Potret Hubungan Anak dengan Sang Ayah dalam Film Everybody’s Fine

Dulu kalau ditanya genre film kesukaan, jawaban saya selalu Comedy Romantic, namun seiring berjalannya waktu kegemaran saya makin bervariasi mulai dari drama, investigasi, sci-fi, kolosal hingga action. Porsinya sama. Jadi kalau sekarang ditanya lagi, jawabannya tergantung jalan cerita, keunikan kisahnya, hingga sinematografi-nya.

Suka juga film yang menginspirasi serta memberikan pesan tersendiri. Ngomong-ngomong soal film yang menginspirasi. Saya jadi ingat sebuah film drama keluarga berjudul Everybody’s Fine. Udah nonton film ini dari jaman kuliah dan film ini menyentuh banget buat saya karena ide ceritanya mengangkat sebuah potret hubungan anak dengan sang ayah yang seringkali tema- tema seperti itu memiliki kedekatan dengan kehidupan kita.

Selain menampilkan sebuah potret keluarga, film ini juga berpesan akan nilai kejujuran. Bebicara soal kejujuran, saya termasuk orang yang tidak bisa berbohong, ketauan banget deh pokoknya, apalagi kalau bohong pada suami, dengan mudah ia bisa melihat bahwa there’s something wrong with his wife.

Namun kalau pada orang tua, setelah pikir-pikir, saya lumayan sering berbohong, bukan berbohong yang gimana-gimana ya.. misalnya gak ngaku kalau saya yang makan ayam goreng di meja, bukan bohong yang seperti itu, melainkan kadang saya menutupi keadaan saya yang kurang baik agar orang tua tidak khawatir. Misalnya saat  saya ke luar negeri selama 2 bulan, ketika ditanya kabar, saya menjawabnya sebatas kabar baik-nya. Padahal, selama seminggu saya dan teman saya sempat tinggal tanpa listrik dan harus mencari tempat tinggal baru karena pemilik apartemen sebelumnya tidak membayar listrik.

Rasanya lebih enak gitu memberikan kabar baik kepada orang lain, padahal kenyataannya tidak sebaik itu. Tak perlu lah mereka tau yang buruk-buruk, mereka cukup tau baik-baiknya saja.

Balik lagi ke film Everybody’s Fine. Dalam film ini ada satu quote yang berkaitan dengan sifat saya yang tak ingin membuat orang lain khawatir, yaitu:

“I tell you the good news and spare you the bad. Isn’t that what mom used to do for you when we were kids?”- Amy (Everybody’s Fine)

Yang dimaksud dalam quote tersebut adalah sering kali kita menyembunyikan kabar buruk dan hanya mengatakan kabar baiknya saja, serta cenderung mengatakan mengenai apa yang mereka ingin dengar.

Everybodys fine

Sinopsis:

Anyway, film ini menceritakan kisah Frank (Robert De Niro), seorang pria tua pensiunan yang kesepian sepeninggal sang istri. Keempat anak-nya telah memiliki kehidupan masing-masing di kota yang berbeda-beda. Amy (Kate Beckinsale) seorang eksekutif advertising yang tinggal bersama anak dan suaminya di Chicago, Robert (Sam Rockwell) seorang konduktor musik yang berkarir di Denver,  Rosie (Drew Barrymore)  seorang Penari yang berkarir di Vegas dan David seorang Seniman yang berkarir di New York.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Frank akan tiba, hari dimana keempat anaknya akan berkunjung dan berkumpul bersama. Segalanya telah Frank siapkan untuk menyambut keempat anaknya, namun satu persatu sang anak memberikan kabar bahwa mereka tidak bisa hadir karena satu dan lain hal.

Mengetahui hal tersebut, Frank memutuskan untuk mengunjungi anak-anaknya dan mengabaikan nasihat dokter bahwa ia tidak boleh berpergian jauh dengan alasan kesehatan. Selama perjalanan mengunjungi anak-anaknya, Frank menyadari bahwa ada hal yang mereka sembunyikan dan mengetahui kenyataan bahwa tak semua sebaik yang ia ketahui.

Review:

Saya suka sama lagu pembuka film ini berjudul Catch A Falling Star, dibarengi dengan menggambaran aktivitas Frank seorang diri sebagai pria tua. Sepanjang film perasaan kita seringkali dibuat galau, mmmmm bukan galau sih, mungkin kata yang tepat adalah gloomy. Jangan berharap adanya adegan penuh atraksi heboh seperti Home Alone, Cheaper By The Dozen, Grown Ups, dan film keluarga lainnya. Film ini benar-benar menceritakan suatu kisah sederhana namun cerdas, bermakna dan manusiawi, diiringi dengan alunan musik yang lembut serta sinematografi yang menciptakan kedekatan antara penonton dengan tokoh Frank. Bagaimana seorang pria tua yang kesepian mendapati anak-anaknya bukan lagi anak-anak, tetapi telah menjadi manusia dewasa yang memiliki kisah dan permasalahan masing-masing

Saya jadi ingat bagaimana respon mamah ketika pacar saya (sekarang sudah menjadi suami) dulu datang melamar saya. Kala itu usia saya 22 tahun dan mama masih menganggap saya gadis kecil yang ia kenal beberapa tahun yang lalu dengan sifat saya yang dibilangnya keras kepala dan pemberontak. Hahaha.. Mungkin saat itu mamah menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu cepatnya, si gadis kecil keras kepala kini telah berubah menjadi gadis dewasa, hingga datang seorang pemuda yang melamar gadis kecilnya itu.

Meskipun waktu terus berjalan, zaman kian berubah, namun kadang pandangan orang tua kepada anaknya tidak pernah berubah.

Dalam film ini ada satu scene dimana Frank dan keempat anaknya berkumpul bersama di satu meja. Namun keempat anaknya tidak ditampilkan dengan sosok dewasa, melainkan dalam sosok anak kecil yang dulu ia kenal. Dan, Frank mendapati kenyataan pahit bahwa ia yang sekarang tidak terlalu mengenal anak-anaknya. Rupanya banyak hal yang disembunyikan keempat anaknya terhadap Frank, banyak hal-hal yang tidak dikatakan dan bahwa banyak hal tidak berjalan baik-baik saja seperti yang ia tahu dan dengar.

foto : childstarlets.com
foto : childstarlets.com

Satu lagi hal cerdas yang digambarkan oleh Kirk Jones (penulis sekaligus director film ini), yakni scene yang memperlihatkan pemandangan saat perjalanan Frank, namun jika dilihat lebih jeli lagi yang dimaksud adalah tiang-tiang dan kabel telfon yang berfungsi sebagai media komunikasi dimana orang-orang dapat bertukar kabar meskipun dalam keadaan jauh sekalipun. Scene tersebut diiringi dengan voice over anak-anak Frank yang berkomunkasi satu sama lain. Bagi saya, scene tersebut menambah bobot pesan yang ingin disampaikan oleh penulis film ini. Sebuah ironi, bagaimana pekerjaan Frank di bidang produksi kabel telfon tidak juga membuatnya memiliki komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, sebaliknya anak-anaknya malah saling berkomunikasi untuk menyembunyikan sesuatu dari Frank.

Everybody's fine
Everybody’s fine

Ada sebuah kata bijak yang mengatakan “Kita begitu sibuk tumbuh dewasa, namun kita lupa mereka (orang tua) juga bertambah tua”. Tokoh si tua Frank dan anak-anaknya memberikan saya inspirasi untuk bersikap lebih terbuka, berprilaku baik serta menyanyangi orang tua kita selagi kita bisa.  Dan, sebagai orang tua, komunikasi yang baik dengan anak harus dibangun sejak dini. Sekian.

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp SecondGiveaway: What Movie are You?

giveaway


Comments

14 responses to “Potret Hubungan Anak dengan Sang Ayah dalam Film Everybody’s Fine”

  1. wah saya termasuk yang gagap komunikasi sama orang tua 🙁 nonton film ini mah saya pasti mewek-mewek deh heuheuheu

    1. sedia popcorn mbak, biar gak mewek 🙂

  2. Jadi penasaran sama filmnya Mak. Hunting aahh!

    1. cari bajakannya ya mak, hihi

  3. film tentang keluarga memang memiliki sensasi tersendiri 🙂

    1. iya mas, jadi inget sama orangtua 🙂

  4. Duh, jadi kangen mama …

    1. kangen mama, sambil inget2 lagi pernah boong apa ke mama 🙁

  5. jadi penasaran apa yang disembunyikan anak-anaknya 😀

    1. suatu kenyataan yang mencengangkan, hehehe…

  6. Alhamdulillah, di keluarga saya hubungan orang tua dengan anak-anaknya begitu dekat. Bahkan jika salah satu anaknya ada yang mempunyai keinginan, harus dibicarakan terlebih dahulu dengan orang tua. Duh, jadi pengen nonton film ini. 🙂

    1. Saya juga seneng kalo liat keluarga yang hubungan anak dan orangtuanya dekat, yang mensupport setiap langkah yang diambil anaknya 🙂

  7. duhhh langsung inget bapak dan mamah, sepertinya aku seperti anak2nya frank, huaaaa makasih ya mbak atas pengingat dan partisipasinya

    1. makasi mbak….senang juga bisa berpartisipasi di giveawaynya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *