Monas atau Monumen Nasional memang tak pernah kehilangan pesonanya. Meskipun banyak tujuan wisata baru di Ibu kota, ikon Ibu Kota ini tetap ramai dipenuhi pengunjung. Baik warga Jakarta maupun luar Jakarta beramai-ramai ke sana.

Monas selalu menjadi tujuan wisata bersejarah sekaligus tepat hiburan rakyat yang murah meriah. Pada akhir pekan (sabtu – minggu) bisa lebih ramai dari pada hari biasa karena ada pertunjukan Air Mancur Menari dan event-event lainnya.

Terakhir kali saya ke sana saat sedang hamil, menjadi tour guide saat keluarga suami datang ke Jakarta. Sekarang anak yang dulu di dalam perut sudah bisa lari-larian. Senang banget memang anaknya kalau diajak ke tempat terbuka, apalagi Monas sekarang sudah jauh lebih bersih dan terawat.

Sebelumnya malah setiap hari minggu pagi, 2 minggu sekali, saya pergi ke Monas buat olahraga dan kebetulan ikut komunitas juga. Sejak kuliah di luar kota, sudah lama saya nggak ke sana lagi.

wisata monas

Setelah sekian lama, malam minggu kemarin (25/11) saya bersama keluarga jalan-jalan ke Monas. Berawal dari rekomendasi tante saya, ‘Pasti Rayan senang diajak ke Monas lihat air mancur menari dan lari-larian’. Beberapa kali kami sempat gagal ke sana lantaran hujan. Mumpung hari itu awannya cerah dan tidak ada tanda-tanda turun hujan akhirnya jadi juga.

Kami parkir mobil di parkiran stasiun Gambir, sebelumnya dikasih info kalau parkir di parkiran Monas sangat penuh dan tidak disarankan. Meskipun dari Gambir menuju pintu masuk Monas jaraknya agak jauh dan mutar tapi tidak apa lah, toh parkirnya lebih terjamin daripada parkir di pinggir jalan.

Di kawasan dalam Monas sudah tidak ada lagi pedagang-pedagang asongan yang berjualan. Untuk penjual yang resmi disediakan lapak di dekat parkiran, jadi sebelum masuk ke kawasan dalam Monas, kita akan melewati lapak-lapak aneka kuliner dan oleh-oleh Jakarta.

Penjual Kerak Telor di Monas

Tenant Kuliner Monas

Meskipun tidak hujan (dan katanya Jakarta panas), tapi bagi saya angin malam itu cukup sejuk. Jadi sangat disarankan untuk membawa Jaket, lindungi anak-anak dengan Jaket. 😃

Baca juga  Arion Mall : Masih Tegak Berdiri Hingga Kini

Setiap malam minggu, pertunjukan Air Mancur menari terdiri dari 2 gelombang, yaitu pukul 19.30 dan 21.00. Awalnya niat nonton yang jam 19.30, tapi karena kami molor, hehehe, jadi kami kebagian yang jam 21.00.

Itu pertama kalinya saya melihat air mancur menari. Rayan di gendong bapaknya di pundak. Saat pertunjukan dimulai, lampu dimatikan, orang-orang mulai mengangkat kamera untuk mengabadikan. Pertunjukan air mancur diiringi dengan simfoni lagu-lagu daerah di Indonesia yang di arransemen ulang oleh Addie MS.

Air Mancur Menari Monas

Selama kurang lebih setengah jam, telinga kita dimanjakan dengan alunan musik, seperti : cublak-cublak suweng, suwe ora jamu, ayo mama, dll

Meskipun musiknya tidak ada vokalnya (alias hanya instrumen saja), tapi Rayan sepertinya malah lebih enjoy mendengar alunan musik yang mengiringi air mancur menari ketimbang melihat air mancurnya sendiri, soalnya dia joged-joged.

Setelah pertunjukan selesai, kami langsung bergegas pulang. Kami berjalan ke pintu keluar beramai-ramai dengan pengunjung Monas lainnya. Meskipun diantaranya ada yang masih santai-santai, duduk-duduk, bermain-main di kawasan dalam, pengunjung diarahkan petugas ke pintu keluar karena akan segera tutup. Jadi sudah nggak ada lagi tuh orang-orang yang bermalam di dalam kawasan Monas. Kini udah lebih teratur.

Sebenarnya saya masih belum puas jalan-jalan Jakarta, apalagi waktu melihat ada bus bertingkat di depan gerbang, rasanya pingin naik terus diajak putar-putar ibu kota. 😃 Tapi karena sudah malam dan bawa dua bayi akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Bubur Cikini H.R. Suleman

Yang namanya jalan-jalan kurang lengkap kalau nggak kulineran,
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, sebelum pulang kami mampir dulu ke Bubur Cikini H.R. Suleman. Ternyata Buka 24 jam. weeew!!

Baca juga  Menikmati Keagungan Tuhan di Pantai Batu Bengkung yang Memesona

Bubur Cikini memang cukup melegenda sebagai kuliner di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Rasanya bubur banget, ditambah topping ayam kampung, cakwe dan emping. Karena rasanya bubur banget, jadi supaya lebih gurih, makannya ditambah dengan kecap asin. Top! Padahal rasa bubur aslinya aja sudah enak, ditambah kecap asin lebih berasa lagi. Selera sih.

Kalau saya dan saudara-saudara saya dari dulu sudah suka sama bubur cikini, lidah kami sudah cocok. Kalau suami, karena nggak terlalu suka bubur akhirnya dia memesan nasi goreng daging sapi pedas. Dan enak juga itu.

Bubur Cikini dan Nasi Goreng daging H.R. Suleman

Kami pun pulang dengan perut kenyang, hasrat jalan-jalan pun sudah terpenuhi. Meskipun liburannya di sekitar Jakarta saja, tapi itu sudah mengurangi kemumetan pikiran.

Akhir kata,

Kunjungan kami malam itu lebih dari sekedar melihat air mancur menari, tapi lebih ke merayakan indahnya malam, berjalan sambil menikmati angin malam tanpa takut di tabrak kendaraan umum, melihat gedung-gedung yang tinggi Jakarta yang tak kami lihat setiap hari, juga mengajak Rayan bermain di taman terbuka. Pemandangan Jakarta malam itu sukses membuat saya terpesona

Tenant-tenant di Monas

Malam minggu di Monas

Buat warga Jakarta yang butuh refresing dari padatnya aktifitas, pingin liburan kilat dan nggak repot atau ngajakin buah hati ke taman terbuka, Monas bisa menjadi pilihan tempat wisata.

Buat wisatawan dari luar kota, silahkan kunjungi Monumen Nasional. Untuk bisa menikmati pertunjukan air mancur menari, silahkan datang malam hari. Tapi kalau untuk mengunjungi Musium Sejarah Nasional yang ada di dalam Monas dan melihat pemandangan kota Jakarta dari puncak Monas, silahkan datang pada pagi hari, karena kalau siang ramai dan panas, kalau malam sudah tutup, hehe.