Nostalgia Serial Favorit

Dari banyaknya serial Amerika yang menjamur, ada beberapa yang sampai sekarang masih sering gw tonton ulang, yaitu serial How I Met Your Mother (HIMYM) dan The Big Bang Theory. Kedua sitkom ini sangat possible untuk ditonton secara random / acak, tapi kalau ada yang belum pernah menonton, lebih baik ditonton dari awal dan dicicil, maraton juga boleh kalau ada waktu. Pas banget ditonton, untuk mengusir penat setelah disibukkan dengan aktivitas sehari-hari dan pekerjaan. Selain ceritanya yang ringan dan menghibur, durasinya pun pendek, jadi tidak terlalu banyak menguras waktu dan pikiran. Sekalian nostalgia.

How I Met Your Mother (HIMYM)

HIMYM merupakan serial sitkom asal Amerika yang sudah tayang 9 season dari tahun 2005 – 2014. Melalui cerita kilas balik, Ted Mosby ( Bob Saget – sebagai Ted yang sudah tua / narator) bercerita kepada kedua anaknya tentang masa mudanya atau kehidupannya sebelum (dan bagaimana) ia bisa bertemu dengan ibu dari anak-anaknya. 

Meskipun serial sitkom ini sudah tamat, namun jangan buru-buru ingin tau bagaimana ending-nya dan siapakah sosok ibunya karena itu baru akan terungkap di season terakhir, season 9. Sepanjang season, penonton tidak hanya diajak untuk menebak-nebak siapa jodohnya Ted (Josh Radnor), tapi juga lebih banyak menyoroti kehidupan Ted bersama keempat sahabat karibnya, Marshall Eriksen (Jason Segel), Lily Aldrin (Alyson Hannigan), Robin Scherbatsky (Cobie Smulders) dan Barney Stinson (Neil Patrick Harris) melewati hari-hari di kota New York.

Suka sama jokes-jokes-nya, kadang dibikin tertawa sama kekonyolan lima sahabat ini, tapi ada juga moment sedih dan harunya. Karakter-karakternya sangat menarik dan menghibur. Mulai dari Ted yang memang fokusnya cari jodoh. Semenjak sahabat sekaligus roommate-nya, Marshall, berencana melamar Lily, Ted jadi terpicu ingin menemukan ‘The one’ dan membayangkan memiliki keluarga ideal. Lalu ada pasangan serasi, Marshall dan Lily, yang agak konyol, tapi sweet. Robin, seorang perantauan asal Kanada, yang berkarir sebagai jurnalis di New York, dan juga menjadi love interest-nya Ted. Lalu yang terhalu dan terkonyol dari ke lima serangkai ini adalah Barney, tingkahnya tuh ‘ajaib’ (dan memang digambarkan suka sulap), suka bikin mind blown, nggak jelas kerjanya apa, tapi tajir, pun playboy. Memang sekonyol itu si Barney, namun ada juga kekonyolannya yang berkesan kurang proper kalau diterapkan di zaman sekarang, apalagi lelucon yang merujuk ke arah perempuan. Menurutku itu yang sedikit menuai kritik. Coba deh nonton beberapa episode, nanti pelan-pelan kecanduan.

Selain mendapat komedinya, banyak pembelajaran tentang kehidupan (persahabatan, percintaan, dll) yang dapat kita petik. Meskipun How I Met Your Mother sering disamakan dengan serial sitkom Friends (1994-2004) karena mengusut tema serupa, tapi tetap saja tema tentang persahabatan yang dibungkus dengan komedi tidak akan pernah terasa usang, bahkan hingga kini HIMYM merupakan salah satu sitkom terbaik di Amerika. 

Sudah tujuh tahun berlalu sejak season terakhirnya, namun sepertinya gw belum move on – move on amat sama sitkom satu ini, hahaha. Kadang kalau lagi iseng atau mati gaya, gw suka asal milih season dan episode dari HIMYM, lalu ya gw tonton aja, kangen sama tingkah lima sahabat ini :). 

Saking sukanya, sampai-sampai gw dulu berpikir, kalau HIMYM tamat, hari-hari gw kedepan nggak akan terasa sama lagi, hihihi lebay yak. Sebenernya gw masih agak kecewa sama akhirnya yang harus dipaksakan. Ted oh Ted, whyyy? Why Robin?? They deserve a better ending. Terima kasih ya HIMYM, sudah menemani dari sebelum lulus kuliah, sampai wisuda. 

Buat yang mau nonton, terakhir kali gw cek, serial HIMYM sudah tidak tayang lagi di Netflix, tapi di Disney+ Hotstar ada kok. Silahkan ditonton. Beberapa hari lalu serial How I Met your Father sudah tayang di Hulu, penasaran sih pingin nonton, apakah akan se-epic HIMYM? hmmm.

The Big Bang Theory 

Ini bukan tentang film dokumenter yang menceritakan ledakan dahsyat awal mula penciptaan alam semesta kok, The Big Bang Theory adalah serial sitkom asal Amerika buatan Chuck Lorre dan Bill Pardy yang bercerita tentang kehidupan nerds / para kutu buku yang berkecimpung di bidang sains. Jadi jangan heran kalau pada dialog-dialognya akan ada pembahasan / istilah sains yang dikemas dengan komedi ringan, memicu gelak tawa. Jokes-jokes-nya masih dapat dimengerti kok, meskipun penontonnya bukan orang sains, seperti saya. Salut untuk penulis skrip-nya, pasti butuh riset lebih untuk meleburkan sains dengan komedi.

The Big Bang Theory telah tayang 12 Season (2007- 2019). Di awal kemunculannya, ada lima karakter yang memainkan peran utama, yaitu Leonard, Sheldon, Howard, Raj dan Penny.  Keempat karakter ini, kecuali Penny, bukan hanya para kutu buku biasa, tetapi mereka adalah para ilmuwan yang meraih gelar master dan PhD-nya sebelum berusia 30 tahun. Leonard Hofstadter (Johnny Galecki) memiliki gelar PhD di bidang fisika eksperimental, sedangkan Sheldon Cooper (Jim Parsons) lulus S1 dengan predikat summa cum laude di usia 14 tahun, dan meraih gelar PhD di usia 16 tahun, juga memiliki ingatian yang tajam / identik. Ada pula Rajesh Koothrappali (Kunal Nayyar), seorang astrofisika bergelar PhD yang berasal dari India, dan Howard Wolowitz (Simon Helberg), seorang engineer bidang teknik mesin yang bergelar master.

Diawali ketika Penny (Kaley Cuoco), seorang aktris merangkap pelayan di Cheese cake Factory, baru saja menempati apartemen barunya dan bertetangga dengan dua fisikawan, yakni Leonard dan Sheldon. Ada pula Raj dan Howard, teman sesama ilmuwan dari Caltech University, yang sering datang ke apartemen Leonard dan Sheldon. Sejak saat itu kehidupan Penny diwarnai dengan tingkah konyol para kutu buku ini.

Meskipun kita sering dibuat tertawa melihat tingkah para nerds, tapi serial sitkom ini juga memperlihatkan kita akan perundungan yang kerap kali alami para kutu buku. Contohnya, Sheldon yang kerap di-bully dari kecil, ia sering dianggap ‘anak ajaib’. Leonard pun memiliki trauma karena sering dibandingkan dengan kedua kakaknya yang lebih sukses.

Serial ini juga sarat menyelipkan isu kritis, seperti rasisme. Contohnya saja, Raj yang sering mendapat candaan mengarah ke stereotip karena ia orang India yang beragama Hindu, pun kepada Howard karena ia seorang Yahudi. Penny, sebagai satu-satunya karakter yang bukan ilmuwan pun kerap mendapat sindiran. Jangankan Penny, Howard saja kerap diolok-olok karena satu-satunya dari empat serangkai ini yang tidak bergelar PhD, melainkan master.

Hal-hal seperti ini bisa sangat menyinggung dan mengusik pribadi seseorang, akan tetapi alih-alih diselimuti dengan kesedihan, kemasan situasi komedi menjadi jalan lain untuk mendekatkan isu ini pada masyarakat. Setiap karakter seolah telah diberi suntikan kekuatan dan telah berbangga atas pencapaiannya, meskipun yang namanya pencapaian dapat dimaknai berbeda. Hal ini dapat menjadi kesempatan besar karena dapat memutar balikkan kelemahan menjadi kekuatan. Di sisi lain, berbangga diri yang terlalu berlebihan dapat menjadi menjengkelkan jika seperti Sheldon yang selalu menganggap dirinya lebih di atas orang lain, tapi Sheldon memang ‘ajaib’ dan konyol sih, disitulah menghiburnya.

Bahkan karakter Penny yang terkesan mudah diintimidasi pun diberikan kekuatan. Tidak mudah menjadi satu-satunya orang yang kurang berprestasi di circle pertemanan yang diisi dengan orang-orang jenius di bidang sains, namun ia seolah memaklumi dan tidak begitu saja menyerah atau menghindar, sebaliknya ia malah membaur. Penny membuatnya terlihat mudah. Kekuatan karakter Penny sangat terlihat ketika ia bisa bersama-sama menertawakan kelemahannya sendiri saat disindir halus/ sarkas oleh para nerds, bahkan candaan sarkas ini juga dapat dibalikkan lagi oleh Penny. Buat sebagian orang, sindiran sarkas bisa kena ke mental.

Semakin lengkap saat karakter Bernadette Rostenkowski (Melissa Rauch) dan Amy Farrah Fowler (Mayim Bialik) hadir sebagai penyeimbang dari karakter-karakter yang dinilai saklek. Baik karakter lama, maupun karakter baru diberikan kesempatan untuk berkembang dan saling melengkapi. 

Nggak bosen-bosen nonton Big Bang Theory, apalagi serial sitkom ini masih ditayangkan ulang di Warner TV, di netflix juga ada. Sejak nonton ini, jadi tau jokes-jokes-nya orang-orang sains. Ikut heran ketika ada dialog-dialog yang melibatkan sains, tapi tak jarang dibuat tertawa dengan pembawaan setiap karakter yang kocak. Dibandingkan HIMYM, gw lebih suka ending dari Big Bang Theory sih. Buat yang sedang lelah dengan aktivitas hari-harinya, coba deh nonton ini, dijamin terhibur. 

BONUS

Sebenernya gw mau nulis poin ketiga antara serial Friends atau Crime Scene Investigation (CSI), dua serial ini juga sempet jadi pilihan untuk gw tonton ulang secara random dan kadang maraton. Kalau serial Friends sampai sekarang juga masih tayang ulang di Warner TV, bisanya deketan tuh jadwalnya sama The Big Bang Theory, dan bisa dicari juga di Netflix.

Sedangkan CSI, gw masukan ke list sebagai perwakilan serial genre investigasi karena gw juga penikmat genre ini. Meskipun investigasi, tapi kasus serial ini kebanyakan lepasan kok, jadi bisa ditonton secara random. Memang harus sedikit mikir, namanya juga investigasi, dimana harus menyelidiki kasus untuk mengungkap pelaku kejahatan. CSI sendiri memiliki 3 series yang berbeda, CSI New York, CSI Miami dan CSI Las Vegas. Sayangnya, belakangan ini CSI jarang gw lihat di TV, dan susah pula carinya karena nggak ada di Netflix ataupun platform streaming film kebanyakan, ditambah sekarang makin banyak pilihan serial tv baru bergenre investigasi yang bisa ditonton online

Akhir kata, hikmah dari suka mengulang menonton film adalah berjalannya waktu, dengan bertambahnya kedewasaan dan wawasan, ada hal-hal yang ternyata baru bisa gw pahami sekarang. Mungkin waktu itu, ada bagian film yang terlewat / terlupa / kurang paham maksudnya, jadi seperti mendapatkan pemahaman dan rasa yang baru meski dari film yang sama. Bisa juga untuk menghadirkan rasa itu lagi, nostalgia. 

Selamat menonton.




Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *