Dalam rumah tangga ada yang bilang ibu-ibu adalah menteri keuangan, sedangkan bapak-bapak adalah menteri tenaga kerja, menurut kalian gimana? apakah sekarang ini yang mengelola keuangan keluarga kebanyakan adalah perempuan alias ibu-ibu?

Kebanyakan sih begitu, perempuan yang memegang kendali dalam keuangan keluarga. Kalau di keluarga kecil saya, jujur, suami lebih memegang kendali dalam mengelola keuangan ketimbang saya. Sebenarnya suami ingin sepenuhnya menyerahkan kendali ke saya, tapi saya selalu enggan terlibat banyak. Mungkin ini karena bawaan masa kecil / remaja ya, malas jadi yang berhubungan dengan uang, kalau di organisasi ogah jadi bendahara, pas kerja pokoknya jauh-jauh deh dari bagian yang ngurusin keuangan (lagian jurusan kuliah juga bukan akuntansi, ekonomi), jadilah sampai besar enggan kalau diserahi tugas yang berhubungan dengan keuangan.

Tapi, setelah menikah, mau-nggak-mau, perempuan/ibu-ibu lah yang harus ikut serta memegang kendali dalam mengelola keuangan keluarga, soalnya bapak-bapaknya udah capek kerja, jadi istri yang harus pintar-pintar mengelola pendapatan keluarga. Rumus ini nggak saklek kok, ada juga bapak-bapak yang memegang kendali dalam mengelola keuangan keluarganya. Meskipun begitu, para perempuan juga harus melek seputar literasi keuangan, jangan terlalu buta lah.

Kadang saya ada perasaan minder juga karena kurangnya keterlibatan saya ketimbang suami. Mungkin juga ini karena saya merasa nggak punya kiat-kiat khusus dalam mengelola keuangan, pokoknya yang penting saving yang banyak dan saya pikir semua orang bisa melakukan itu, asal mengerem pengeluarannya. Lalu saya menghadiri workshop #Ibuberbagibijak dan mendapati quote menarik:

It’s not how much you make, but how much you spend”, – Prita Ghozie.

Jadi, pas diundang acara ini tuh saya merasa sepertinya semesta sedang menjawab persoalan saya, hahaha. Beberapa hari sebelumnya, saya dan suami juga sempat diskusi hingga menguras emosi karena mendapati banyak kebutuhan yang melebar, padahal seharusnya ditabung untuk masa depan.

Tentang Workshop #ibuberbagibijak

Dalam rangka mengedukasi dan mendorong para perempuan Indonesia untuk memperoleh pengetahuan seputar literasi Keuangan. Melalui workshop #ibuberbagibijak diharapkan para perempuan atau ibu-ibu memiliki pemahaman dan keterampilan dalam mengelola keuangan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Melanjutkan kesuksesan kampanye tahun lalu, kami sangat senang dapat meluncurkan kampanye literasi keuangan #IbuBerbagiBijak di tahun kedua ini. Tahun ini, Visa bekerjasama dengan OJK dan dukungan BI, bermaksud mengasah lebih banyak perempuan khususnya para Ibu di Indonesia, mengajarkan mereka mengolah keuangan yang bijak dan mendorong mereka untuk berbagi pengetahuan tersebut dengan anggota keluarga dan lingkungannya”, jelas RIko Abdurrahman, selaku Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia.

kampanye literasi keuangan #IbuBerbagiBijak

Kampanye literasi keuangan #IbuBerbagiBijak

Workshop yang telah diselenggarakan sejak bulan Juni 2017 telah melibatkan sejumlah organisasi perempuan berpengaruh dan telah menjangkau lebih dari 200.000 perempuan di seluruh Indonesia.

Setiap penyelenggaraannya menghadirkan pakar finansial ternama yang akan berbagi ilmu agar perempuan Indonesia mampu mengola keuangan dengan bijak. Selain itu, juga menghadirkan sejumlah wirausaha perempuan yang akan membagikan kisah hidup mereka dalam mengelola keuangan dan menjalankan bisnis pribadi sebagai penghasilan tambahan.

Pada workshop #ibuberbagibijak, “Bijak Kelola Keuangan, Kunci Keluarga dan Masa Depan Sejahtera”, Senin 10 September, di RPTRA Kopi Gandaria, pembicara yang dihadirkan adalah Prita Ghozie (Financial Educator, CEO ZAP Finance dan dosen FEB-UI) dan Gina Aditya Lugina (Womenpreneur, Founder dari brand tas kulit Gamarra).

Prita Ghozie dan Gina Aditya Lugina

Prita Ghozie (kanan) dan Gina Aditya Lugina (kiri)

Tips Mengelola keuangan

Menurut hasil survei OJK 2016 menunjukan tingkat literasi keuangan wanita Indonesia hanya 25,5 persen, sedangkan laki-laki 66,2 persen. Angka ini menunjukan bahwa masih banyak perempuan Indonesia yang kurang paham bagaimana cara mengelola keuangan, padahal perempuan / ibu-ibu merupakan menteri keuangan dalam kebanyakan keluarga Indonesia. Dari segi teori, Prita Ghozie membagikan ilmunya pada para peserta.

Baca juga  Mengajak Anak Nonton Film di Bioskop (Part.2)

Point pertama adalah Financial Check Up.

Kami dibagikan selembar kertas dan kami diminta untuk mengisi sekiranya ilustrasi keuangan kami per bulan. Lalu, akan dilihat bagaimana cara kami mengalokasikan dana , jika memperoleh total penghasilan 10.000.000/ bulan.

periksa kesehatan keuangan

Ilustrasi pemasukan dan pengeluaran per bulan

Point kedua, peserta dibekali dengan keterampilan mengelola Anggaran/ mengelola arus kas (Financial Budgeting dan Saving).

Untuk alokasi dana, inilah pembagian ideal menurut Mbak Prita :

Zakat dan Sedehah 5%

Kita diingatkan kembali bahwa dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain. Ada hak mereka yang kurang mampu. Zakat berbeda dengan sedekah. Kalau zakat memiliki nomina yang tidak bisa diubah-ubah, yakni 2,5% dari pendapatan kita, sedangkan sedekah kembali lagi terserah kita.

Cicilan Utang 25%

Ada baiknya kita lebih selektif ketika ingin mengajukan cicilan hutang / kredit. Lebih baik Kredit digunakan bukan untuk belanja yang sifatnya bulanan. Daripada menggunakan kredit untuk belanja bulanan atau membeli tiket berlibur yang hanya dinikmati sementara, mending menggunakan kredit untuk barang-barang yang dapat bertahan lama, seperti mesin cuci, mobil (yang penggunaan bisa > 5 tahun). Mbak Prita menyebutnya pinjaman produktif. Sebaiknya juga, jangan terlalu banyak berhutang, kalau bisa malah tidak berhutang. 🙂

Dana Darurat 10%

Kita nggak akan pernah tau kapan kita sakit atau mobil kita butuh service karena aki soak, dan biaya tak terduga lainnya. Oleh karenanya, sebaiknya siapkan dana darurat. Dana darurat ini berbentuk kas dan mininal 3x pengeluaran rutin.

Biaya Hidup 30%

Paling maksimal alokasi biaya hidup kita adalah 50% dari total pendapatan, lebih baik jika dibawah itu. Oleh karenanya, kita harus paham prioritas keuangan. Lebih mengutamakan kebutuhan daripada keinginan. Kesalahan yang sering terjadi adalah biaya hidup > pemasukan.

Gaya Hidup 10%

Biaya gaya hidup ini harus dibedakan dengan biaya hidup. Boleh jadi biaya hidup kita murah, tapi kadang biaya gaya hidup yang membuat pengeluaran membengkak.

Untuk hobi yang ingin tersalur, untuk nonton film di bioskop, untuk buku yang ingin kita baca, untuk ngopi-ngopi cantik di coffee shop, travelling, nonton konser dan untuk segala keinginan yang membentuk gaya hidup sebaiknya di pilah-pilah kembali. Bukannya melarang, tapi lagi-lagi ingat prioritas, dan sebaiknya hanya dijatah 10% setiap bulannya. Ini sebenarnya juga PR buat saya, kalau pengeluaran untuk gaya hidup saya yang ketahuan jelas tiap bulannya adalah untuk olahraga (zumba, yoga, dll), nonton film di bioskop, makan di luar dan beli buku.

Investasi 15%

Selain saving / menabung, investasi juga merupakan cara yang baik dalam mengalihkan uang dari tabungan, setidaknya 15% setiap bulannya. Salah satu jenis investasi yang paling banyak digemari investor pemula adalah bermain saham atau reksadana saham. Tak perlu modal besar untuk memulainya bahkan jika kita hanya punya uang Rp 100.000 , maka sudah bisa melakukan investasi reksadana. Sebelum memilih saham, kita juga patut teliti dan melakukan riset terlebih dahulu terhadap profil perusahaan agar tidak menjadi investasi bodong.

Baca juga  [Tips] Tetap Nyaman dan Modis Untuk Ibu Menyusui

Asuransi dapat dijadikan pilihan dalam berinvestasi. Asuransi jiwa menawarkan perlindungan dan dapat membantu memberikan / menggambil dana dalam jumlah tertentu pada kejadian tak terduga, sehingga kita tak perlu menjual aset yang dijadikan investasi atau memotong anggaran dari biaya hidup sehari-hari.

#IbuberbagiBijak

Pembagian ideal dalam mengalokasi dana #IbuberbagiBijak

Kemudian Point ketiga adalah Merencanakan Keuangan

Saya menyadari kalau saya cukup lemah dalam perencanaan keuangan, karena seringkali meleset. Dalam buku saku yang diberikan pada peserta dijelaskan untuk langkah pertama merencanakan keuangan adalah membuat anggaran dengan memeriksan pendapatan dan pengeluaran.

Catat semua bentuk pengeluaran bulanan dari yang terkecil hingga terbesar, kemudian evaluasi lagi mana yang keinginan dan kebutuhan. Adapaun cara mengetahui kebutuhan yang berangkat dari keinginan, sbb :

  • Mengapa saya menginginkannya?
  • Bagaimana hal akan berbeda jika aku punya itu?
  • Apa hal yang penting untuk saya?

Bilamana mendapati pengeluaran belanja untuk liburan / entertaint akan lebih menguras anggaran, maka pertimbangkan untuk memotong biaya lain pada bulan itu guna menjaga anggaran agar tetap seimbang. Lakukan pemotongan anggaran dengan pendekatan realistis dari pengeluaran biaya seluruhnya. Selain buku saku Bu Bijak, peserta juga diberikan buku catatan keuangan yang dapat diisi masing-masing.

Tidak hanya memberikan tips seputar mengelola keuangan pribadi dan keluarga, tapi juga tips Womenpreneur dan mengelola keuangan usaha.

Sebelum memulai usaha, kiat-kiat apa yang harus diperhatikan?

Usaha apa?
  1. Mulai dari Hobi. Ada baiknya memulai suatu usaha yang berasa dari hobi atau hal-hal yang familiar dan sering kita lakukan
  2. Dari hobi yang dihasilkan, apakah ada pasarnya?
  3. Jam kerja yang disukai. Meskipun memiliki usaha sendiri akan terkesan memiliki jam kerja yang flexible, tpi komitmen tetap dibutuhkan.
    Intinya melakukan usaha yang berawal dari melakukan apa yang kita sukai akan lebih mudah dan menyenangkan, ya nggak sih?
Tidak tau untung – rugi

Baik kecil, maupun besar usaha yang kita jalankan, kita wajib untuk memisahkan catatan kas keuangan pribadi / keluarga dengan keuangan usaha. Dengan catatan kas tersebut, kita bisa mengetahui apakah usaha kita mengalami untung atau sebaliknya merugi. Jika memperoleh untuk, dananya pun dapat digunakan untuk mengembangkan usaha lagi, semisal untuk melakukan terobosan baru dalam usaha ataupun investasi. Jadi, jangan campur-campur dana pribadi dan usaha ya..

Pertimbangan lain

Dalam memulai usaha, pernah terpikir ingin punya mitra atau setidaknya mengajak rekan nggak sih? Semisal untuk men-support usaha kita baik dari segi keahlian maupun modal. Memiliki tim yang solid seharusnya akan membuat usaha lebih berkembang, karena kita tidak sendiri. Akan ada mereka yang men-support ketika kita buduh

Harus dibedakan pula antara kerja sendiri dengan kerja mandiri. Kerja sendiri adalah melakukan apa-apa sendiri, mulai dari belanja keperluan usaha, produksi, pemasaran dan lain sebagainya, sedangkan kerja mandiri adalah menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri, juga mampu mengelola tim/ bantuan dari orang-orang yang mensupport usahanya untuk mencapai goals.

Ibu berbagi Bijak

Memperoleh penghasilan tambahan, menjadi womenpreneur

Kalau Mbak Prita Ghozie menjelaskan seputar tips dan trik mengelola keuangan secara teoritis, Mbak Gina Aditya memberikan ilmu seputar memperoleh penghasilan tambahan berdasarkan pengalamannya saat mendirikan Gamarra Leather, tentang ups and downs ketika menjalankan bisnisnya.

Baca juga  ‘POJOK Shahnaz’, Ruang Digital Inspiratif Untuk Perempuan Indonesia

Memulai usaha pada tahun 2010, mengutamakan bahan yang berkualitas, yakni dari kulit samak, Gamarra tidak hanya hadir sebagai pelengkap fashion, tapi juga tas kulit yang fungsional. Kini Gamarra Leather, dikenal tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga telah ekspor beberapa negara, seperti Prancis, Belanda, Jepang, dan Arab sebagai vendor. Sedangan Taiwan sebagai distributor resminya.

Image : Pexels.com

Kesuksesan yang diraih Gamarra Leather tidak lepas dari 3 hal berikut :

Goals

Meskipun baru mememulai, tapi kita harus memiliki perhitungan yang matang agar hasilnya maksimal. Mulai dari ide usaha (apa yang ingin dijual), bahan baku dan cara mandapatkannya, perencanaan keuangan, sasaran pembeli, harga jual, juga strategi promosi dan pemasaran. Dari sisi Financial Management juga penting menurut Gina, berikut hal yang harus diperhatikan :

  1. Mengkaji diri sendiri
  2. Menabung terlebih dahulu (investasi & pengembangan bisnis)
  3. Anggaran belanja (alokasi untuk kebutuhan-kebutuhan wajib)
  4. Kelola cashflow dengan bijak
Afirmasi

Berpikir positif akan sangat membantu, tanamkan pada diri sendiri kalau kita mampu dan bisa mencapai kesuksesan. Jika menemui keraguan ditengah jalan, kembali lagi kita harus yakin dengan diri sendiri dengan produk sendiri. Afirmasi ini perlu sebagai upaya menyemangati diri sendiri, pokoknya jangan kalah sama omongan orang, harus menunjukan kalau kita bisa maju.

Visualisasi

Afirmasi dan segala rencana sudah kita kantongi, maka ini saatnya memvisualisasikan /mewujudkan nyatakan segala rencana dan mimpi agar memperoleh hasil yang diinginkan.

Ibu berbagi Bijak

Untuk meraih keberhasilan, sebagai pemimpin ia juga mengingatkan untuk menanamkan pola pikir / mindset Enterpreneur, yakni :
* Percaya akan kemampuan diri sendiri
* Persisten
* Tidak mudah menyerah
* Kreatif, inovatif dan orientasi pada prestasi
* Berani ambil resiko
* Mandiri

Bagaimana ilmu yang dibagikan oleh mbak Prita dan mbak Gina??? berguna banget kan. Yang mengelola uangnya masih freesyle kayak saya, makin dibenahi lagi. Yang sedang memulai usaha, makin dibekali dengan sharing pengalaman dan kiat-kiat. Yang belum mulai usaha, mulai kepikiran ingin usaha.

Saya pribadi senang sekali bisa hadir dalam workshop #ibuberbagibijak ini karena saya betul-betul butuh ilmu mengelola keuangan. Terima kasih ya The Urban Mama, sudah mengundang saya menghadiri workshop #ibuberbagibijak, setelah mengikuti workshop ini, saya serasa telah mengantongi ilmu dan memiliki power lebih dalam mengelola keuangan keluarga bersama-sama dengan suami, kudu dipraktekin nih.