Resensi Critical Eleven

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat – tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing – karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan
pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah – delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut
jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan
Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

[table-wrap bordered=”true” striped=”true”]

Judul Critical Eleven
Penulis Ika Natassa
Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2016 / Cetakan ke-15
Jumlah Halaman dan Dimensi 344 hal / 20cm
ISBN 978-602-03-1892-9

Sinopsis

Critical Eleven bercerita tentang kisah romantis Ale dan Anya, lengkap dengan permasalahan yang menghampiri hidup mereka setelah satu tragedi besar itu datang. Rasa marah, bimbang, sedih, kecewa, ragu, rindu setelah kejadian duka itu membawa mereka pada memori beberapa tahun lalu, dimana segalanya masih terasa indah, bahkan nyaris sempurna. Kehidupan yang didambakan setiap pasangan, romantisme suami istri yang membuat pembaca iri.

Lalu, kenapa tiba-tiba segala rasa cinta itu menjadi rumit bagi mereka berdua?? Critical Eleven diceritakan dengan 2 sudut pandang, Ale dan Anya, membuat pembaca dapat mengenal kedua karakter dengan semakin dalam, apa yang ada di pikiran mereka dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut bereaksi dapat tegambar secara detail.

Kisah ale dan Anya dimulai dari sebuah pertemuan di Bandara, dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Profesi mereka menuntut untuk selalu bersedia berpergian antar kota bahkan negara. Aldebaran Risjad seorang Petroleum Engineer, sedangkan Tanya Baskoro seorang Management Consultant. Saat itu, Anya tak menyangka bahwa penumpang yang duduk disebelahnya adalah seorang laki-laki charming, berbeda dari sebelum-sebelumnya. Tak hanya memiliki penampilan yang menarik, rupanya Ale memiliki daya tarik yang membuat Anya betah untuk berlama-lama ngobrol bersamanya, begitupun yang dirasakan Ale terhadap Anya.

Setelah memiliki nomor telpon Anya, Ale tak langsung menghubunginya, lantaran pekerjaanya di lepas pantai yang membuatnya jauh dari kehidupan nyatanya. Ale baru bisa
menghubungi Anya setelah sebulan kemudian tiba di Indonesia. Pertemuan demi pertemuan membuat Ale mengagumi Anya. Anya memiliki senyum yang mempesona, cantik, cerdas, caring, dan Ale yakin segala sosok ibu untuk anak-anaknya kelak ada di diri
Anya. Anya pun melihat Ale sebagai sosok lelaki yang suamiable, yang mana bertanggung jawab, bijaksana, setia, matang dll. Kemudian mereka pun menikah.

Kehidupan setelah menikah banyak mereka lalui di New York City. Pekerjaan Anya mengharuskan mereka hijrah selama setahun di salah satu kota teromantis di dunia. NYC adalah saksi moment-moment tebaik dalam perjalanan hidup Anya dan Ale sebagai suami istri. Segala kisah cinta terbaik yang bisa dibayangkan terjadi karena itu di New York. *I mean, New York gitu loh..

Meskipun pekerjaan Ale mengharuskan mereka untuk menjalani LDR, menyesuaikan dengan rotasi kerja Ale yang 5 minggu di offshore / 5 minggu libur, namun Ale dan Anya dapat mengatasinya.

Kebahagiaan mereka semakin lengkap setelah Anya hamil. Layaknya pasangan suami istri yang sedang bahagia menyambut anak petama, Anya dan Ale pun mempersiapkan segala-nya untuk si calon bayi yang akan mereka namakan Aidan Athaillah Risjad. Setiap libur, Ale menghabiskan waktunya bersama Anya dan mendekor  kamar Aidan. Nggak kalah bersemangat, Anya bumil juga melengkapi kamar Aidan dengan perlengkapan bayi, Anya dapat membayangkan tubuh mungil Aidan mengenakan baju-baju bayi lucu itu, yang jumlahnya sudah lebih dari 100. Kaki kecil Aidan juga akan terlihat semakin menggemaskan dengan beberapa pasang sepatu yang sudah Anya siapkan.

Namun tak lama, setelah kandungan Anya menginjak 9 bulan, kebahagiaan itu sirna. Aidan lahir dalam keadaan tak  bernyawa. Mereka sangat berduka atas tragedi itu, terlebih ketika Ale mengatakan “Mungkin kalau dulu kamu nggak terlalu sibuk, Aidan masih hidup, Nya”. Sontak Anya merasa sakit hati dengan perkataan Ale yang seolah-olah menganggap bahwa ia penyebab meninggalnya Aidan.

Tragedi meninggalnya Aidan dan perkataan Ale membuat mereka semakin berjarak. Terlebih setelah Anya memutuskan untuk tidur di kamar terpisah, tidak ada lagi kehangatan dalam rumah tangga mereka. Tidak ada lagi romantisme antara Ale dan Anya, yang ada hanya kepingan memori pada kejadian-kejadian tertentu yang membuat mereka kembali mengingat masa-masa bahagia sebelum meninggalnya Aidan.

Sementara Ale sangat menyesal karena telah melontarkan kalimat itu. Waktu tak dapat diputar kembali, begitupun kata yang sudah terucap tak dapat ditarik kembali. Setiap kembali ke Jakarta setelah pulang dinas, tak ada lagi Anya yang ceria menyambutnya, segala percikan-percikan itu redup. Namun, Ale tak kenal lelah berusaha meraih hati istrinya kembali.

Sampai pada suatu malam, setelah surprise ulang tahun Ale yang direncakan oleh Harris membawa mereka pada kerinduan satu sama lain, kerinduan akan hubungan suami istri yang sudah lama hilang. Jika Ale menganggap itu pertanda baik untuk rujuk kembali dengan Anya, sebaliknya Anya malah takut menerima kenyataan bahwa sebenarnya pun Ia masih menginginkan Ale. Anya merasa bahwa hatinya telah berkhianat. Bisakah Anya memaafkan Ale? Bagaimana Ale merebut hati istrinya kembali?

Review

Sebelum mulai me-review, saya cuma mau bilang kalau sepanjang membaca buku ini, saya nggak bisa berhenti membayangkan Adinia Wirasti dan Reza Rahardian sebagai Anya dan Ale. Mungkin karena saya tau kalau novel ini akan segera di film-kan di tahun ini,
posternya saja sudah bisa dilihat.

Ale dan Anya. Critical Eleven by Ika Natassa. Foto : @ikanatassa

Habis membaca bab pertama, saya bisa bilang bahwa penulis a.ka Ika Natassa sangat detail dalam mendeskripsikan karakter, suasana dan gagasan-gagasannya. Karakter Ale dan Anya sangat berkembang melalui kisah-kisahnya, terlebih pemilihan gaya bercerita dengan mengambil 2 sudut pandang, Ale dan Anya. I also found some nice thoughts in this novel.

Walaupun agak muter-muter dalam mendeskripsikan dan banyak intro-nya, but Ika has a point, seperti waktu ia dengan panjang lebar menuliskan gagasannya tentang ‘Memori’ beserta teorinya. Ending-nya adalah ia ingin menceritakan bahwa Anya memilih menyebut nama Aldebaran Risjad ketimbang Ale agar Anya bisa melepaskan ingatan-ingatan yang melibatkan ikatan emosi, dan mengingatnya hanya sebagai informasi.

We react to every single thing in our life because of our memory. Every single thing. (hal.21) You just cannot exist without memory. (hal.22) When Memory plays its role as a master, it limits our choices. It close the door for us. Merenggut free will, kebebasan kita untuk memilih sesuatu (hal.23)

Tapi nggak salah juga sih kalau Ika Natassa banyak mendeskripsikan tentang memori dari awal bahkan disela-sela novel karena novel Critical Eleven ini kaya dengan memori atau kenangan-kenangan Anya dan Ale. Seperti kenangan Anya akan Hujan.

Hujan pagi ini bukan sekedar hujan. Hujan pagi ini berubah jadi mesin waktu yang membawaku ke suatu sore di NYC tiga tahun lalu. (hal…..)

Tak hanya itu, kedetail-an Ika Natassa dalam mendeskripsikan memori Anya dan Ale juga merata di setiap bab, tidak berat sebelah, tidak di awal atau diakhirnya saja. Contohnya saja ketika Anya dapat merasakan kehadiran Ale dengan detail-detail kecil di kamar mereka :

Kindle-nya yang terletak di sebelah kiri, Ale suka membaca sebelum tidur. Sebungkus kacang atom yang sudah tinggal separuh, dijepit dengan paper clip disebelah kindle-nya. ESPN yang langsung muncul begitu aku menyalakan TV, bukan HBO atau channel film lainnya seperti biasanyayang kusuka. Tanda-tanda kecil yang selalu aku tunggu-tunggu karena itu berarti Ale disini, milikku sepenuhnya selama sebulan sebelum ia pergi tugas lagi. But now….now it feels like an invasion. (hal….)

Alur cerita Critical Eleven menurut saya agak kompleks. Secara keseluruhan adalah alur maju karena menceritakan kisah hubungan Anya dan Ale setelah tragedi itu dengan meninggalkan rasa penasaran bagaimana akhir dari kisah mereka, namun pembaca juga sering ditarik melihat kenangan-kenangan Anya dan Ale, yang mana banyak alur mundur-nya juga. Jadi, mungkin lebih tepat jika alur campuran. Alurnya yang kompleks membuat saya harus menandai setiap gagasan-gagasan menarik yang saya temukan, kalau tidak susah mencarinya lagi. huhuhu.

Membaca Critical Eleven mengingatkan saya akan buku Ika Natassa yang pernah saya baca sebelumnya. Kesamaan tersebut terlihat pada ciri-ciri pemilihan karakter yang mapan alias jauh dari masalah ekonomi, baik Anya maupun Ale memiliki karir yang cemerlang dan mereka tampak profesional di bidangnya. Selain itu, penggambaran tokoh yang ideal, cantik dan tampan, berbudi pekerti baik, cerdas, dan apapun ciri lelaki dan perempuan idaman. Hanya saja menurut saya Critical Eleven lebih kaya akan gagasan, seperti melengkapi buku yang sebelumnya.

Masalah utama Critical Eleven sendiri adalah rasa sakit hati Anya yang berkepanjangan sehingga sulit baginya untuk memaafkan sosok yang pernah bahkan masih ia cintai, Ale. Jadi, Anya terus menerus bergumul dengan hati dan kenangan-kengannya, Anya juga belum bisa menerima kepergiaan Aidan, membayangkannya membuat ia sedih. Sedangkan Ale merasa sangat menyesal karena perkataannya yang telah menyakiti hati Anya dan ia pun berusaha dengan segala cara untuk berdamai dengan Anya.

Kenapa saya berkesimpulan masalah utama dalam Critical Eleven adalah rasa sakit hati Anya yang berkepanjangan? karena berulang-ulang ditekankan oleh penulis, berikut kutipannya :

Sekarang aku sadar ada satu hal yang lupa aku sebutkan di doa itu. aku lupa meminta berjodoh dengan laki-laki yang tidak menyalahkan istrinya sendiri saat anaknya meninggal dunia. (hal.74) Le, aku juga ingin bahagia, aku ingin kita langgeng. Aku ingin kita bisa punya anak lagi . Tapi aku tidak mengerti gimana itu semua bisa terwujud kalau aku belum tau gimana caranya bisa percaya lagi sama kamu. (hal. 221) Yang aku lihat adalah potret tahun-tahun terbaik dalam pernikahan kami. Dan beginilah rasanya masih sedalam-dalamnya mencintai laki-laki yang belum bisa aku percaya untuk tidak menyakiti aku lagi. (hal.229)

Critical Eleven, tidak hanya bercerita tentang asam manis kehidupan pasangan suami istri saja, tapi didalamnya banyak gagasan tentang traveling, karir, keluarga dan jujur dengan diri sendiri. Dari awal membaca sudah tersihir dengan gagasan-gagasan
penulis yang tertuang dalam kisah cinta Anya Ale dan saya akan dengan senang hati menunggu film ini tayang di bioskop. 🙂

 Nice thoughts

  • Boarding pass is my mission statement in life. Ini keren untuk jangka pendek dipamer-pamerin di sosial media, tapi miris jika mengingat aku tidak punya tujuan pulang. Tidak punya orang yang menungguku di rumah. Tidak punya ciuman terakhir sebelum
    berangkat ke bandara. (hal.6)
  • Travel is learning to communicate with just a smile. It’s where broken English is welcomed with a smile instead of being greeted by grammar Nazi. It’s the simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger. But
    you know what travel means to me tonight? It’s realizing what I’ve been missing. This. Ngobrol panjang tanpa pretensi apa-apa dengan seseorang. About nothing and everything. (hal.9)
  • This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at that moment. (hal.13)
  • aku pernah baca ekspektasi bisa membunuh semua kesenangan. It’s even said yhat expectation is the roof of all disapointment. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. (hal.14)
  • Expectation is a cruel bastard, isn’t it? membuai dengan yang manis-manis, kemudian tiba-tiba menjejali dengan pil pahit. It takes away the joy of the present by making us wondering about what will happen next. (hal.17)
  • For many of us, Jakarta is not a city. It’s a book full of stories. While for some of us, Jakarta is a confidant, keeping all of our deepest secrets without ever judging us. (hal.150)

Something to learn

– Tentang sakit hati yang berkepanjangan

Dibalik penggambaran karakter Anya yang cerdas, mandiri, strong woman, pasca bayinya meninggal, sebenarnya Anya ini sangat rapuh dan sensitif. Ia sangat tersinggung dengan perkataan Ale. Rasa sakit hatinya menutupi rasa cintanya kepada Ale.

Menjadi perempuan memang menyenangkan, rasanya sifat ngambek sudah menjadi sifat bawaan kaum kami, jadi sah-sah saja kalau ngambek karena kami perempuan, hahaha. Namun ngambek yang berkepanjangan bisa jadi petaka.

Saya juga suka ngambek ke suami kayak Anya ke Ale, tapi saya gampang bae, coba aja tanya suami saya. Kenapa? bukan karena saya nggak punya pendirian / plin-plan / mencla-mencle. Saya cuma nggak mau memberikan banyak celah sama ego yang kalau saya teruskan saya sendiri yang rugi. Kadang saya merasa berhak ngambek untuk memberikan efek jera kalau apa yang dilakukan itu menyakiti hati saya, seperti yang Anya lakukan kepada Ale.

Namun saya cepat juga baiknya. Saya nggak bisa untuk nggak berdamai dengan suami, dia sahabat saya. Bestfriend do fight, husband and wife do fight sometimes, but we decided to forgive, kecuali kalau dia selingkuh. Karena berdamai dengan orang lain, sama dengan berdamai dengan diri sendiri.

– Critical Eleven

Ika Natassa menganalogikan istilah Critical Eleven dalam dunia penerbangan dengan pertemuan antar manusia, dimana tiga menit pertama merupakan moment yang sangat menentukan, sebab saat itulah kesan pertama terhadap seseorang terbentuk, “senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance.” (Hal.16) Sedangkan delapan menit sebelum berpisah, merupakan saat di mana kita menilai apakah pertemuan tersebut akan membawa ke pertemuan selanjutnya, atau justru menjadi sebuah perpisahan tanpa kesan.

Dalam dunia PR, kesan pertama sangatlah penting. Tapi, kalau semua hubungan antar manusia dinilai dari 3 menit pertama, mungkin saya paling jago bikin orang illfil, bikin situasi awkward. Saya nggak ngerti deh, saya merasa payah banget kalau disuru meninggalkan kesan manis di menit-menit pertama. Mungin karena saya introvert? Tapi nggak bijak juga sih kalau menyalahkan introvert, dia nggak salah apa-apa, hehe. Mungkin karena saya kebanyakan dirumah, berteman sepi, jarang komunikasi intens sama orang yang baru dikenal, komunikasi cuma sama bayi yang belum bisa ngomong. Jadi, sekalinya dilepas ke tempat rame yang banyak manusia-nya langsung kikuk.

– LDR (Long Distance Relationship)

Anya dan Ale terlihat sangat bisa mengatasi LDR, bahkan diawal-awal kisahnya mereka sangat harmonis. Mungkin ini yang dinamakan the perks of being in Long Distance Relationship, berikan sedikit jarak, kumpulan rindu, kemudian setiap pertemuan dunia menjadi
milik berdua. Nggak heran kadang pasangan yang menjalani LDR seringkali terlihat lebih romantis karena mereka sedang menikmati waktu singkat yang mereka miliki.

Sebagai orang yang pernah merasakan LDR, mungkin ada benarnya kalau jarak membuat rindu semakin menggebu, semakin menghargai berartinya kebersamaan. Tapi, kalau saya disuruh LDR lagi sama suami, saya mah ogah. Semakin kesini membuat saya selalu ingin mendampingi suami. Dan quote ini tepat banget buat mendeskripsikan keadaan saya sewaktu berada jauh dari seseorang >>> “Travel is realizing the things you cannot live without”. (hal.335)

Sekian review-nya. Tinggal tunggu filmnya. 😀


Comments

2 responses to “Resensi Critical Eleven”

  1. Buku ini kubeli setaun yg lalu, pas tau babang Hamish ikutan main. Kubaca deh, lah tetapi alurnya ada yg menyentakku mbak. Tentang Anya itu, aku skip jadinya supaya gk terlalu kepikiran, gk kebayang kaaan sedihnya si Anya hiihi lebai ya diriku 😀

    Nonton bioskopnya aja deh tar hahaha cemen ya.

    1. bagian mana yg menyentak mbak?? pas anya ituuu???iya nonton aja deh di bioskop 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *