Rencananya di bulan ini mau mengejar ketinggalan. Polanya selalu saja begitu, dibiarkannya blog ini tak berpenghuni selama berberapa bulan, tiba-tiba menulis saja semauku. Maafkan. Lagi minta maaf sama diri sendiri karena nggak bisa konsisten. Padahal ibu pernah bilang, “Kerjakan saja pelan-pelan, satu-satu, tapi jangan berhenti”. Tapi ku lalai lagi.

Sebenarnya masih tetap menulis, apalagi saat pandemi ini tentu banyak hal, khususnya uneg-uneg yang harus dikeluarkan. Tetapi tidak ku publish soalnya ku tulis di buku tulis dan binder, hehe sedang melatih jari-jemari agar nggak kaku kayak goodybag baru. Mau disortir dulu, mungkin ada beberapa yang bisa di-publish di blog.

Berhubung bulan ini bulan kelahiranku, jadi rasa-rasanya semesta memberikan bonus energi untuk kembali mencoba. Sedikitnya harus ada yang ku raih, meskipun sekedar menyapa yang sudah lama kutinggalkan. Banyak yang ingin diceritakan, tapi ku binggung dari mana harus memulai. Mari kita generalisasikan 2020 (peristiwa yang telah kita lewati bersama-sama, yang tak akan terlupakan dan tercatat dalam sejarah)

2020 dan Pandemi

Tidak ada yang biasa-biasa saja di tahun 2020. Sejak bulan Maret dunia diserang virus bernama ‘Covid-19’ atau ‘Virus Corona’ yang banyak menelan korban karena penyebarannya yang cepat. Dunia menyatakan peristiwa ini sebagai Pandemi. Yang berarti di bulan November ini sudah 9 bulan kami dalam masa pandemi. Pandemi mengubah segala kebiasaan dan gaya hidup masyarakat.

Kami menjadi lebih aware dengan kesehatan dengan selalu mengenakan masker saat keluar rumah, sering mencuci tangan, dan sedia hand sainitizer kemanapun kami pergi, juga menjaga jarak satu sama lain / social distancing. Tidak hanya itu, kami juga diimbau untuk tidak mengunjungi pusat-pusat keramaian, jika tidak ada keperluan yang mendesak. Apapun lebih baik dilakukan di rumah.

Banyak kantor yang memberlakukan penyesuaian agar pegawainya dapat bekerja di rumah / work from home (WFH), termasuk suamiku. Sejak bulan Maret, abang sudah tidak pernah berangkat ke kantor lagi, semua dilakukan secara remote. Beruntung pekerjaannya tidak membutuhkan kehadiran, namun ada pula pekerjaan yang mengharuskan pegawainya tetap hadir sesuai dengan protokol. Sekolah pun serupa, anak-anak kini tidak diimbau untuk hadir secara fisik ke sekolah, semua dilakukan online dengan banyak penyesuaian baru.

Tidak mudah kami melewati semua ini. Banyak orang diPHK karena selama pandemik perusahaan mereka kurang menghasilkan. Kami masih beruntung karena suami tidak kehilangan pekerjaan. Meskipun pendapatan sampingan kami dari kosan berkurang karena anak-anak kos yang mahasiswa kembali ke rumahnya masing-masing, tapi kami masih sangat bersyukur karena segalanya dicukupkan.

Menjaga Semangat di Tengah Pandemi

Pandemi juga banyak melahirkan kisah inspiratif -haru, mulai dari mereka yang berjuang betahan hidup/ survivor covid-19, para tenaga medis yang merenggut nyawa dan dikenang karena pengorbanannya memangani pasien covid-19, mereka yang berinovasi untuk bertahan hidup dari himpitan ekonomi akibat pandemik, alih profesi dan usaha-usaha baru bermunculan, guru-guru yang mengajar tak kenal lelah, munculnya bakat-bakat tersembunyi, hingga mereka yang berkumpul kembali di rumah. Kamu yang mana?

Masing-masing kita pasti punya cerita, meski hanya di rumah saja. Banyak alasan untuk bersyukur, meski pandemi tak kunjung usai.

Bersyukur karena dapat bertahan melewati ‘ujian’ hingga kini masih berdiri tegak dan tersenyum.

Bersyukur karena terjaga kesehatan dan kewarasan.

Bersyukur karena peristiwa ini (atau apapun) menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Semoga dunia cepat pulih.

Sudah dulu, ku mau buat brownies. 🙂