Sebelum saya dinyatakan hamil, saya dan suami sebenernya agak nyantai buat punya momongan, gak buru-buru maksudnya. Setelah menikah, kalau ngeliat adek bayi, makin tambah gemeeees, pengen punya tapi masih ragu, pelan-pelan aja deh. Kalau Gusti Allah udah mau ngasih cepet, ya Alhamdulilah, kalau belom ya Alhamdulilah juga.

Selain masih pengen pacaran setelah menikah, saya juga berfikir, punya anak itu bukan cuma untuk meneruskan keturunan, tapi juga PR kita sebagai orangtua buat mendidik dan membesarkan anak hingga ia menjadi anak yang berguna. Nah, apakah saya siap perihal mendidik anak?? Karena sekalinya anak lahir, maka tugas kita sebagai orang tua buat mendidik dan membesarkan anak adalah seumur hidup, udah gak bisa di-undo lagi. Anak itu udah jadi amanah dari Gusti Allah.

Melihat berita-berita di TV belakangan ini, dimana banyak kasus kekerasan bahkan pembunuhan gara –gara hanya karena tersinggung dengan perkataan korbannya, tak terima diejek, adu mulut dan sejenisnya.  Hal ini mengingatkan saya bahwa pendidikan budi pekerti sangat penting untuk anak, bagaimana ia bisa tumbuh saling menghormati dan toleransi dengan sesama, menjadi pribadi yang bermoral dan berbudi pekerti, serta  tak mudah tersulut amarah.

Saya termasuk heran dengan orang-orang yang melakukan tindakan kekerasan bahkan tega membunuh hanya karena tersinggung dengan perkataan lawan bicaranya. Saya pun hidup bertahun di dunia ini gak lepas dari pandangan-pandangan orang yang negatif, sindiran, persaingan, bahkan sikap negatif dari orang lain kepada saya kerap kali saya terima. Tapi tak mengapa, namanya juga manusia hidup. Saya hanya perlu tersenyum dan bersabar lebih banyak, pintar-pintar menjaga hati biar gak kena penyakit hati, bahkan kalau perlu saya pura-pura tidak tahu, dan menganggap semuanya baik-baik saja, berfikir positif.

Baca juga  Waktunya kembali ke Khayangan – Kembali ke Sang Pencipta

Beruntung karena saya punya teman hidup yang bisa saya curhati dan diajak bertukar pikiran, yaitu suami saya, kadang juga teman (kalau memungkinkan untuk bertemu). Ternyata punya teman yang bisa diajak berbagi cerita itu penting supaya  kita bisa mengeluarkan segala uneg-uneg  terhadap sesuatu dan tidak gegabah dalam bertindak.

Pikiran saya pun terbang entah kemana, memikirkan bagaimana dulu orang tua saya membesarkan dan mendidik saya hingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini (Lagi mikir, dulu bagaimana orang tua saya menasihati ketika saya sedang merengek-rengek, tontonn dan buku seperti apa yang mereka berikan ke saya,dll). Nilai-nilai yang telah keluarga wariskan kepada saya membuat saya menjadi seperti ini. Tentunya bukan saya yang menilai diri saya sendiri, tapi orang-orang sekitar saya.

Mungkin tak banyak prestasi akademik yang bisa saya raih, saya hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak melakukan kekerasan, tidak mudah terpancing amarah / ego, mampu mengatasi masalah, dapat bersikap dan memperlakukan orang dengan baik, serta terus bersyukur.

Saya hanya ingin memperlihatkan pada orangtua saya bahwa mereka telah berhasil mendidik dan membesarkan anak (yaitu saya) dengan baik, bahwa mereka telah menjalankan dan menjaga amanah dari Gusti Allah dengan baik.

Disamping itu, saya pun masih tak pantang menyerah menggali kemampuan apa lagi yang saya punya, masih terus belajar, menjadi student of life. Sebentar lagi, belum genap 25 tahun, saya akan menjadi seorang ibu. Kini saatnya saya dan suami dititipkan amanah (mendidik dan membesarkan anak) oleh Allah.  Belajar menjadi orangtua yang dapat memberikan contoh yang baik buat anaknya.

Yang jelas ia harus mendapatkan pendidikan budi pekerti, tentunya ini didapat dari orangtua, keluarga, lingkungan sekitar dan sekolahnya kelak. Banyak nih PR saya….PR  baca-baca, sharing dari orang-orang dan mempraktek-kan pelajaran seputar membesarkan anak, dari mulai memberikan contoh bertutur kata, berprilaku dan lain hal.

Baca juga  Belanja Kebutuhan Bayi

Rasa-rasanya ‘pelajaran mendidik dan membesarkan anak’, lebih huge nilainya dari segala pelajaran mata kuliah yang pernah saya terima.  Ibarat-nya buku, kalau di-print, akan lebih tebal dari buku manapun. Berbeda dengan ilmu-ilmu di bangku sekolah dan bangku kuliah. Ilmu ‘mendidik dan membesarkan anak’ / parenting bukanlah ilmu yang sifatnya tunggal, melainkan saling berkaitan, dapat menyebar kemana-mana dan menyeluruh alias holistic. Pelajaran yang kalau salah gak bisa diulang lagi, hasilnya bukan materi, melainkan pribadi.

“Semoga engkau menjadi anak yang baik, cerdas intelektual, spiritual dan emotional, dan yang terpenting baik budi pekertinya serta penuh rasa kasih sayang, ya nak…amiiiin”.