maklum di kaki gunung), tapi saya harus bersih segar. Pakein minyak telon biar baunya sama kaya Rayan. Hihihi. Biar Rayan mengenali bau ibunya yang harum.

  1. Menjaga makanan

Sebelum dedek Rayan lahir saya juga sudah mulai menjaga asupan makanan yang saya konsumsi. Banyak-banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi karena bagus untuk janin Sekarang pun mulai terbiasa dengan pola makan sehat, pokoknya kalo makan harus ada sayurnya, trus diimbangi makan buah. Walaupun sayur bukan makanan favorit saya di dunia, hehe (tips makan sayur) tapi demi Rayan apapun saya lakukan, karena hanya melalui ASI dedek memperoleh asupan makanan bergizi (makanan memperlancar ASI).

Baca juga  Mendidik dan Membesarkan Anak : Sebuah Amanah

Saya gak tau, kedepannya apakah saya bisa terus menjaga 5 kebiasaan ini? Ada kalanya walaupun saya ingin menjadi pribadi lebih disiplin, tapi kadang saya juga merindukan saat bermalas-malasan di hari sabtu yang cerah. Walaupun kini saya banyak makan makanan rumahan, tapi saya juga merindukan jajan di luar rumah, makan fastfood tanpa mikir gendut.

Saya menikmati saat-saat mengasuh Rayan, becanda dengannya, mandiin Rayan, namun saya juga menikmati saat dimana Rayan tertidur karena saya dapat melakukan apapun yang saya suka. Karena dengan adanya Rayan, saya jadi menata kembali hidup sambil menikmati hal-hal kecil yang terjadi di dalamnya. 🙂

Ibu dan Rayan

Ibu dan Rayan